Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya.
UPDATE!! Berita di Radar Merauke dapat dibaca langsung lewat Smartphone Android! Baca fiturnya DISINI atau Download aplikasinya disini : LINK Download Android RadarMeraukeCom.APK !!! Baca berita Via Opera Mini Atau Browser Handphone (Blackberry/Iphone/Symbian) : http://www.radarmerauke.com/?m=1 .

Popular Posts

Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Tempat Wisata : Pesona Pulau Habe di Merauke

Tuesday, 8 October 2013

Habe-PulauMerauke (Sulpa) – Keindahan alam Papua tak hanya di punggung Utara pulau cenderawasih semata. Di bagian selatan Papua, tepatnya di Kabupaten Merauke, ada sebuah pulau yang sangat elok.  Namanya Pulau Habe.  Pulau ini terletak di Kampung Wambi, Distrik Okaba.
Untuk bisa sampai di pulau ini, ada dua pilihan transportasi alternatif yang anda bisa gunakan. Misalnya melalui pesawat twinoter menuju Distrik Okaba yang ditempuh selama lima belas sampai tiga puluh menit.
Sedangkan bagi anda yang suka tantangan dan ingin menguji adrenalin di laut Arafura, dari merauke anda bisa menggunakan Speedboat berkuatan 80 PK dan ditempuh sekitar tiga jam.
Pulau Habe ini memang beda dengan seluruh pantai di Selatan Tanah Papua yang umumya berpermukaan lumpur. Pulau Habe memiliki keistimewaan tersendiri, air lautnya biru jernih, pasir putih dan berkarang. Tidak mengherankan jika binatang laut seperti kerang dan penyu banyak  ditemukan ditepi pantai pulau ini.
Menurut Legenda Suku Marind, pada zaman dahulu, Pulau Habe dahulunya berada di Kondo dan mengalami perpindahan seiring dengan hijrahnya para leluhur dari satu tempat ke tempat lain.
Sedangkan hikayat lainnya adalah pulau Habe ini dulunya satu daratan dengan pulau Papua, tetapi karena bencana alam seperti gempa bumi, daratan pulau Papua terpecah menjadi beberapa bagian, dan terbentuklah pulau Habe.
“Menurut cerita masyarakat Wambi, struktur pasir pantainya kerap berubah posisi secara alami setiap tahun. Jika musim angin tenggara menghembus ke arah pulau, pasirnya pun secara perlahan akan berpindah ke arah barat dan membentuk permukaan pantai pasir baru. Dan begitu pun sebaliknya,” kata Bupati Kabupaten Merauke, Romanus Mbaraka.
Fenomena alam lainnya yang terdapat pulau ini adalah permukaan daratannya ditumbuhi pepohonan khas dataran tinggi. Di situ ada alang-alang, pandan duri, bunga bakung, putri malu, serta tumbuh-tumbuhan khas dataran tinggi lainnya. Menariknya lagi, pulau ini permukaan tanahnya berwarna merah, Sedangkan di pinggir pantai hanya sedikit saja ditumbuh pohon bakau.
Karena keindahan Pulau Ini, Pemerintah Kabupaten Merauke akan menetapkan Pulau Habe sebagai tempat tujuan wisata Utama. “Tahun 2013 ini Pemda Merauke akan membangun berbagai fasilitas, seperti Helyped, tempat penginapan dan akan dibangun Patung Kristus Raja untuk wisata Rohani,” kata Romanus. (C/Gon/R4)
Read Post | comments

Tempat Wisata : Pantai Payum, Alternatif Wisata Seru di Merauke

Monday, 7 October 2013

KOMPAS.com - Sebagai kota yang terletak di tepi laut, tak heran bila di sekitar kota Merauke, Papua, memiliki pantai. Selain Pantai Lampu Satu yang sudah lebih dikenal, di sekitar Merauke juga terdapat pantai lain yang tak kalah cantik.

Pantai Payum bisa jadi pilihan menarik baik wisatawan di Kota Merauke. Terletak di kawasan Payum, pantai tak jauh dari Kampus Musamus ini juga memiliki daya tarik yang bisa dinikmati oleh wisatawan.

Secara umum, suasana Pantai Payum memang tak jauh berbeda dengan Pantai Lampu Satu. Hanya saja, selain memiliki pasir pantai yang berwarna kecokelatan dan pantai yang luas, pantai ini memiliki suasana yang lebih natural, hening.

Kala berada di pantai ini, kita bisa menyaksikan samudera luas yang menghilang di balik cakrawala. Pada sore hari, menjelang matahari terbenam, suasananya bakal terasa lebih dramatis.


BARRY KUSUMA Pantai Payum di Merauke, Papua.
Untuk mengunjungi pantai ini pun terasa nyaman karena lokasinya yang dekat dari pusat kota Merauke. Bila sarana transportasi umum jadi pilihan, maka wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan kota berwana hijau dengan waktu perjalanan yang singkat.

Sejauh ini Pantai Payum memang belum menjadi sebuah destinasi wisata dan bisa dikatakan masih perlu sentuhan. Hal itu nampak dari belum tersedianya fasilitas untuk wisatawan. Namun demikian, dengan bermodal potensi yang dimilikinya serta penataan yang lebih baik, pantai ini dapat menjadi pilihan utama para wisatawan.

Bagi pelancong asal Jakarta yang ingin bertandang ke Pantai Payum, perjalanan dapat dilakukan menggunakan layanan penerbangan Merpati Nusantara Airlines, yang melayani penerbangan ke Merauke, Papua sebanyak 3 kali seminggu. (ADI SUPRIYATNA)

BARRY KUSUMA Pesawat Boeing 737 Merpati di Merauke, Papua.


BARRY KUSUMA Pantai Payum di Merauke, Papua.
Read Post | comments

Abon Rusa, Oleh-oleh Unik dari Ujung Timur Indonesia

Wednesday, 30 January 2013




Merauke - Merauke di Papua adalah bagian paling timur Indonesia. Saat traveling ke sana, ada oleh-oleh khas yang harus Anda beli untuk keluarga di rumah. Ada abon rusa dengan rasa yang khas dan bikin ketagihan!

Di beberapa wilayah di Indonesia, rusa termasuk hewan yang langka, dilindungi dan harus dijaga kelestariannya. Namun di Papua dan Kalimantan misalnya, hewan ini masih banyak berkeliaran di alam bebas. Masyarakat setempat mengkonsumsi dagingnya.

detikTravel berkesempatan traveling ke Merauke beberapa waktu lalu. Meski berada di ujung timur Indonesia, bukan berarti destinasi ini tidak memiliki tempat-tempat wisata yang keren. Merauke terkenal dengan Taman Nasional Wasur yang menjadi habitat kangguru tanah, rumah semut yang mencapai ukuran dua kali lipat orang dewasa, dan wilayah perbatasan Papua Nugini dengan taman yang cantik di Distrik Sota.

Puas berkeliling Merauke, kini saatnya berburu oleh-oleh untuk keluarga atau pun kerabat di kantor. Salah satu kuliner khas Merauke yang sering diburu traveler adalah abon rusa.

