Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya.
UPDATE!! Berita di Radar Merauke dapat dibaca langsung lewat Smartphone Android! Baca fiturnya DISINI atau Download aplikasinya disini : LINK Download Android RadarMeraukeCom.APK !!! Baca berita Via Opera Mini Atau Browser Handphone (Blackberry/Iphone/Symbian) : http://www.radarmerauke.com/?m=1 .

Popular Posts

Showing posts with label Tokoh Panutan. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Panutan. Show all posts

Bincang-bincang dengan Seorang Dukun Beranak ‘Mama Magdelana’ di Kampung Yanggandur Lebih Senang Disebut Tenaga Penolong daripada Bidan Beranak

Thursday, 23 February 2012



Profesi dukun beranak masih punya tempat istimewa di banyak masyarakat Indonesia terutama di perkampungan seperti Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Kabupaten Merauke. Meski sudah ada bidan yang ditunjuk Dinas Kesehatan setempat di kampung perbatasan RI-PNG itu, namun penduduk kampung yang notabene kaum ibu lebih suka menggunakan jasa dukun beranak untuk proses persalinan mereka. Apa alasannya? Berikut bincang-bincangnya dengan Bintang Papua.

Lidya Salmah Ahnazsyiah- Merauke


Dukun adalah seorang perempuan yang diakui oleh masyarakat dalam mendampingi ibu hamil, pertolongan persalinan serta perawatan bayi baru lahir secara spiritual. Dan hal itu yang selama puluhan tahun dilakukan Magdalena Ndiken (50) atau biasa disapa Mama Magda kepada kaum ibu di kampung tempat ia tinggal. Meski dikenal sebagai dukun beranak di Kampung Yanggandur itu, namun Mama Magda, tetap enggan menyandang predikat sebagai dukun beranak, melainkan ia lebih senang dan layik disebut tenaga penolong ibu melahirkan di kampungnya.
“Jadi mama ini sebenarnya bukan dukun beranak, hanya tenaga penolong saja,”katanya meluruskan ketika membuka obrolan dengan wartawan media ini di Yanggandur, Selasa (21/2) pagi.
Mama Magda yang Senin pagi itu ditemani sang suami, Agustinus Sanggra (Sekretaris Kampung Yanggandur), kakak perempuannya Modesta Ndiken dan menantu perempuannya bernama Opiana Mayoa, tengah duduk santai di para-para (tempat duduk dari kayu, red) di depan rumahnya. Sembari menyirih, Mama Magda bercerita panjang lebar soal awal mulanya ia terjun membantu kaumnya dalam proses melahirkan. Ia berkisah, menolong ibu melahirkan sudah dilakukan sejak ia menikah dan menetap bersama sang suami di Yanggandur, lantaran masyarakat pada umumnya yang tinggal di perkampungan lebih mempercayakan dukun untuk membantu proses persalinannya.
“Jadi untuk dukun beranak sendiri sebenarnya sudah turun temurun. Dan mama sendiri pun melahirkan bukan melalui proses bersalin di rumah sakit atau tenaga bidan, tapi lebih kepada dukun,” jelasnya sembari menyeka percikan pinang di sekitar mulutnya.
Hingga sekarang pun masyarakat masih menjagokan tenaga penolong bersalin seperti dirinya. Meski sudah ada seorang bidan yang ditugaskan sejak Puskesmas Pembantu Yanggandur di bangun tahun 2007, namun kemampuannya masih tetap diandalkan. Apa sebabnya? Mama Magda menjawab dengan berbagai fakta yang ada di lapangan, dimana kendati bidan sudah ditugaskan, namun kehadiran bidan tersebut rupanya tidak intensif seperti yang diharapkan masyarakat. Begitupun dengan peran bidan bersangkutan yang dinilai masyarakat, yakni sedikit apatis dengan penduduk yang didominasi warga pribumi.

