MERAUKE – SM (17), salah satu orang pengidap HIV/AIDS (ODHA) yang mendapatkan pendampingan di BPKM Yasanto Merauke, meninggal dunia. SM menghembuskan napas terakhirnya, Senin (21/1) lalu sekitar pukul 05.00 Wit.
Sebelumnya, SM yang bermukim di Distrik Muting, Kabupaten Merauke ini sempat menjalani perawatan. Sayangnya, kondisi SM semakin melemah dan kekebalan tubuhnya pun berkurang. Alhasil, nyawanya tidak dapat diselamatkan oleh dokter yang merawatnya.
Koordinator pendampingan BPKM Yasanto, Betriks Baransano mengatakan, selama setahun pihaknya melakukan pendampingan yang intens terhadap SM.
Mengingat semua ODHA tidak selamanya cocok dengan obat ARV, sehingga SM pun mengalami hal demikian.
Sebelumnya, SM yang bermukim di Distrik Muting, Kabupaten Merauke ini sempat menjalani perawatan. Sayangnya, kondisi SM semakin melemah dan kekebalan tubuhnya pun berkurang. Alhasil, nyawanya tidak dapat diselamatkan oleh dokter yang merawatnya.
Koordinator pendampingan BPKM Yasanto, Betriks Baransano mengatakan, selama setahun pihaknya melakukan pendampingan yang intens terhadap SM.
Mengingat semua ODHA tidak selamanya cocok dengan obat ARV, sehingga SM pun mengalami hal demikian.
“Almarhum tidak cocok dengan obat ARV ini, karena cocok-cocokan, ya. Ada pasien yang cocok dan ada yang tidak cocok,” kata Betriks kepada Bintang Papua, kemarin.
Ketika ODHA cocok dengan obat ARV yang harganya lumayan mahal itu, Betriks optimis SM pasti bisa sehat seperti teman-teman ODHA lainnya.
“Tapi ini semakin hari kondisinya semakin melemah. Ya, sudah kehendak Tuhan juga sehingga siapa yang bisa menolak,” ucapnya meyakini kepergian SM sudah ajal dari yang Mahakuasa.
Dibeberkan wanita yang sudah malang melintang mendampingi ODHA ini, SM sendiri mengidap HIV/AIDS sejak lima tahun lalu. SM diduga terinveksi dari mendiang suaminya yang sudah lebih dulu meninggal dunia, Tak ayal, dari sang suami lah SM yang masih berusia remaja itu terinveksi bersama buah hatinya yang juga sudah mendahuluinya pergi selama-lamanya. “Ia tertular dari suaminya. Karena suaminya sama anaknya yang terinveksi juga sudah meninggal dunia duluan,” ungkapnya.
Betriks meminta ketika berita ihwal meninggalnya salah satu ODHA ini, nama ODHA harus diinisialkan. Hal itu, menurutnya, untuk menjaga kepentingan dari keluarga ODHA.
Ketika ODHA cocok dengan obat ARV yang harganya lumayan mahal itu, Betriks optimis SM pasti bisa sehat seperti teman-teman ODHA lainnya.
“Tapi ini semakin hari kondisinya semakin melemah. Ya, sudah kehendak Tuhan juga sehingga siapa yang bisa menolak,” ucapnya meyakini kepergian SM sudah ajal dari yang Mahakuasa.
Dibeberkan wanita yang sudah malang melintang mendampingi ODHA ini, SM sendiri mengidap HIV/AIDS sejak lima tahun lalu. SM diduga terinveksi dari mendiang suaminya yang sudah lebih dulu meninggal dunia, Tak ayal, dari sang suami lah SM yang masih berusia remaja itu terinveksi bersama buah hatinya yang juga sudah mendahuluinya pergi selama-lamanya. “Ia tertular dari suaminya. Karena suaminya sama anaknya yang terinveksi juga sudah meninggal dunia duluan,” ungkapnya.
Betriks meminta ketika berita ihwal meninggalnya salah satu ODHA ini, nama ODHA harus diinisialkan. Hal itu, menurutnya, untuk menjaga kepentingan dari keluarga ODHA.
Apalagi memang tak semua orang bisa menerima kondisi ini. Selain itu juga untuk mengantisipasi terjadi hal yang tidak diinginkan.
Sementara itu berdasarkan data yang ada di BPKM Yasanto, selama tahun 2012 sudah 12 ODHA yang meninggal dunia. Sedangkan untuk Januari 2013 ini baru satu ODHA, yakni SM. (lea/achi/lo1)
Sementara itu berdasarkan data yang ada di BPKM Yasanto, selama tahun 2012 sudah 12 ODHA yang meninggal dunia. Sedangkan untuk Januari 2013 ini baru satu ODHA, yakni SM. (lea/achi/lo1)

Artikel 