Merauke memang terkenal dengan kuliner dari olahan daging rusa. Selain abon, sate rusa adalah kuliner yang wajib Anda cicipi saat berkunjung ke sana. Tak sulit mencari sate rusa, sebab banyak warung-warung makan dengan tenda di Kota Merauke yang menyajikan kuliner tersebut.

Salah satu tempat untuk berburu abon rusa adalah di Tifa Rusa, suatu rumah produksi abon rusa sekaligus toko oleh-oleh di Kota Merauke dan dekat dengan Bandara Merauke. Di sini ada banyak abon rusa yang dapat Anda beli untuk oleh-oleh.

"Kami buka dari pukul 06.00 pagi sampai 21.00 WIT malam, Mas," ungkap salah satu penjaga toko di sana.

Abon-abon rusa ditumpuk dengan rapi di rak-rak. Harganya pun tergantung ukuran, yaitu untuk ukuran 250 gram, harganya Rp 45 ribu dan 500 gram harganya Rp 90 ribu. Tinggal pilih sesuai kebutuhan Anda. Abon rusanya memiliki rasa yang khas. Teksturnya halus dan nikmat untuk dikunyah. Apalagi, jika Anda memakannya dengan nasi panas, dijamin ketagihan!

"Semua abon rusa di sini kita produksi sendiri," kata sang penjaga toko tersebut menambahkan.

Selain itu, masih banyak oleh-oleh lainnya yang dapat Anda beli di Merauke. Ada dendeng manis rusa, dendeng asin bumbu rusa, dendeng asin lokal rusa, pentolan bakso daging rusa, daging rusa, dan masih banyak lagi. Harganya mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu.
Read Post | comments

Perburuan di Nasem-Tomerau - Jejak Petualang Trans7

Wednesday, 2 January 2013




Bagi warga lokal Nasem Merauke, musim kering berarti saatnya mencari sumber protein di kubangan rawa, salah satunya untuk mencari ikan gastor. Kolam gastor terletak di tengah hamparan tanaman sagu, karena itu harus berhati hati untuk masuk kedalamnya, selain karena lumpurnya yang dalam, kaki pun bisa tertusuk pelepah sagu yang berada di dasar lumpur.

Yang unik dari ikan gastor adalah dapat bertahan hidup di kalam minim air, dengan cara hibernasi. setelah musim hujan tiba, ia pun bangun kembali. ternyata tak hanya dihuni oleh ikan gastor, lumpur ini pun menjadi habitat ikan lumpur lainnya, seperti ikan betik dan lele.

 Untunglah perjuaangan mencari ikan gastor hari ini tidak sia, Chytia Tengens bersama dengan para penduduk lokal mendapatkan cukup banyak ikan gastor. Dalam sehari kurang lebih tiga puluh kilo gastor bisa diangkat dari Rawa ini, cukup menakjubkan bukan?

Seperti biasa, tak lengkap menangkap kalau tanpa mengolahnya, nah kali ini pengolahannya adalah dengan mengasinkan si ikan gastor. Diberi garam dan dijemur hingga kering, cukup mudah kan.

Ikan ini memiliki kandungan protein darah yang sangat tinggi, bermanfaat dalam regenerasi sel atau penyembuh luka. Sangat dianjurkan bagi pasien paska operasi atau ibu ibu paska melahirkan.

Nah mumpung masih di papua, mari kita temui salah satu hewan khas australasia, kali ini adalah tikus hutan keluarga bandicoot. tikus penganut pemakan segala atau omnivora ini ternyata menjadi santapan bagi warga lokal. waaah seperti apa ya rasanya
Read Post | comments

Ekplorasi Alam Wasur : Jejak Petualang Trans7




Di Taman Nasional Wasur Merauke, ada banyak satwa yang berbeda dari bagian nusatara Indonesia lainnya, apalagi kalau bukan karena di taman nasional ini banyak dihuni oleh hewan yang dipengaruhi oleh daratan australia, atau khas disebut sebagai hewan australasia. umumnya mereka berciri khas sebagai hewan berkantung.
Chyntia tengens kali ini bersama dengan polisi hutan Taman Nasional Wasur, berkeliling Taman nasional untuk melihat hewan hewan yang ditemui. salah satu yang ditemui adalah kadal panama, dari namanya sepertinya kadal ini berasal dari panama ya? padahal bukan lho, ia justru berasal dari merauke, penyebarannya mencakup papua dan australia timur.
masyarakat kerap menyebutnya ular kaki empat karena bentuknya seperti ular..yang berkaki empat!
Keunikan lain pun ditemukan di taman nasional ini, yaitu menemukan sarang burung kirik kirik yang berada di bawah tanah, hmm unik kan, sarang burung di dalam tanah, bukan di kanopi pohon seperti umumnya burung lainnya.
 Taman nasional wasur yang terletak di pesisir selatan papua pun cocok menjadi jalur perlintasan burung-burung migrasi. Saat musim dingin di Eropa atau Australia, burung burung datang kesini untuk menghangatkan diri dan mencari makan. Dari Kejauhan berbekal binocular, Chyntia Tengens pun mempelajari jenis jenis dan perilaku para burung migrasi ini.
Puas dengan fauna, masih ada flora yang harus dikunjungi, nah kali ini berkesempatan untuk melihat "busuknya" tanaman Amorphopalus yang ada di Taman Nasional Wasur.
seperti apa rupa flora dan fauna ini? saksikan hanya di Jejak Petualang episode Eksplorasi Alam Wasur
Read Post | comments

Surga Tersembunyi Merauke : Jejak Petualang Trans7




Alam Indonesia benar-benar dikaruniai oleh beragam spesies yang memiliki keunikan tersendiri, contohnya adalah burung namdur, burung yang memiliki penyebaran di Papua dan Australia. Burung yang bernama latin Clamidera serviniventris ini terkenal akan keunikan aktivitasnya dalam membangun display, atau sarang untuk menarik pasangannya. Uniknya burung ini tentu tak dilewatkan oleh Chyntia Tengens yang berpetualang ke Taman Nasional Wasur, Papua. Bersama dengan para petugas Taman Nasional Wasur, Chyntia Tengens melihat bagaimana uniknya burung Namdur ini menarik perhatian lawan jenisnya melalui dekorasi-dekorasi displaynya yang telah dibuatnya bertahun-tahun
Keunikan Wasur tak hanya sampai di sini, lihat dengan jeli sekeliling, maka terlihat gundukan-gundukan unik yang ternyata adalah rumah rayap. waaah hewan sekecil itu bisa membentuk gundukan yang demikian besar, kerja sama yang baik antara rayap pasti jawabannya.
Lelah berpanas-panasan, saatnya bermain air, sambil menyantap ikan tentunya. Tak tanggung-tanggung ikannya pun mujair jumbo. waah meski sungainya terlihat seperti kubangan, tak disangka banyak sekali didapatkan ikan mujair disini.
Saksikan keramahan Taman Nasional Wasur dalam Jejak Petualang episode Surga Tersembunyi Merauke.
Read Post | comments (1)