Bintang papua
Read Post | comments

Mengenal KRI Frans Kaisepo - 368

Wednesday, 4 March 2009

KRI Frans Kaisiepo (367) merupakan kapal keempat dari korvet kelas SIGMA milik TNI Angkatan Laut. KRI Frans Kaisiepo merupakan sebuah korvet yang dibuat oleh galangan kapal Schelde, Belanda dimulai pada tahun 2006 khusus untuk TNI-AL. Bertugas sebagai kapal patroli dengan kemampuan anti-kapal permukaan, anti - kapal selam dan anti-pesawat udara. Menggunakan nama Frans Kaisiepo, salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Papua.

Kontrak pembelian dan pembuatan Kapal kelas ini dilakukan pada bulan Januari 2004 dan efektif berlaku sejak 12 Juli 2004. Kapal dibuat di galangan kapal Schelde Naval Shipbuilding (SNS), Vlissingen, Belanda. Setelah sebelumnya direncanakan untuk dibuat di Surabaya oleh PT PAL, tetapi Batal.

KRI Frans Kaisiepo-368, After sea trial



Korvet merupakan jenis kapal perang sedikit dibawah fregat. Biasanya dimasukan kategori sebagai kapal patroli yang mampu melakukan operasi sergap dan serbu secara mandiri. Kode SIGMA merupakan singkatan dari Ship Integrated Geometrical Modularity Approach terjemahan bebas kapal dengan pendekatan terpadu.

Berat 1700 ton. Panjang 90,71 meter. Kecepatan maks 28 knots. Jarak jelajah 3000 Nm (kurang lebih 5556 km) dengan kecepatan rata-rata 18 knots. Persenjataan: 2x4 rudal anti serangan udara Mistral Tetral; 4 rudal permukaan Exocet; meriam Oto Melara 76 mm dek depan, samping kanan kiri 20 mm; 2 seluncur torpedo; komputerisasi persenjataan Thales Tacticos; radar 3 dimensi, radar pelacak Lirod Mk 2 dan sonar Thales Kinglip aktif-pasif. Sistem penghindar serangan Thales DR3000 dan Terma SKWS.(sumber Royal Schelde Belanda)




PROFIL FRANS KAISEPO



GUBERNUR KEDUA PAPUA
FRANS KAISEPO
PERIODE 1964 - 1973



Sumber : Wikipedia, Alutsista.blogspot.com, Willem Kruit (Pic KRI Frans Kaisepo), Google Books


Read Post | comments

Para Pengabdi di Daerah Sangat Terpencil (Papua)

Monday, 2 March 2009

Mereka ini adalah para guru berdedikasi tinggi. Meski tinggal dan mengajar di daerah yang sangat terpencil, bahkan ada yang sering terlambat menerima gaji, semangat untuk mengabdi tak pernah padam.

Salah seorang di antara para pengabdi di daerah terpencil adalah Naftali Asmuruf. Penerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2 Desember tahun lalu sebagai guru berdedikasi itu sejak kecil memang sangat akrab dengan penderitaan. Karena itu, dia pun menjadi tegar ketika harus mengajar di sebuah tempat yang sangat terpencil di bumi Papua.

Naftali lahir pada 18 Agustus 1968 di Aitinyo, sebuah daerah yang saat itu sangat terpencil di Kabupaten Sorong (kini menjadi Kabupaten Sorong Selatan, setelah pemekaran). Kedua orang tuanya adalah petani yang menyandarkan hidupnya pada kebaikan alam.''Mulai sekolah di SD hingga SPG (sekolah pendidikan guru) saya lalui dengan penuh perjuangan,'' kata Naftali saat ditemui Radar Sorong (Jawa Pos Group) di rumahnya, Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Naftali menyelesaikan pendidikan SD di kampung halamannya di Aitinyo, Kabupaten Sorong Selatan. Setamat SD, untuk melanjutkan ke SMP, Naftali harus berpisah dari orang tua. Sebab, di kampungnya tak ada SMP. Karena itu, bersama dengan teman-teman sebaya, dia berangkat ke Teminabuan, ibu kota kecamatan untuk melanjutkan SMP.Selama bersekolah di SMP, untuk bertahan hidup, Naftali bersama teman-temannya berkebun. ''Orang tua kami jauh. Tidak ada kiriman makanan. Jadi, harus buka kebun. Uang SPP kami bayar 6 bulan sekali. Ini bergantung kalau orang tua datang menjenguk kami,'' kenangnya.

