Memeriahkan Hari Jadi Kota Merauke ke-107, masyarakat Kota Merauke dan sekitarnya tumpah ruah di sepanjang Jalan Raya Mandala dan Jalan Ahmad Yani menyaksikan langsung Karnaval yang diikuti 86 peserta, Sabtu (7/2).
Hampir seluruh etnis mulai dari Sabang sampai Merauke yang ada di Kabupaten Merauke, ikut serta dalam Karnaval yang dimulai sekitar pukul 13.30 WIT, itu. Selain menggunakan pakaian adat dan tarian daerah masing-masing, beberapa diantaranya menampilkan rumah adat mereka seperti rumah adat Minangkabau, rumah adat Batak, rumah adat Toraja, rumah adat dari Sultra yang berbentuk panggung dan bentuk dekorasi pelaminan perkawinan ala KKSS.
Tak ketinggalan pula Etnis Kei menampilkan tarian adat mereka yang cukup memukau dan merupakan barisan terpanjang dalam Karnaval yang berlangsung sampai sekitar pukul 18.00 WIT. Selain itu, para narapidana yang selama ini terkungkung di dalam penjara, pada Karnaval itu juga ambil bagian. Ini merupakan keikutsertaan para Narapidana LP Merauke yang berstatus assimilasi dengan berbagai perubahan mendasar yang dilakukan oleh Kalapas Lilik Sujandi.
Selain barisan etnis, tampil pula dari satuan TNI/Polri, Lantamal XI, Korem 174/ATW, Yonif 755 dan Lanud Merauke. Tak ketinggalan, barisan pramuka, drum band dari SMA YPPK Yos Sudarso, SD Budi Mulia, SD YPPK Xaverius dan DDI Lampu Satu, perguruan tinggi swasta dan perbankan. Meski hujan deras dan angin kencang sempat mewarnai start Karnaval tersebut, namun tidak membuat Karnaval bubar tapi para peserta tetap bersemangat. Itu karena dari setiap peserta masing-masing membawa spanduk yang isinya mendukung dan siap menyambut hadirnya Provinsi Papua Selatan.
Sekda Umar Ary Karim, S.Sos, MM, ketika melepas kegiatan itu mengungkapkan, kegiatan pawai ini merupakan sarana untuk mempererat persatuan dan persaudaraan sebagai satu anak bangsa. Sebab, meski adat dan budaya berbeda namun tetap satu yakni Bangsa Indonesia.(ulo)
Sumber : Cenderawasih Pos
Hampir seluruh etnis mulai dari Sabang sampai Merauke yang ada di Kabupaten Merauke, ikut serta dalam Karnaval yang dimulai sekitar pukul 13.30 WIT, itu. Selain menggunakan pakaian adat dan tarian daerah masing-masing, beberapa diantaranya menampilkan rumah adat mereka seperti rumah adat Minangkabau, rumah adat Batak, rumah adat Toraja, rumah adat dari Sultra yang berbentuk panggung dan bentuk dekorasi pelaminan perkawinan ala KKSS.
Tak ketinggalan pula Etnis Kei menampilkan tarian adat mereka yang cukup memukau dan merupakan barisan terpanjang dalam Karnaval yang berlangsung sampai sekitar pukul 18.00 WIT. Selain itu, para narapidana yang selama ini terkungkung di dalam penjara, pada Karnaval itu juga ambil bagian. Ini merupakan keikutsertaan para Narapidana LP Merauke yang berstatus assimilasi dengan berbagai perubahan mendasar yang dilakukan oleh Kalapas Lilik Sujandi.
Selain barisan etnis, tampil pula dari satuan TNI/Polri, Lantamal XI, Korem 174/ATW, Yonif 755 dan Lanud Merauke. Tak ketinggalan, barisan pramuka, drum band dari SMA YPPK Yos Sudarso, SD Budi Mulia, SD YPPK Xaverius dan DDI Lampu Satu, perguruan tinggi swasta dan perbankan. Meski hujan deras dan angin kencang sempat mewarnai start Karnaval tersebut, namun tidak membuat Karnaval bubar tapi para peserta tetap bersemangat. Itu karena dari setiap peserta masing-masing membawa spanduk yang isinya mendukung dan siap menyambut hadirnya Provinsi Papua Selatan.
Sekda Umar Ary Karim, S.Sos, MM, ketika melepas kegiatan itu mengungkapkan, kegiatan pawai ini merupakan sarana untuk mempererat persatuan dan persaudaraan sebagai satu anak bangsa. Sebab, meski adat dan budaya berbeda namun tetap satu yakni Bangsa Indonesia.(ulo)
Sumber : Cenderawasih Pos

Artikel 