surga tersembunyi merauke

Wednesday, 19 December 2012


Alam Indonesia benar-benar dikaruniai oleh beragam spesies yang memiliki keunikan tersendiri, contohnya adalah burung namdur, burung yang memiliki penyebaran di Papua dan Australia. Burung yang bernama latin Clamidera serviniventris ini terkenal akan keunikan aktivitasnya dalam membangun display, atau sarang untuk menarik pasangannya. Uniknya burung ini tentu tak dilewatkan oleh Chyntia Tengens yang berpetualang ke Taman Nasional Wasur, Papua. Bersama dengan para petugas Taman Nasional Wasur, Chyntia Tengens melihat bagaimana uniknya burung Namdur ini menarik perhatian lawan jenisnya melalui dekorasi-dekorasi displaynya yang telah dibuatnya bertahun-tahun
Keunikan Wasur tak hanya sampai di sini, lihat dengan jeli sekeliling, maka terlihat gundukan-gundukan unik yang ternyata adalah rumah rayap. waaah hewan sekecil itu bisa membentuk gundukan yang demikian besar, kerja sama yang baik antara rayap pasti jawabannya.
Lelah berpanas-panasan, saatnya bermain air, sambil menyantap ikan tentunya. Tak tanggung-tanggung ikannya pun mujair jumbo. waah meski sungainya terlihat seperti kubangan, tak disangka banyak sekali didapatkan ikan mujair disini.
Saksikan keramahan Taman Nasional Wasur dalam Jejak Petualang episode Surga Tersembunyi Merauke.
Read Post | comments

Yummy! Nikmatnya Menyantap Sate Rusa, Kuliner Malam Merauke

Monday, 10 December 2012

detikTravel Community - 
Malam terakhir di Merauke, kami mencicipi kuliner yang banyak di temui di sana, yaitu sate rusa. Makanan ini bisa Anda jumpai di warung-warung sate pinggir jalan pada malam hari. Bagaimana rasanya?
Kami mendatangi sebuah warung sate Madura yang berada di pinggir jalan. Sekumpulan pemuda tampak sedang asyik membakar sate di depan warung. Asapnya yang tercium seketika menggugah selera. Saya melihat menu yang ditempel di salah satu sudut warung sate ini, ada pilihan sate ayam, sapi, dan tentunya sate rusa.
Saya kemudian memesan seporsi sate rusa, yang terdiri dari sepuluh tusuk sate dengan bumbu kecap yang dibaluri bawang goreng, bawang merah segar dan cabai rawit. Menikmati sate rusa bisa dengan lontong atau pun nasi, layaknya sate biasa.
Tidak lama menunggu, saya pun mendapatkan pesanan. Tanpa menunggu lama, saya mencoba santapan baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Yummy! Sensasi rasa sate yang manis, berbalur dengan gurihnya bawang menambah enak rasa daging rusa yang sangat empuk!
Bagian lemak dari daging rusa cukup tebal. Bagi penikmat sate, lemak yang dibakar ini menambah gurih hidangan dan citarasanya. Daging rusa sendiri dapat diolah menjadi beberapa jenis makanan, salah satu yang terkenal adalah semur daging rusa.
"Daging rusa ini sudah mulai jarang dijual mas. Kadang ada pengecer yang membawa, kadang juga bisa di dapat di pasar," kata wanita pemilik warung, dengan logat madura yang khas.
Uniknya, walau daging rusa ini semakin sulit di dapatkan, harga daging rusa jauh lebih murah dibanding daging sapi atau ayam. Ini pun otomatis membuat harga sate daging rusa juga lebih murah. Seporsi sate rusa dihargai Rp 15.000, sedangkan sate ayam dan sapi dihargai Rp 20.000.
"Rusa ini cuma diolah dagingnya saja mas, isi dalamnya tidak enak untuk diolah. Hatinya lembek dan mudah hancur," lanjut pemilik warung menjelaskan dengan ramah, sembari melayani pembeli yang semakin ramai memenuhi warungnya malam itu.
Daging rusa menjadi primadona di Kota Merauke, pemilik warung mengaku dapat menghabiskan lebih dari 10 kilogram daging rusa dalam semalam. Sayangnya, hingga kini daging rusa yang dikonsumsi kebanyakan adalah daging rusa liar.
Belum ada informasi akan adanya penangkaran rusa yang dapat menyuplai kebutuhan masyarakat. Semoga saja kedepannya rusa untuk konsumsi dapat dibiakkan. Jadi, kita tidak perlu menyantap hidangan lezat ini dengan, hmm sedikit rasa bersalah.



Read Post | comments

Pantai Onggaya Merauke Berpotensi sebagai Obyek Wisata di Kawan Papua Selatan

Friday, 7 December 2012

Merauke, Media Center - Pantai Onggaya yang terletak di pesisir pantai selatan Kabupaten Merauke memiliki potensi yang bisa dikembangkan untuk obyek wisata.
Keberadaan Pantai Onggaya sebagai kawasan Obyek wisata sebenarnya telah di lakukan beberapa tahun lalu saat WWF Hadir pertama kali di Merauke.
Peneliti dari Universitas Negeri Musamus Agustan, ST. M.Si mengemukakan potensi keindahan yang ada di Pantai Onggaya sangat di sayangkan karena belum di kelola dengan baik menjadi salah satu kawasan wisata di Kabupaten Merauke.
Akibat tidak adanya pengembangan potensi Pantai Onggaya kesenjangan antara keadaan perekonomian masyarakat dengan potensi wisata yang ada menjadi statis  sehingga perlu adanya upaya-upaya kea rah pengembangan yang melibatkan masyarakat Lokal.
Agustan menambahkan setelah melakukan penelitian pihaknya akan mencoba untuk mempromosikan kembali pantai onggaya minimal di kenal oleh masyarakat local Merauke dan di harapkan kedepan promosi akan di lakukan sendiri oleh masyarakat lockal.
Menurut Agustan model yang digunakan untuk mempromosikan Pantai Onggaya adalah pembuatan rutmet baleho dan bander yang di pasang di tempat-tempat strategis  dengan tujuan agar pantai onggaya di kenal kembali oleh masyarakat.(05/mcmerauke)
Read Post | comments

Kunjungan Wisata ke Tugu Perbatasan RI-PNG Mencapai Seribu Orang Tiap Bulannya

Merauke, Media Center - Peningkatan kunjungan wisata itu seiring dengan peningkatan perbaikan sarana dan prasarana penunjang terhadap keberadaan tugu perbatasan Sota.
Pengelola Wisata Tugu Perbatasan Sota IPDA Ma’ruf Suroto menjelaskan  rata-rata kunjungan wisata setiap hari libur baik hari sabtu maupun minggu bisa mencapai 350 pengunjung sementara pada hari-hari biasa mencapai 40 hingga 60 pengunjung dan kebanyak masyarakat dari luar kota Merauke mapun tamu-tamu Negara.
Ma’ruf menambahkan  Wisata Tugu Perbatasan Sota memiliki daya tarik tersendiri selain melihat tugu perbatasan antara Indonesia dan Papua New Gunea dan tugu kembar sabang Merauke juga terdapat beberapa obyek wisata lainnya yakni keindahan alam yang termasuk dalam taman national wasur dan keunikan rumah semut atau musamus yang tingginya mencapai dua hingga tiga meter yang tidak terdapat di daerah lainnya.
Selain melihat obyek Wisata menurut Ma’ruf pengunjung juga dapat meningkati hasil-hasil pertanian seperti nenas dan umbi-umbian yang memang di kembangkan untuk Wisata Tugu Perbatasan. (05/mcmerauke)
Read Post | comments

Suvenir Unik Papua : Tas Bulu Burung Kasuari [sota]




Merauke - Satu lagi oleh-oleh khas Papua, yaitu tas bulu burung kasuari. Tas ini hanya terdapat di Sota, Merauke, tempat perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Tasnya terbuat dari kulit kayu dan dihiasi bulu burung kasuari. Cantik!