Selepas SMP pada 1985, Naftali memberanikan diri merantau lebih jauh. Sesuai cita-citanya sejak kecil, dia berangkat ke kota Sorong untuk melanjutkan pendidikan ke SPG. Sama halnya dengan saat sekolah di Teminabuan, Naftali kembali harus berkebun agar bisa hidup.Selain berkebun, Naftali sempat bekerja serabutan. ''Keinginan kuat menjadi guru karena saya sejak kecil sering melihat guru mengajar. Senin sampai Sabtu mengajar, lalu Minggu naik mimbar sebagai pelayan Tuhan di gereja,'' katanya. ''Saya ingin seperti mereka,'' lanjutnya.

Tiga tahun bersekolah di SPG, dia lulus pada 1988. Karena belum ada penerimaan guru, Naftali sempat bekerja di pengeboran minyak di Merauke hingga Maret 1989. Tak lama, dia lantas merantau ke Bintuni. Dengan latar belakang pendidikannya, dia melamar di SD YPK Gembala, Bintuni. Dia diterima sebagai pengajar.

Suatu saat ada pengumuman penerimaan satigu (satuan tugas guru daerah pedalaman). Naftali tertarik. Dia pun ikut seleksi penerimaan guru di daerah pedalaman. Hasilnya, bersama 36 pendaftar lainnya, Naftali dinyatakan lulus.Tak lama menunggu, pada 1 Agustus 1991, Naftali menerima SK penempatan. Tempat tugasnya di SD Inpres Yopmeois, sebuah pulau di Distrik Wasior. Meski tempat tugasnya di pulau yang kondisinya jauh berbeda dengan kampung halamannya di daerah pegunungan, Naftali membulatkan tekad berangkat. ''Saya waktu itu tidak bisa berenang saat baru tiba. Tapi, saya berusaha belajar,'' ujarnya.

Di SD Yopmeos, kala itu hanya terdapat dua orang guru. Dia dan kepala sekolah. Keduanya berbagi tugas. Naftali mengajar kelas IV-VI, sedangkan kepala sekolah yang berlatar guru agama mengajar kelas I-III. ''Bisa dibayangkan,bagaimana kami membagi waktu. Tiap hari harus mengajar di tiga kelas dalam waktu bersamaan,'' imbuhnya.

Banyak kendala yang dialami. Namun, Naftali tetap bersemangat menjalankan pengabdiannya. Meski menerima gaji selalu terlambat, bahkan hingga 3-4 bulan baru terima, itu tak mengurangi semangatnya. ''Saya terima gaji 3-4 bulan sekali. Itu pun kalau saya atau kepala sekolah ke Manokwari,'' tuturnya. Perjalanan mengambil gaji ke Manokwari memerlukan waktu sedikitnya 10 jam dengan perahu kayu. ''Saya jalani itu semua dengan sabar,'' lanjutnya.

Di Yopmeos, Naftali tidak hanya bertugas sebagai guru. Tapi, dia juga memberikan pelajaran berharga bagaimana berkebun. Dan, yang tak kalah pentingnya, dia juga terpanggil menjadi pelayan firman di gereja.Kondisi tempat tugas yang jauh dari Manokwari menyebabkan pengurusan kenaikan pangkatnya terhambat. Selama 10 tahun bertugas di Yopmeos, pangkatnya tetap IIA. ''Ini juga karena kepala sekolah yang tidak paham dengan penghitungan kredit sebagai syarat kenaikan pangkat,'' imbuhnya.

