Merauke dikenal sebagai kota yang berada di wilayah paling Timur di Indonesia. Walaupun secara geografis Merauke berada pada posisi yang agak terpencil namun kota ini memiliki suasana yang cukup menyenangkan. Nikmati suasana matahari tenggelam.
Di Pantai Lampu Satu yang terletak sekitar 5 km dari pusat Kota Merauke. Tidak jauh dari pantai terdapat sumber mata air panas (hot spring) di mana pengunjung dapat berendam (mandi). Wisatawan yang datang ke Merauke umumnya untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah pedalaman khususnya ke wilayah Suku Asmat.
Merauke tidak memiliki kawasan pusat kota; hampir segala kegiatan masyarakat berada di sepanjang Jl. Raya Mandala yang sangat panjang. Kantor wisata terdapar di Jl. A Yani (telp 21388).
Taman Nasional Wasur seluas 4,260 km2 yang terletak di Utara Merauke merupakan habitat berbagai flora dan fauna termasuk burung cendrawasih dan hewan khas Australia seperti kuskus dan kangguru. Kawasan taman nasionai ini dikelola bersama antara lembaga intemasional WWF dan masyarakat asli setempat yaitu masyarakat Kanum dan Marind yang bermukim pada desa-desa tradisional yang terdapat di wilayah ini.
Sungai Bian & Muting berada pada jarak sekitar 200 km di Utara Merauke di sekitar Muring dan desa-desa yang berada di sepanjang Sungai Bian merupakan kawasan yang dihuni masyarakat tradisional. Wilayah ini ditumbuhi hutan tropis dengan kehidupan alamnya yang liar. Wilayah ini dianggap sebagai alrernatif dari Lembah Baliem sebagai tujuan perjalanan bagi wisatawan asing yang menyukai kehidupan masyarakat tradisional.
Untuk mencapai kawasan ini wisatawan harus menempuh perjalanan darat dengan kendaraan, treking dan perjalanan dengan perahu menyusuri sungai. Wisatawan harus mendapat ijin tertulis dari kepolisian di Merauke sebelum melakukan perjalanan ke kawasan ini.
Wilayah Asmat meliputi kawasan hutan bakau yang sangat luas yang dilalui berbagai sungai. Wilayah Asmat tetap merupakan kawasan yang belum berkembang dan merupakan salah satu dari sedikit tempat di dunia yang belum tersentuh modernisasi kehidupan manusia. Orang Asmat terkenal karena kemampuan mengukir. Kerajinan ukiran kayu Asmat sangat terkenal dan diburu oleh pecinta seni dari seluruh dunia.
Masyarakat Asmat bersifat semi nomaden; kehidupan mereka sangat tergantung kepada kondisi sungai yang menjadi sarana transportasi dan sumber makanan bagi mereka. Beberapa agen perjalanan di Jayapura dan di sekitar Lembah Baliem menyediakan paket perjalanan ke wilayah Asmat ini bahkan mengunjungi Orang Kombai dan Korowai yang bermukim dikawasan pedalaman Asmat dan masih tinggal di rumah-rumah di atas pohon tinggi.
Kondisi alamnya yang sulit dicapai mengharuskan wisatawan menyediakan lebih banyak waktu dan juga uang untuk dapat menghargai apa yang ditawarkan wilayah Asmat.
Pengunjung yang memiliki anggaran terbatas serta tidak memiliki minat khusus pada kebudayaan lokal mungkin akan sangat kecewa dengan sangat sedikitnya kegiatan yang dapat mereka nikmati di wilayah ini. Agats khususnya dan wilayah Asmat pada umumnya memiliki fasilitas yang jauh Iebih sederhana dibandingkan Wamena bahkan Lembah Baliem sekalipun.
Di Agats terdapat Pusat Asmat & Pusat Pendidikan Asmat yang memiliki sejumlah bangunan dengan bentuk arsitektur yang unik. Selain itu, terdapat Museum Kebudayaan dan Kemajuan yang memiliki koleksi alat peraga yang cukup menarik namun tanpa diberikan penjelasan.