Di Distrik Sota, Merauke, detikTravel dan tim Dream Destination Papua akhirnya menapakan kaki di ujung timur Indonesia ini, pada Rabu (28/11/2012). Perjalanan melelahkan selama satu jam lebih dari Merauke, tidak terasa saat kami menjelajahi taman yang penuh warna merah putih di sini.

Tugu perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini berdiri kokoh di sini. Tamannya pun bersih dan rindang. Selain rumah semut dan ayunan, di sini juga ada pondok yang berisi aneka macam suvenir.

Suvenir di sini adalah baju khas Papua Nugini yang berwarna hitam merah dengan tulisan Papua New Guinea Port Moresby. Akan tetapi, bukan itu yang menarik perhatian kami. Di salah satu pondok kecil di atas rumput, terdapat oleh-oleh khas lainnya. Ya, itulah tas bulu burung kasuari.

"Ini namanya tas bulu burung kasuari, asli buatan dari Papua Nugini," kata Lisa, ibu penjual suvenir di sini.

Bulu burung kasuarinya terlihat jelas di tas ini. Bulu-bulunya yang berwarna hitam, menghiasi pinggiran-pinggiran tasnya. Tasnya adalah model tas selempangan dan tidak kalah gaul lho!

Ukuran tasnya pun sedang, tidak besar dan juga tidak terlalu kecil. Cukup untuk menaruh barang-barang kecil Anda. Hiasan bulu kasuarinya lah yang membuat tas ini berbeda. Ada satu tas yang dihiasi oleh banyak bulu burung kasuarinya, keren!

"Tas ini kuat, rata-rata terbuat dari kulit kayu," lanjut Lisa menerangkan.

Lisa juga menambahkan, tas bulu burung kasuari ini adalah asli buatan orang-orang Papua Nugini. Mereka membawanya langsung dan menitipkan di pondok ini. Harganya berkisar dari Rp 50-200 ribu, tergantung ukurannya.

"Orang Merauke juga bisa membuatnya, tapi lebih banyak dibuat oleh orang Papua Nugini," ungkap Lisa.

Inilah oleh-oleh etnik dari Papua lainnya, tas bulu burung kasuari. Suvenir khas perbatasan yang wajib dibeli saat di timur Indonesia.
Read Post | comments

Ekspedisi Kali Bian Merauke - Jejak Petualang Trans7

Thursday, 6 December 2012



Chintya Tangens bersama tim Jejak Petualang menuju Merauke. Mereka menyusuri kali Bian, sungai panjang yang kaya akan aneka tumbuhan dan satwa liar di ujung timur nusantara. Dilanjutkan dengan mencari telur ayam hutan dan tumbuhan cakar ayam di Selil, Ulilin, Merauke. Apakah manfaat dari tanaman tersebut? Temukan jawabannya hanya di episode ini


Lihat videonya disini : 
http://www.mytrans.com/video/2012/12/03/49/17/27/7217/ekspedisi-kali-bian-merauke
Read Post | comments

Kearifan Selil Muting Merauke - Jejak Petualang Trans7



Petualangan Chintya Tangens bersama tim berlanjut menuju Selil, Ulilin, Merauke. Diawali dengan mencari sarang semut yang bisa menjadi obat berkhasiat di kali bian. Lalu dilanjutkan dengan ikut dalam pembuatan pakaian tradisional berbahan utama pohon sagu. Bagaimana cara pembuatannya? Seperti apa bentuknya? Jangan lewatkan hanya dalam program Jejak Petualang.

Lihat disini videonya : 
http://www.mytrans.com/video/2012/12/06/49/17/27/7287/kearifan-selil-muting-merauke
Read Post | comments