Dia makin betah bertugas di Pulau Yopmeos saat berkenalan dengan seorang gadis kampung, Fince Yoteni, yang kemudian dinikahi pada Oktober 1993. Dari istrinya itu, Naftali yang berasal dari pedalaman belajar berenang, mendayung perahu, dan mencari ikan. (la ode mursidin/jpnn/kum)

Sumber : Jawa Pos

Read Post | comments

dr Kery R. Kartosen SpOG, Berbagi .... Jadi Resep Awet Muda

Thursday, 5 February 2009

Saat panen tiba, dr Kery R. Kartosen SpOG mendapatkan sayur dan buah yang berlimpah. Namun, puluhan tahun merasakan panen, Kery tak pernah sekali pun berniat menjual hasil budi daya tersebut. "Tapi, tidak saya habiskan sendiri tentunya. Saya bagi-bagikan ke tetangga," katanya. Tanaman favorit Kery adalah mangga. Tak hanya di kebun, di rumah pribadinya yang di Surabaya pun ada tanaman mangga. Juga, di tempat praktiknya. Beberapa kali, mangga itu menjadi incaran ibu-ibu hamil yang hendak memeriksakan diri ke tempatnya. Ada yang minta langsung kepadanya, ada pula yang diam-diam sudah mengambil.


Selain membagi, tak jarang pria yang suka bercanda tersebut membawa hasil panen ke rumah. Dia mengolah sendiri hasil panen menjadi beragam makanan "baru" seperti asinan maupun selai. "Saya tahu cara buat itu saat membantu ibu waktu kecil," ungkapnya.Tak hanya hasil panen, dia kerap memberikan bantuan baik materi maupun nonmateri kepada orang lain. Selagi dia memiliki kemampuan untuk membantu sesama, itu akan dilakukan. "Semua sudah ada yang mencatat, kita tidak perlu ikut mencatatnya juga, anggap sebagai obat awet muda saja," tutur Kery.


Kery lantas bercerita tentang nasib kambing yang dipeliharanya di belakang kebun. Karena ada keluhan warga tentang bau kambing yang menyengat, dia menghibahkan sekitar 35 ekor kambingnya itu ke sebuah yayasan. "Menjaga kerukunan bertetangga memang tidak boleh egois," ujarnya.Bantuan lain yang juga sering dia lakukan adalah memberikan pemeriksaan gratis bagi ibu hamil di daerah terpencil. Hal tersebut selalu dia lakukan berdua bersama istrinya, Hanny M. Kartosen, yang dokter spesialis mata itu. "Saya memeriksa kesehatan kandungan, Hanny memeriksa mata warga," tuturnya.


Semua itu sudah sering dia lakukan berdua diam-diam. Tanpa bantuan pemerintah dan tanpa permintaan dari pemerintah. Berkat kebesaran hatinya tersebut, keduanya pada 8 Februari mendatang diundang secara resmi oleh bupati Merauke untuk mengadakan pengobatan gratis satu pekan di sana. "Alhamdulillah, kami diberikan kesempatan membantu warga Merauke, tempat kelahiran saya," ujar Kery. (nuq/ayi)

Sumber : Jawa Pos

Read Post | comments

Oda Mitakda (SD YPPK Buti), 42 Tahun Mengabdi di Dunia Pendidikan

Sunday, 28 December 2008



Saya terpanggil untuk menjadi guru, saya harus menjalankan sepenuhnya sebagai seorang guru”. Ungkapan yang sangat sederhana, namun telah menjadi pemicu semangat Ibu Oda Mitakda dalam menggeluti profesinya dalam dunia pendidikan sebagai seorang guru selama 42 tahun. Tepatnya tanggal 31 Juli 2007, Ibu yang berpenampilan sederhana namun berwibawa ini akan memasuki masa pensiun setelah mengabdi sebagai guru dengan penuh suka duka, namun semua itu dijalaninya tanpa tuntutan yang berlebihan.

Semangat untuk terus berkarya di bidang pendidikan sampai saat ini belum padam namun kondisi kesehatanlah yang tidak memungkinkan ibu dari 4 orang putri dan 2 orang putra ini untuk melanjutkan pekerjaan rutinnya di sekolah sebagai Kepala Sekolah dan sebagai Seorang Pendidik. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter sejak 1 tahun terakhir ini ibu Oda Mitakda divonis menderita penyakit parkinson . Dengan bantuan Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke Ibu Oda telah menjalani proses pengobatan di Rumah Sakit Cikini Jakarta namun itu tidak membuat perubahan yang berarti.

