Dominggus Ulukyanan, warga setempat, kepada JUBI via telephon satelit, Jumat (6/2) kemarin mengatakan, musibah serupa pernah pula terjadi pada 1954 silam. Dalam musibah terdahulu, ratusan rumah rusak diterjang gelombang pasang dan angin kencang. Lahan pertanian warga juga ikut hancur dalam peristiwa itu. "Musibah di Distrik Wan merupakan penderitaan terbesar selama ini. Kejadian ini pernah terjadi pada tahun 1954 dulu dan sekarang muncul kembali dengan selisih waktu 50 tahun," ujarnya.
Selain menghancurkan Kumbis dan Komolom, air pasang juga menghancurkan sejumlah kampung yang ada di Kimaam. Antara lain, Konorau, Wan, Tor, Kladar, Sabon, Sibenda, Wetau dan Kawem. "Badai juga menghantam perumahan masyarakat yang selama ini tinggal di pesisir Arafuru," ujarnya.Ditegaskannya, akibat air pasang tersebut, ratusan hektar lahan pertanian milik warga hancur berantakan. Akibatnya warga mulai kesulitan didalam memperoleh makanan dan air bersih. "Kondisi terparah terjadi di Kampung Konorow, yang menghancurkan 13 rumah penduduk dan memakan korban jiwa seorang anak," jelasnya.
Sementara itu, akibat air pasang tersebut, di Kampung Wan dan Tor sebanyak tiga rumah warga rubuh. Puluhan rumah lainnya juga tertutup air hingga saat ini. Hingga laporan ini diturunkan, aktivitas warga diwilayah itu lumpuh total. Warga hanya tinggal dipenampungan darurat yang dibuat oleh petugas setempat. "Masyarakat kini hanya mengharapkan bantuan dari Pemda saja. Misalnya, pakaian layak pakai, air bersih dan obat-obatan," ujarnya. (Yunus Paelo)
Sumber : Tabloid Jubi

Artikel 