Travel : Orang Asmat Asli Masih Terpinggirkan

Saturday, 1 December 2012


Meski hari sudah beranjak sore, pasar Agats masih hiruk-pikuk. Beberapa warga baru saja datang menawarkan hasil tangkapan ikan yang tampak segar. Penjual sayur dan buah-buahan masih menggelar dagangan. Pedagang bukan asli Asmat—mudah dibedakan dari rambut dan warna kulit—menempati kios-kios. Yang asli menggelar dagangan di emperan kios atau di pinggir jalan—deretan papan kayu tersusun menyerupai jalan selebar dua meter—yang kalau dilewati terdengar berderak-derak.
Pemandangan sore itu sudah berulang dari hari ke hari. Pasar yang berada di dekat Pelabuhan Agats ini—lokasinya semakin menjorok ke dalam karena abrasi—merupakan urat nadi ekonomi masyarakat Agats. Seperti pasar-pasar pada umumnya, pedagang menggelar aneka dagangan di atas lapak dan selasar yang sempit. Ada kios kelontong, kios pakaian, toko elektronik, toko telepon seluler dan pulsa, warung makan, dan penjual sayuran. Di Jalan Yos Sudarso dan Bhayangkara di dekat pasar berderet toko, bahkan ada salon kecantikan Mega Jawa.
Ironisnya, jarang ditemukan orang asli Asmat sebagai pemilik toko atau kios di sentra perekonomian itu. Orang Asmat yang berjualan bisa dihitung dengan jari tangan. Itu pun mereka hanya berjualan kecil-kecilan, seperti sayuran, pisang, pinang, dan hasil tangkapan ikan. Lebih sedikit lagi menemukan orang Asmat bekerja sebagai penjaga toko. Kebanyakan toko kelontong, warung makan, apotek, dan toko baju dimiliki pendatang. Warga Bugis Makassar dominan di sektor perdagangan.
Fenomena terpinggirnya orang-orang asli Papua di sektor perdagangan dan jasa bukan hanya terjadi di Asmat. Kondisi serupa juga terjadi di kabupaten dan kota lain di Provinsi Papua dan Papua Barat, seperti di Merauke, Abepura, Timika, Manokwari, dan Jayapura. Di kawasan sentra-sentra ekonomi, para pendatang menjadi aktor utama.
Di Merauke, misalnya, toko swalayan yang berderet di jalan utama Mandala banyak dimiliki warga Tionghoa. Pendatang dari Jawa dan Padang bergerak di bidang warung makan. Pendatang dari Bugis Makassar selain banyak bergerak di sektor perikanan, juga berdagang di pasar. Rental-rental mobil juga banyak diusahakan orang-orang Jawa. Lebih ironis lagi, langka ada orang suku Marind, yang merupakan penduduk asli Merauke bekerja sebagai pelayan di tempat-tempat usaha tersebut.
Beberapa penduduk asli biasanya hanya berjualan pinang. Hal yang sama di Jayapura, penduduk asli hanya berjualan kecil-kecilan, misalnya bensin eceran dan pinang, di trotoar, dan hasil bumi di selasar pasar. 
Tak tahu standar harga
Saat orang-orang pedalaman Asmat datang sesekali ke Agats untuk menjual hasil alam atau ikan, mereka pun tidak mengetahui standar harga pasar. Terpaksa mereka melepas barang-barangnya dengan harga murah kepada pedagang pasar. Misalnya, satu tandan pisang kepok ukuran besar dibeli pedagang seharga Rp 60.000, kemudian dijual lagi degan harga jauh lebih tinggi. Udang kelas vanane dijual Rp 20.000 per kilogram, ikan juga dijual murah karena melimpahnya tangkapan, misalnya satu ikat ikan kuru sedang berisi 6-7 ekor dijual Rp 20.000, bahkan kalau tak segera laku dengan cepat diturunkan menjadi Rp 10.000, dan kalau tidak laku mereka buang. Pemkab Asmat tegas melindungi nelayan tradisional dengan melarang nelayan daerah lain menangkap di wilayah Asmat sehingga tangkapan cukup banyak.
Melihat kondisi yang merugikan warga Asmat, Keuskupan Agats berupaya agar mereka bisa menjual hasil bumi dengan harga wajar. Didirikanlah sebuah kios yang dikelola bekerja sama dengan seorang pengusaha pendatang untuk mendampingi dan menciptakan peluang pasar baru bagi orang-orang Asmat. Kios yang diberi nama Maju Bersama ini menampung dagangan warga. Kini, kios ini jadi salah satu tumpuan warga menjual apa saja, dari hasil bumi sampai patung dan ukiran. Kios ini diharapkan menjadi pemacu transaksi yang lebih adil untuk warga. Sekaligus mengurangi dominasi pendatang.
”Kami sekarang sampai kewalahan menampung hasil bumi warga. Kadang mereka datang membawa pisang banyak sekali, satu long boat penuh pisang. Untungnya, sekarang semakin banyak warga Agats yang membeli di sini sehingga uang bisa berputar terus,” ujar Ayun, pengelola kios Maju Bersama.
Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito menuturkan, warga Asmat belum pandai hitung- menghitung. Mereka gampang menderita kerugian. Contohnya, seorang warga ingin menjual ayam jantan seharga Rp 100.000. Ketika pembeli menawar Rp 50.000, justru ayam itu diberikan seharga Rp 40.000. Contoh lain, sebuah ukiran ditawarkan Rp 500.000, ketika ditawar Rp 200.000 langsung diberikan. ”Mereka tidak bisa menentukan harga,” ungkapnya.
Untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, ujar Aloysius, harus dihidupkan transaksi-transaksi yang adil sehingga warga mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan. Keuskupan Agats pun mengembangkan Credit Union (CU) untuk modal usaha warga Asmat. Nasabah CU berkembang mencapai 780 orang. Namun, upaya itu tidak selalu mulus. Sebanyak 180 nasabah pinjamannya diputihkan akibat kredit macet. ”Dari hitungan kami sebenarnya mereka mampu mengembalikan. Mereka belum mampu mengelola keuangan,” ujarnya.
Potensi perekonomian Asmat sebenarya besar, misalnya perikanan dan pariwisata. Akan tetapi, potensi yang dimiliki belum digarap dengan baik. Padahal, apabila dikembangkan serius akan menjadi motor yang menggerakkan perekonomian rakyat. Dari kedua sektor itu bisa dibuka usaha mikro kecil, seperti kios cendera mata, restoran, dan usaha perhotelan. ”Bisa dikembangkan paket-paket wisata alam dan budaya. Bisa saja buka paket perjalanan wisata Jayapura-Wamena-Asmat. Asmat ini menarik karena memiliki keunikan yang tidak ada di tempat lain,” ujarnya.
Bupati Asmat Yuvensius A Biakai mengakui Asmat tertinggal dibandingkan dengan wilayah lain, terutama dibandingkan dengan Papua bagian utara. Ia menuding Pemerintah Provinsi Papua kurang memerhatikan wilayah Selatan Papua sehingga kabupaten harus bekerja sendirian. Karena itu, pihaknya mendorong segera dilakukan pemekaran wilayah selatan jadi Provinsi Papua Selatan untuk memacu pertumbuhan perekonomian di wilayah Selatan. Jika perekonomian wilayah selatan maju, Asmat juga maju. ”Pemekaran Provinsi Papua Selatan itu adalah kebutuhan,” ujarnya.
Yuvensius menarik kondisi kontras Papua bagian utara dengan Papua Selatan sebagai metafor negara-negara Utara dan negara-negara Selatan. Yang tergolong negara-negara Utara itu umumnya kaya dan makmur, sedangkan negara-negara Selatan itu dikelompokkan negara miskin atau negara berkembang. Demi keseimbangan, kearifan lokal yang dikembangkan di Papua, sewajarnya bagian Utara membantu bagian Selatan.
Read Post | comments