Sakit yang dideritanya menyebabkan dirinya sulit menggerakkan tubuhnya secara normal namun itu tidak menyurutkan semangatnya. Ibu Oda yang selalu aktif dalam kegiatan rohani ini untuk terus berada di sekolah dengan tepat waktu bahkan jauh lebih awal dari guru lainnya.

Sebagai kepala sekolah, beliau masih juga sering mengambil bagian sebagai pengajar di kelas jika ada guru yang berhalangan hadir. Jabatan sebagai kepala sekolah sebenarnya bukan jabatan yang terlalu disukai sebab menurutnya lebih banyak mengurusi administrasi sekolah. “Saya terpanggil sebagai seorang guru bukan untuk mengurusi administrasi”, ini salahsatu pendapatnya tentang jabatannya saat ini yang menurutnya mengurangi peranannya dalam melakukan pendidikan terhadap anak.

Lebih baik mengurusi murid 60 orang dalam satu kelas daripada mengurusi 3 orang guru kenangnya……….

Berikut adalah petikan wawancara kami (YPLHC Papua) dengan Ibu Oda Mitakda pada tanggal 26 Juli 2007 tentang pengalamannya sebagai guru selama 42 tahun mengabdi mulai dari pedalaman hingga kota.

YPLHC : Bagaimana keadaan keluarga Ibu saat ini ?

OM : Baik-baik saja, saya memiliki 6 orang anak yang terdiri dari 2 putra dan 4 putri.

YPLHC : Bagaimana awal mula Ibu menjalani provesi sebagai guru?

OM : Saya merasa terpanggil sejak di pedalaman Merauke, orang tua saya adalah guru yang mengajar kelas 1 hingga kelas 3.

YPLHC: Apa latar belakang pendidikan Ibu?

OM: Saya tamatan SD jaman Belanda dan melanjutkan ke SGB (Sekolah Guru B) dengan pendidikan tambahan yaitu mengikuti Kursus Pendidikan Guru (KPG) yang diikuti setelah menjadi guru. Selain itu saya juga pernah mengikuti pelatihan kurikulum dan managemen kepala sekolah.

Saya mulai menjadi guru di Pedalaman selama 5 tahun. Kondisi pendidikan di pedalaman saat saya bertugas dulu berbeda dengan di Kota. Fasilitas yang dimiliki sangat minim namun perhatian masyarakat terhadap pendidikan di Kampung lebihg tinggi daripada di Kota.

Di pedalaman sebetulnya enak, tergantung gurunya saja, jika guru bekerja dengan baik pasti masyarakat akan membantu tapi jika tidak mana mungkin orang mau baik kepada kita. Tergantung hatinya, apakah mau mengabdi atau tidak. Di pedalaman yang paling di utamakan adalah anak datang ke sekolah dulu, bisa tulis dan baca sudah cukup, beda dengan dikota yang tuntutannya sudah lebih banyak.

YPLHC : Apa perbedaan utama pendidikan saat ini dengan pendidikan di jamannya Ibu atau biasa disebut pendidikan di Jaman Belanda?

OM : Berbeda jauh sekali, dulu orang sekolah dengan sungguh-sungguh untuk mencapai hasil tapi sekarang orang yang bodohpun bisa memegang ijasah bahkan ada ijasah yang bisa dibeli.

YPLHC: Ibu telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum pendidikan mulai dari Kurikulum 1975 – saat ini Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Menurut ibu apa dampak perubahan kurikulum terhadap kemajuan dunia pendidikan.

OM: Dampaknya sangat besar, karena kurikulum yang satu belum selesai dan satu sudah mulai lagi. Dulu yang dipentingkan di Sekolah Dasar untuk kelas 1 – 2 adalah kemampuan baca, tulis hitung sehingga di kelas 3 bisa mengikuti pelajaran dengan mudah.