Di Pantai Lampu Satu yang terletak sekitar 5 km dari pusat Kota Merauke. Tidak jauh dari pantai terdapat sumber mata air panas (hot spring) di mana pengunjung dapat berendam (mandi). Wisatawan yang datang ke Merauke umumnya untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah pedalaman khususnya ke wilayah Suku Asmat.
Merauke tidak memiliki kawasan pusat kota; hampir segala kegiatan masyarakat berada di sepanjang Jl. Raya Mandala yang sangat panjang. Kantor wisata terdapar di Jl. A Yani (telp 21388).
Taman Nasional Wasur seluas 4,260 km2 yang terletak di Utara Merauke merupakan habitat berbagai flora dan fauna termasuk burung cendrawasih dan hewan khas Australia seperti kuskus dan kangguru. Kawasan taman nasionai ini dikelola bersama antara lembaga intemasional WWF dan masyarakat asli setempat yaitu masyarakat Kanum dan Marind yang bermukim pada desa-desa tradisional yang terdapat di wilayah ini.
Sungai Bian & Muting berada pada jarak sekitar 200 km di Utara Merauke di sekitar Muring dan desa-desa yang berada di sepanjang Sungai Bian merupakan kawasan yang dihuni masyarakat tradisional. Wilayah ini ditumbuhi hutan tropis dengan kehidupan alamnya yang liar. Wilayah ini dianggap sebagai alrernatif dari Lembah Baliem sebagai tujuan perjalanan bagi wisatawan asing yang menyukai kehidupan masyarakat tradisional.
Untuk mencapai kawasan ini wisatawan harus menempuh perjalanan darat dengan kendaraan, treking dan perjalanan dengan perahu menyusuri sungai. Wisatawan harus mendapat ijin tertulis dari kepolisian di Merauke sebelum melakukan perjalanan ke kawasan ini.
Wilayah Asmat meliputi kawasan hutan bakau yang sangat luas yang dilalui berbagai sungai. Wilayah Asmat tetap merupakan kawasan yang belum berkembang dan merupakan salah satu dari sedikit tempat di dunia yang belum tersentuh modernisasi kehidupan manusia. Orang Asmat terkenal karena kemampuan mengukir. Kerajinan ukiran kayu Asmat sangat terkenal dan diburu oleh pecinta seni dari seluruh dunia.
Masyarakat Asmat bersifat semi nomaden; kehidupan mereka sangat tergantung kepada kondisi sungai yang menjadi sarana transportasi dan sumber makanan bagi mereka. Beberapa agen perjalanan di Jayapura dan di sekitar Lembah Baliem menyediakan paket perjalanan ke wilayah Asmat ini bahkan mengunjungi Orang Kombai dan Korowai yang bermukim dikawasan pedalaman Asmat dan masih tinggal di rumah-rumah di atas pohon tinggi.
Kondisi alamnya yang sulit dicapai mengharuskan wisatawan menyediakan lebih banyak waktu dan juga uang untuk dapat menghargai apa yang ditawarkan wilayah Asmat.
Pengunjung yang memiliki anggaran terbatas serta tidak memiliki minat khusus pada kebudayaan lokal mungkin akan sangat kecewa dengan sangat sedikitnya kegiatan yang dapat mereka nikmati di wilayah ini. Agats khususnya dan wilayah Asmat pada umumnya memiliki fasilitas yang jauh Iebih sederhana dibandingkan Wamena bahkan Lembah Baliem sekalipun.
Di Agats terdapat Pusat Asmat & Pusat Pendidikan Asmat yang memiliki sejumlah bangunan dengan bentuk arsitektur yang unik. Selain itu, terdapat Museum Kebudayaan dan Kemajuan yang memiliki koleksi alat peraga yang cukup menarik namun tanpa diberikan penjelasan.