Wisata : Papua, Bumi yang Tersembunyi


Menuju Boven Digoel

PK-NUH, Twin Otter yang membawa ke Tanah Merah.
Pagi hari di hari Senin kota Merauke cukup ramai.  Padahal kalau di Bogor masih dini hari.  Anak-anak sekolah lalu lalang.  Kami sudah berada di bandara. Pesawat Twin Otter Merpati sudah ada di apron.  Namun ternyata pesawat terbang ke Muting dulu.  Tanah Merah harus menunggu sekembalinya pesawat.  Jadi di sini jadwal penerbangan sangat tentatif.
Akhirnya para penumpang tujuan Tanah Merah Kab. Boven Digoel dipersilahkan check-in.  Barang yang diizinkan hanya yang bisa ditenteng, lainnya harus dikumpulkan dan dibagasikan. Pesawat Twin Otter dengan registrasi PK-NUH dengan nama Natuna sudah menanti. Saya masuk terakhir, namun kursi dibelakang pilot masih kosong.  Entah mengapa penumpang disini tidak mau dekat pilot.  Padahal tempat itu yang saya inginkan agar bisa melihat aktivitas pilot dan merasakan nuansa kokpit.  Ternyata bagasi disebar di seluruh pesawat.  Di bawah kursi penuh dengan barang-barang penumpang. Saya duduk sendiri di kursi berkapasitas dua orang.  Jadi cukup leluasa menyimpan tas dan kamera.
Mesin bergetar kuat, lambat laun makin cepat dan mendengung memberikan cukup tenaga untuk berjalan.  Setelah taxi, pesawat seolah tertatih-tatih berlari untuk ancang-ancang mengangkasa.  Sedikit-demi sedikit sang Twin terbang perlahan. Saya berdoa sambil tetap memegang handycam.  Kelak saya akan upload ini video di Youtube (http://www.youtube.com/watch?v=qrhbngCxpXc&feature=feedu).  Belakangan PK-NUH ini saya baca pernah tergelincir di Bintuni, dan dibuat pada tahun 1973.  Fuihh…37 tahun umurnya! Untung saya tahunya belakangan setelah berada di Bogor kembali.
Ruang kokpit sangat sempit.  Indikator bisa saya perhatikan dengan jelas.  GPS menunjukkan arah dan jarak.  Merauke-Tanah Merah akan ditempuh sekitar 1 jam.  Kecepatan di udara sekitar 120-130 knots lebih.  Altimeter menunjukkan ketinggian makin lama makin tinggi.  Ketinggian berakhir di ketinggian 7.000 kaki.  Dari ketinggian itu tampak terhampar puluhan ribu hektar perkebunan sawit milik Korindo. Bersebelahan dengan hutan yang bakal habis sebagai bahan baku pabrik kayu lapis, milik Korindo juga.  Sedih juga melihatnya.. hiks..hiks.. Sungai, rawa, dan hutan mendominasi pemandangan di bawah.  Tentu saja saya lebih senang melihat itu.
Satu jam berlalu, pesawat sudah merendah. Pilot dan Ko-pilot sudah siap-siap melakukan pendaratan.  Flaps posisi 2, nose mulai diturunkan.  Pesawat makin pelan.  Bandara sudah nampak dari jendela depan.  Saat menyentuh landasan mesin langsung dimundurkan, maksudnya tenaga dorong dibalik.  Sekejap saja pesawat melambat dan masuk ke apron.  Cara mengendalikan kokpit yang persis saya sering mainkan di Flight Simulator.  Benar-benar mirip, sehingga saya merasa sangat ingin juga mencoba memegang kemudi aslinya.  Kalau di Flight Simulator saya sudah memiliki sertifikat pendaratan untuk Cessna.  Jadi saya siap-siap saja andai salah satu pilot berhalangan…. Obsesi.com.
Hanya sekitar 15 menit saja pesawat berhenti, selanjutnya pesawat berangkat lagi. Saya berada di bendara yang sederhana.  Peralatan pendukung bandara serba portabel.  Pemadam kebakaran ada satu unit yang menjadi satu kesatuan dalam pick up Strada.  Di salah satu bangunan yang seperti gudang, puluhan drum-drum berisi avtur.  Tidak ada menara kontrol, namun ada satu tiang tempat menunjang sebuah sirine, mirip sirine ambulans.  Satu-satunya tanda kalau ada pesawat akan mendarat.  Sehingga seluruh kota dapat mendengar kalau ada pesawat akan datang.
Jemputan sudah ada, taxi.  Taxi disana sama dengan angkot di Bogor.  Hanya bisa kita minta kemana saja sesuai tujuan.  Warnanya oranye dengan tarif 5000 rupiah jauh dekat.  Tujuan pertama ke penginapan, yang sampai sekarang saya tidak tahu namanya. Hotel masih baru, cukup baik. Hanya ada 8 kamar saja.  Katanya milik Bupati namun ditunggui oleh dua orang dari Menado.  Cukup nyaman dan bersahabat.
Bung Hatta menghasilkan pemikiran luar biasa buat bangsanya di tanah ini
Hari pertama di Tanah Merah ini saya bersama kawan mengisinya dengan jalan-jalan.  Tugu Bung Hatta yang pertama dikunjungi.  Terletak pas berhadapan dengan bandara.  Bung Hatta gagah berdiri, namun dengan telunjuk menekuk ke bawah, seolah berkata, ” di dieu yeuh….!”
Di sel seperti inilah Bung Hatta menghabiskan waktu di pengasingan
Setelah itu penjara tempat Bung Hatta dibuang Belanda.  Penjara masih sangat terawat.
Ada juga ruang buat tahanan wanita
Di bagian depan penjara untuk wanita.  Sebuah bangsal berkapasitas 25 orang.  Di seberangnya kompleks penjara untuk pria.  Ada yang berupa bangsal dan ruang-ruang kecil berkapasitas 1 orang.  Konon Bung Hatta menempati bangsal yang besar.  WC jongkok terdapat di pojok bangsal.  Terbayangkan apabila bangsal penuh.  WC tidak mengalir ke septic tank, namun masuk ke kotak di luar ruang yang harus diambil dan dibersihkan memakai sekop pula.  Namun saat ini semua bersih, karena penjara tersebut menjadi benda sejarah yang dilindungi undang-undang.  Walaupun berkeliling, tidak ada seorang pun kami temui.
Cuaca yang sangat terik membuat kulit terbakar.  Suhu diperkirakan sekitar 40 derajat Celcius.  Jadilah warung es pisang ijo ala Makassar menjadi sasaran kami.  Berhubung di warung itu terdapat menu soto Makassar, sangat tepat kalau kita jajal….
Malam hari langit tampak sangat luas, bintang-bintang seolah bertambah jumlahnya.  Udara terasa sejuk. Malam ini malam pertama di Tanah Merah.
Read Post | comments