YPLHC: Menurut Ibu, apa kemampuan yangharus diberikan kepada murid dalam pendidikan dasar?

OM : Yang dipentingkan di pendidikan dasar adalah kemampuan membaca, tulis, hitung kemudian keterampilan lain. Pendidikan nilai atau moral juga perlu diberikan kepada murid di sekolah dasar.

YPLHC: Saat ini berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memajukan pendidikan di Indonesia mulai dengan menaikkan porsi anggaran pendidikan sehingga pendidikan bagi masyarakat semakin murah, melakukan penyesuaian kurikulum, pendidikan penyetaraan guru dll. Menurut ibu apa sebenarnya faktor utama yang bisa meningkatkan kualitas pendidikan kita?

OD: Untuk murid sudah cukup banyak bantuan, mulai dari dana bagi murid, pembangunan gedung, penambahan tenaga pengajar, ada dana BOS (Bantuan Operssional Sekolah). Untuk guru, ini yang masih banyak tuntutan. Bila dibandingkan dengan pegawai negeri lain, guru sebenarnya lebih banyak berkorban, korban waktu, tenaga tapi kesejahteraan tidak baik. Sekarang setelah tidak ada guru baru pememrintah mau merangsang untuk orang menjadi guru, sudah terlambat. Pak Gluba (Bupati Merauke sekarang) tanya pada 1000 orang murid ternyata yang berminat untuk menjadi guru hanya 2 orang. Orang berfikir kalau jadi guru saya punya kesejahteraan kurang.

YPLHC: Perhatian pemerintah bagi guru di Kabupaten Merauke ini sudah sangat baik, banyak fasilitas sudah diberikan pemerintah kepada guru mulai dari kendaraan, perumahan, tunjangan dll. Apakah ada perubahan dari segi peningkatan provesi.

OM: Saya tidak terpengaruh dengan ada tidaknya fasilitas yang diberikan kepada saya, sebagai seorang guru saya jalankan tugas saya sebagai panggilan hidup.

YPLHC: Bagaimana menurut ibu bantuan pemerintah yang begitu banyak kepada murid saat ini sehingga pendidikan boleh dikatakan sudah mendekati gratis. Apa dampak positifnya dan apa dampak negatifnya.

OM: Yang positif itu adalah murid terbantu dan orangtua juga terbantu, anak bisa sekolah dengan baik. Yang negatif adalah orangtua menganggap bahwa pendidikan ini merupakan urusannya pemerintah, orangtua melepas tanggunjawab. Anak-anak bukannya lebih rajin datang ke sekolah tapi malah tambah malas, di SD YPPK St. Theresia Buti ini sejak dulu tingkat absen murid tinggi, tingkat bolos juga tinggi, setelah ada dana BOS sama saja bukannya tingkat absen makin berkurang sama seperti dana BOS belum ada. Perubahan itu hampir tidak ada, orangtua lepas tanggungjawab pendidikan anak kepada sekolah.

YPLHC: Bagaimana peranan masyarakat sekitar sekolah terhadap pendidikan?

OM: Peranan masyarakat terhadap pendidikan bisa dibilang tidak ada, anak dilepas di sekolah kepada guru, orangtua yang perhatikan pendidikan misalnya mendorong anak jika malas sekolah, tapi itu tidak ada samasekali. Kita selalu menekan bahwa sekolah bukan hanya untuk menjadi seorang bupati tapi yang paling penting anak-anak mempunyai sikap lebih bagus, dan dapat menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar. Mungkin karena faktor alam sehingga murid menjadi malas. Daerah Marind alamnya sangat kaya mulai dari laut, darat dan udara, sehingga mereka menganggap pendidikan itu nomor dua karena tanpa sekolah pun mereka dapat tetap hidup dan bisa menikmati hasil alam yang berlimpah.

YPLHC : Apa harapan ibu terhadap peran masyarakat dalam pendidikan?

OM: Memberikan perhatian penuh pada anaknya agar bisa sekolah dengan baik dan rajin.