Hidup Mereka Bertumpu di Rawa Biru


Ditemani sekawanan anjing, Thomas Sanggra (20) bersama empat rekannya berjalan menuju Rawa Biru, Kawasan Taman Nasional Wasur, Merauke, Papua. Menyusuri pepohonan bus, Melaleuca sp, mereka siap-siap berburu dengan panah dan tombak.
”Kami mau tangkap saham (kanguru). Nanti sore kami juga sudah kembali dan pasti sudah dapat satu saham,” ujar Thomas mengawali kegiatan berburu, Sabtu (9/4/2011).
Bagi Thomas dan komunitas suku Marind, kawasan Rawa Biru adalah savana kehidupan. Di hamparan rawa seluas sekitar 4.000 hektar, suku Kanum, subsuku Marind, di Kabupaten Merauke, Papua, itu menggantungkan hidup. Berburu dan meramu dilakoni saban hari oleh empat keluarga besar (marga) yang menetap di kampung yang terletak di kawasan Taman Nasional Wasur, yakni marga Dimar, Banggu, Maiwa, dan Sanggra.
Kehidupan berburu memang kental di Kampung Rawa Biru yang dihuni sekitar 60 keluarga atau 248 jiwa suku Kanum. Para pria dewasa, bahkan anak laki-laki usia SD, berburu hewan di setiap waktu.
Hamparan savana, rawa, dan pepohonan bus merupakan habitat bagi kanguru tanah, kanguru lapang, rusa, babi, ikan, dan buaya.
Sejak kecil, anak-anak suku Kanum sudah diakrabkan dengan ”kemurahan” alam. Oleh orang tua mereka, anak-anak itu diajari cara menghidupi diri lewat berburu ataupun meramu.
Antonius Dimar (19) belajar berburu saham sejak umur 9 tahun. Sejak usia bocah, ia telah mahir menyergap rusa dan kanguru dengan sekali melepaskan anak panah dari busurnya atau sekali melemparkan tombak.
Tradisi setempat mewajibkan seorang ayah untuk mengajak anak laki-lakinya berburu. Sering kali ajakan berburu lebih diminati anak-anak mereka daripada bersekolah. Bolos sekolah sesuatu yang lumrah.
Sementara kaum pria berburu, kaum perempuan bertugas mengurus bayi-balita, serta menokok sagu, dan memasak.
Rupanya, tidak saban hari warga setempat berburu. Biasanya berburu dilakukan setelah jeda 3-4 hari. Pasalnya, selain tempat perburuan kian jauh, jumlah hewan buruan pun makin berkurang. Hewan buruan kian terdesak menjauh dari perkampungan.
Biasanya, sekali berburu, Antonius menempuh perjalanan menggunakan kole-kole (sampan dari kayu pohon bus) menuju lokasi menyusuri rawa. Sekali perjalanan butuh waktu 6 jam.
Mereka sering kali harus tidur di hutan 1-2 malam dengan membawa bekal secukupnya. Jika ingin berburu rusa, malam hari mereka tidur di hutan dan baru keesokan harinya berburu.
Lain lagi jika urusan berburu buaya. Untuk memburu hewan jenis melata ini, mereka menyusuri sungai pada malam hari. Senter adalah alat utama.
Hukum adat
Perburuan oleh warga suku Kanum lebih didorong faktor ekonomi. Buruan tidak semuanya mereka konsumsi sendiri, tetapi mereka jual. Uang dari hasil berburu mereka gunakan untuk membeli bahan kebutuhan pokok, seperti beras, garam, rokok, dan pinang, serta memberikan uang saku kepada anak.
Uang hasil berburu biasanya akan habis dalam 3-4 hari. Jika uang sudah habis, mereka berburu lagi. ”Hanya dari berburu kami bisa dapat uang,” ungkap Markus Dimar (27), warga Kampung Rawa Biru.
Mereka umumnya menjual buruan ke Merauke. Di perkotaan, kulit buaya dijadikan bahan kerajinan yang menghasilkan dompet, tas, dan sepatu. Adapun daging rusa dijadikan dendeng, sate, dan bakso. Harga daging hewan buruan relatif murah. Rusa yang diburu semalaman dihargai Rp 20.000 per kg. Berat bersih daging rusa sekitar 20 kg per ekor, sedangkan kanguru dihargai Rp 30.000 per ekor.
Hasil itu harus dibagi rata sesuai jumlah orang yang berburu, biasanya 2-3 orang. Buaya relatif memiliki harga jual lebih tinggi, sebanding dengan risiko memburunya, tetapi hanya kulitnya yang laku dijual. Daging buaya biasanya dikonsumsi sendiri oleh keluarga pemburu.
Nicolaus Nek Tjong (66), pengusaha dendeng rusa di Merauke, mengaku kini semakin susah mendapatkan pasokan daging rusa. Padahal, tahun 1990-an, rusa masih bisa ditemukan berkeliaran di tepi kota Merauke. Kini, pemburu harus mencari rusa di pedalaman. Pihaknya pun sekarang lebih banyak dikirimi daging rusa dari pedalaman jauh dari Merauke, seperti Kimam, Kondo, dan perbatasan RI-Papua Niugini.
Karena tidak ingin rusa makin langka, Nek Tjong selektif membeli daging dari pemburu. Hanya daging rusa dewasa yang dibelinya. ”Kami hanya pilih rusa dewasa. Yang masih muda kami tolak,” kata Tjong.
Komunitas suku Kanum pun mulai menyadari langkanya hewan buruan. Menyikapi hal itu, komunitas itu membuat perjanjian bersama. Hanya hewan dewasa yang boleh diburu. Adapun anakannya dibiarkan hidup. Mereka juga menerapkan hukum adat sasi untuk melindungi populasi hewan.
Adat ini melarang berburu atau mengambil komoditas hutan tertentu yang diikrarkan oleh satu marga dalam satu kurun waktu tertentu. Umumnya, sasi berlaku 1-2 tahun dan harus dipatuhi semua marga. Sasi diberlakukan dengan cara memasang patok-patok kayu di wilayah tanah ulayat marga yang berakad.
Masa jeda itu bertujuan memberikan berkesempatan kepada hewan untuk berkembang biak. ”Ini salah satu wujud kearifan lokal masyarakat Marind dalam menjaga kelestarian alam,” kata Dadang Suganda, Kepala Balai Taman Nasional (TN) Wasur.
Pihak Balai TN Wasur sendiri tidak melarang warga asli yang tinggal di dalam kawasan TN Wasur untuk berburu hewan selama itu dilakukan dengan alat-alat tradisional. Apalagi, orang Marind sudah lebih dulu menghuni taman seluas 413.810 hektar itu sebelum TN Wasur terbentuk. Balai TN Wasur melarang perburuan menggunakan senapan. Adang mengakui, meski memang ada penurunan populasi, jumlah rusa dan kanguru di TN Wasur masih terkendali, 1-2 ekor per hektar.
Tumpuan hidup
Selain sebagai ladang protein bagi suku marind di sekitar TN Wasur, Rawa Biru juga menjadi sumber kehidupan bagi 195.176 penduduk Merauke.
Rawa ini merupakan sumber air bersih. Tiap hari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Merauke mengolah 5,2 juta liter air dari rawa itu untuk dialirkan ke rumah-rumah penduduk.
Menurut Kepala PDAM Merauke, Stasiun Rawa Biru, Jimi S Lobo, air bersih itu berasal dari mata air, hujan, dan air laut yang masuk ke rawa.
Begitu pentingnya Rawa Biru, warga melestarikannya dengan sejumlah kesepakatan bersama. Tidak boleh memandikan ternak di rawa. Juga tak boleh membuang sampah di rawa.
Kini warga bahu-membahu membersihkan tumbuhan tebu rawa (Hanguana sp). Akar tumbuhan ini diduga menyerap air dan mengganggu sirkulasinya.
Read Post | comments

Merauke , Surga Kecil yang Jatuh di Bumi


Tanah Papua, tanah yang kaya. Surga kecil jatuh ke bumi. Itu adalah petikan syair lagu berjudul ”Aku Papua”.
Merauke adalah bagian dari surga itu. Sebuah kabupaten di bagian selatan Papua seluas 4,5 juta hektar dan berpenduduk sekitar 300.000 orang.
Pertengahan Agustus 2009 lalu, rombongan yang dipimpin pimpinan perusahaan Medco, Arifin Panigoro, datang ke tanah ini atas undangan Bupati Merauke Johanes Gluba Gebze.
Di antara rombongan ada Duta Besar Amerika Serikat Cameron R. Hume, pejabat politik (political officer) Kedutaan Besar AS di Indonesia Matthew A Cencer, Direktur Bank Rakyat Indonesia Bambang Soepeno, serta wartawan senior Fikri Jufri dan Aristides Katopo.
Di kawasan Nilam Wasur, sebuah tempat jauh dari kota Merauke, Arifin Panigoro diangkat sebagai salah seorang warga marga Gebze dengan sebuah upacara sakral suku besar di tanah Merauke, Marind Anim.
Dalam pidatonya, Johanes Gebze mengatakan, kini roh Marind Anim telah merasuk dalam diri Arifin Panigoro. Pengusaha besar dari Jakarta itu diberi nama Namek Arifin Warfuk Gebze.
Anggrek wangi
Dalam pidatonya, Arifin mengatakan, upacara ini sudah pasti dengan restu alam dan Yang Maha Transenden. ”Buktinya, di tepi jalan sepanjang jalan menuju tempat itu bunga-bunga anggrek yang beraneka ragam jenisnya mekar. Mengherankan sekali, anggrek ini menebarkan aroma wangi bagaikan melati. Hanya di Merauke ada bunga anggrek wangi,” ujarnya.
Arifin juga mengatakan, upacara kekeluargaan ini tidak boleh berhenti di sini saja, tapi harus berlanjut dengan menolong membangun Merauke.
Johanes Gebze mengatakan, pembangunan di Merauke harus memerhatikan lingkungan alam keragaman hayati yang ada. Arifin juga mengakui, Papua termasuk Merauke adalah tanah yang sakral dan magis. Untuk membangun kawasan ini tidak bisa sembarangan.
Dari Johanes Gebze selaku pengusaha pemerintahan tanah Merauke, Medco yang dipimpin Arifin Panigoro mendapat konsesi mengelola tanah dan hutan seluas 350.000 hektar. Tanah yang sudah digarap sampai kini antara lain sekitar 160.000 hektar berupa penanaman padi dan berbagai macam tanaman seperti pohon minyak kayu putih (tanaman asli setempat). Proyek Medco berada di tepi Sungai Bian, sekitar 20 menit dengan pesawat dari Merauke. Di kawasan itu telah dibangun sebuah base camp yang telah ditempati oleh sekitar 500 karyawan, termasuk 100 orang dari berbagai suku asli Papua.
Setelah upacara adat, rombongan berkumpul di Bandar Udara Mopah, Merauke. Sebelum makanmalam, menyanyi, dan menari, rombongan berdiskusi tentang strategi membangun Merauke.
Dubes AS Cameron R. Hume berbicara soal menjaga kelestarian alam dalam menghadapi perubahan iklim, sementara Arifin bicara soal keistimewaan tanah Merauke yang bisa dinikmati banyak orang dari luar Merauke. Di tanah ini bisa dibangun pusat wisata. Merauke adalah sebuah wilayah tanah datar.
Di Merauke ada kanguru, ribuan rumah semut seperti pondok-pondok rumah manusia, ribuan buaya, rusa, dan pantai yang amat luas. Selain itu, juga terdapat puluhan sungai besar yang bisa dilayari dengan perahu-perahu besar.
Dalam diskusi itu, dua pejabat Conservation International (lembaga penjaga kelestarian alam internasional) untuk Indonesia, Jatna Supriatna dan Neville Kemp (orang Inggris yang pernah hidup 15 tahun di pedalaman Papua), mengingatkan, Merauke punya keunikan yang tiada tara. Menurut Kemp, pendekatan sosial dan menghormati adat setempat juga bagian dari pembangunan Merauke. ”Kesalahan pendekatan dan penghinaan terhadap adat bisa menimbulkan kerugian dahsyat,” ujarnya.
Kehadiran Dubes AS tanpa pengawalan petugas keamanan menunjukkan Merauke adalah tanah yang aman dan damai. Namun, keamanan dan kedamaian itu bisa terusik bila tidak memerhatikan peringatan Neville Kemp.
Mindiptana, sebuah kecamatan di Kabupaten Boven Digoel, tetangga Merauke yang berbatasan dengan Papua Niugini, hingga kini masih bergolak.
Berkaitan dengan kelekatan dengan NKRI ini, Mindiptana masih rentan karena keunikan setempat yang tidak dihormati sejak masa Orde Baru dulu. (J Osdar)
Read Post | comments

Bukan Hanya Malaysia, Merauke pun Impor Pasir




Bangun rumah permanen memang butuh bahan bangunan berupa pasir dan semen juga kayu. Sedangkan rumah semi permanen seperti honai ( rumah tradisional ) hanya butuh lahan sepetak, sembarang kayu dan atap rumah berupa alang-alang. Impor pasir untuk bangunan rumah sering terjadi di negara Malaisya menggali pasir di kepulauan Riau. Di Merauke, justru terbalik.

Demi mencegah Bencana, Pemda Merauke Impor Pasir. Merauke impor pasir dari daerah lainnya di Papua dan diluar Papua seperti Sulawesi Tengah ” Palu “.

Bupati Merauke mewajibkan proyek- proyek fisik pemerintah di Merauke, memakai pasir yang didatangkan dari luar daerah. Hal ini untuk mengindari penambangan pasir ilegal di kawasan pantai di Merauke. “Semua SKPD (satuan kerja pemerintah daerah) harus menggunakan pasir impor dalam semua pelaksanaan proyek-proyek fisik. Hal itu sudah tertuang dalam keputusan bupati,” ungkap Theodorus Kahol, Kepala Dinas Pertambangan Merauke di Merauke, Papua, Senin ( kompas.com,16/1/2012 ).

Larangan pemerintah daerah merauke patut diapresiasi karena daerah ini merupakan dataran rendah dan rawan pengikisan pantai oleh air laut. Beda dengan eksplorasi pasir laut yang digalang malaisya di Riau yang sampai sekarang tanpa perlindungan dalam membatasi baik oleh pemerintah setempat.

Bisnis jual beli pasir memang lahan ekonomi yang cukup bagus, namun semestinya pengerukan pasir pada tempatnya saja dan tidak merusak lingkungan.

Di Merauke, harga pasir “impor” memang lebih mahal dibandingkan pasir lokal, yaitu Rp 800.000 per kubik. Sedangkan Pasir lokal dijual sekitar Rp 500.000 per kubik. Pemakaian pasir impor yang didatangkan dari Palu, Sulawesi Tengah dan Sorong, Papua Barat diharapkan akan dapat menghindari dan menekan penambangan pasir secara ilegal di kawasan Pantai Merauke.

Bisnis pasir terselubung di kepulauan Riau menjadi proyek ilegal yang sampai sekarang terpelihara. Bahkan Singapura mengeruk pasir dari pulau Rupat juga.

Perhatian serius pemkab merauke melarang penggalian pasir lokal untuk mencegah abrasi ini merupakan wujud dari keberpihakan pemda setempat mengantisipasi resiko bencana di daerah ini. Selain itu, daerah paling ujung pulau Papua dan bagian Timur Indonesia ini letak geografisnya diapit oleh samudra Pasifik yang juga lautnya berbatasan dengan benua Australia. Merauke merupakan daerah yang juga merupakan dataran terendah di Papua.

Pulau Papua terbentuk atas pertemuan gesekan. Ahli Geologi Indonesia, Fransiskus Benediktus Widodo Margotomo mengatakan bahwa pulau Papua mulai terbentuk pada 60 juta tahun yang lalu. Saat itu, pulau ini masih berada di dasar laut yang terbentuk oleh bebatuan sedimen.

Pengendapan intensif yang berasal dari benua Australia dalam kurun waktu yang panjang menghasilkan daratan baru yang kini bernama Papua. Saat itu, Papua masih menyatu dengan Australia. Terspisahnya Papua dengan Australia pada masa mencairnya es.
Read Post | comments
 
© Copyright RadarMerauke.com | Portal Berita Merauke @Since 2008 - 2013 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Owner Template | Published by Owner Template and Owner
WWW.RADARMERAUKE.COM - PORTAL BERITA MERAUKE
( www.radarmerauke.me | www.radarmerauke.asia | Email : radarmerauke@gmail.com | radarmerauke@yahoo.com )

Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya. Copyright berita dalam site ini milik pemilik berita: Kompas, Bintang Papua, Cenderawasihpos, Tabloid Jubi, Jaringan Pasificpost, Infopublik, suluhpapua, Jaringan JPNN dll. Radar Merauke adalah web personal yang merangkum berita dari berbagai media.