YPLHC: Bagaimana peran komite sekolah dan pemerintah

OM : Komite sekolah tidak begitu berperan. Sudah dibentuk tapi kalau diundang rapat sampai saat ini tidak pernah datang. Jika ada kebutuhan tandatangan dari sekolah maka diantar ke rumah seperti tandatangan rekening bank, RAB (Rencana Anggaran dan Belanja, red). Peranan pemerintah dan yayasan sudah sangat baik bagi pendidikan, sekarang tergantung dari anak dan orangtua apakah mereka dapat memanfaatkan fasilitas yang sudah diberikan itu dengan baik atau tidak.

YPLHC: Apa moto Ibu selama 42 tahun menjalankan tugas sebagai guru.

OM: Saya terpanggil untuk menjadi guru), saya menjalankan tugas saya sepenuhnya sebagai seorang guru. Bagaimana sifat seorang guru yang baik, yang disiplin, yang rajin dalam mendidik, kalau mengajar saja itu sebetulnya semua orang bisa tapi untuk mendidik, ini yang susah. Pendidik harus memberikan contoh yang baik sebagai pendidik, moralnya harus baik.

YPLHC: Pengalaman apa yang paling berkesan sebagai guru,

OM : yang paling berkesan adalah ketika anak didik kita berhasil. Jika ada anak yang nakal kita juga prihatin . Dan bertanya pada diri sendiri apakah saya sudah menjadi pendidik yang baik, saya perlu refleksi diri.

YPLHC: Saat ini tinggal hitungan hari dan jam, ibu akan meninggalkan dunia pendidikan yang sudah ditekuni selama 42 tahun. Bagaimana perasaan ibu?

Wawancara sejenak terhenti, ibu Oda Mitakda tertunduk sejenak, dari kedua pelupuk matanya linangan air mata tak mampu lagi ditahannya ........ dengan tangan gemetar dia menyeka airmata yang membasahi kedua pipinya dengan selembar tisu.

Dengan terbata Ibu Oda menjawab..

OM: Yang pertama saya rasa sedih, sebab waktu saya sudah akan berakhir, karena sebagai guru saya sudah mencintai pekerjaan ini sebagai panggilan hidup saya dalam hidup ini. Yang kedua saya merasa bahagia karena selama 42 tahun saya menjadi guru saya tidak pernah absen , saya merasa bahagia sekali saya bisa menjalankan tugas itu dengan sepenuh hati dan saya begitu mencintai murid-murid saya. Saya masih memiliki semangat untuk mau mengaja, tapi kondisi fisik saya saat ini tidak memungkinkan lagi. Ini menyebabkan saya harus meninggalkan dunia yang saya cintai ini. Tapi saya bersyukur pada Tuhan sebab saya bisa berbuat sesuatu untuk orang lain walau mungkin kecil saja.

YPLHC: Apa pesan Ibu buat teman-teman guru?

OM : Jadilah seorang guru yang baik, yang mencurahkan perhatian, waktu untuk anak didik. Mencintai mereka sepenuhnya, mengajar mereka dengan sepenuhnya, mendidik mereka agar menjadi anak yang bertaqwa, mempunyai moral yang baik. Kalau ilmu itu semua bisa memiliki, tapi moral yang baik yang susah didapat pada jaman sekarang. Itu saja yang bisa saya sampaikan di akhir saya sebagai seorang guru.

Read Post | comments
 
© Copyright RadarMerauke.com | Portal Berita Merauke @Since 2008 - 2013 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Owner Template | Published by Owner Template and Owner
WWW.RADARMERAUKE.COM - PORTAL BERITA MERAUKE
( www.radarmerauke.me | www.radarmerauke.asia | Email : radarmerauke@gmail.com | radarmerauke@yahoo.com )

Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya. Copyright berita dalam site ini milik pemilik berita: Kompas, Bintang Papua, Cenderawasihpos, Tabloid Jubi, Jaringan Pasificpost, Infopublik, suluhpapua, Jaringan JPNN dll. Radar Merauke adalah web personal yang merangkum berita dari berbagai media.