"Kita, keluarga menanti sampai ada pernyataan resmi dari tim pencari, apakah ditemukan atau tidak ditemukan. Kita pasrah, kita mohon petunjuk Tuhan untuk tunjukan dimana korban atau jazadnya ditemukan," kata Ny. Adeleyda yang ditemui Radar Timika di Hotel Intsia, Timika, Selasa (20/1).Ny. Adeleyda tiba di Timika, Senin (19/1) sekitar Pukul 12.00 Wit dengan penerbangan Pesawat Merpati yang difasilitasi Pemda Asmat. Awalnya, ia berharap bisa langsung ke lokasi kejadian, tapi niat tersebut diurungkannya setelah mendapat penjelasan dari tim evakuasi Pemda Asmat.
Kata Adeleyda, pihak keluarga berharap cemas terhadap nasib dr Boyke. Keputusannya datang ke Timika, karena ingin melihat langsung sekaligus mengikuti identifikasi jenazah untuk memastikan benar tidaknya jenazah Boyke jika ditemukan."Kita tidak mau seperti kejadian waktu identifikasi korban dokter Wendy. Kita nonton di TV, awalnya istrinya tidak mengakui," katanya.Demikian juga terhadap pemberitaan ditemukannya sesosok mayat pada Minggu (18/1). Menurutnya, jenazah yang ditemukan Minggu lalu bukan jenazah dr Boyke. Hal itu didasarkan pada ciri-ciri fisik, dimana tinggi dr Boyke sekitar 168 centimeter dan bergolongan darah B. Sedangkan jenazah yang ditemukan Minggu lalu, menurutnya kondisinya sudah rusak berat bahkan ditemukan cairan seperti pinang di mulut.
"Dari rekam medis diterangkan, ciri-ciri ulat dengan panjang 1,2 centimeter, ditengarai mayat tersebut sudah lebih tiga atau empat hari," katanya. Adeleyda mengatakan kemungkinan ada kejadian nahas sebelum menimpa KM Lisma Jaya. "Katanya ada kejadian lebih dulu sebelum kapal yang ditumpangi Boyke tenggelam," ujarnya.Menyikapi peristiwa ini, pihaknya berdoa agar korban masih bisa ditemukan. "Kami berdoa melalui kerukunan Sulawesi Utara yang ada di Timika, termasuk rekan dokter khususnya para dokter lulusan Unsrat, juga dukung pencarian melalui doa bersama," paparnya.
Seingat Adeleyda, perilaku Boyke yang lulus dari Unsrat dan ditetapkan sebagai dokter PTT, Juli 2007, itu sebelum musibah naas menimpanya sangat berbeda dari biasanya. Hal itu nampak ketika merayakan Natal, 25 Desember lalu, bersama keluarga di Kampung Langoan, kampung orang tuanya.
Kenangan Teman Kerja
Pernyataan bahwa jenazah yang ditemukan di Asmat, Minggu (18/1) lalu bukan dr Boyke juga dikemukakan dr Steven Langi, teman kerja korban di Asmat. Dikonfirmasi Radar Timika melalui telepon seluler kemarin (20/1), dr Steven mengatakan ia cukup mengenal baik korban. Selain tinggi badannya sekitar 168 Cm, menurutnya korban memiliki tahi lalat di wajah, kemudian rambutnya sedikit berombak.
Dokter yang sudah empat tahun mengabdi di Asmat ini kemudian mengatakan bahwa dr Boyke sendiri mulai bertugas di Asmat antara Juli atau Agustus 2008, tepatnya sebagai dokter PTT umum di Puskesmas Bosim, Distrik Fayit. Setahu dirinya, dr Boyke masih bujang, tapi sudah memiliki pacar di Manado yang berprofesi sebagai dokter juga."Dia rajin, penurut, tidak suka membantah. Perhatian terhadap teman juga bagus. Anaknya riang, suka tertawa," kenangnya.
Seingatnya, selama bertugas di Asmat, tidak ada pernyataan jelek yang ditujukan kepada dr Boyke, adik tingkatnya semasa kuliah kedokteran di Unsrat tersebut."Dia kembali ke Asmat karena pengen cepat bertugas. Nekat, bukan. Tapi perasaan terpanggil untuk cepat bertugas melayani masyarakat," tutur Steven yang mengaku juga pernah ke Asmat dengan menumpangi Speed Boat antara tahun 2005 atau 2006 lalu.
Pencarian Dilanjutkan
Sementara itu, Kapolres Asmat AKBP Musa M Korwa yang dikonfirmasi Radar Timika kemarin mengatakan pencarian terhadap korban dr Boyke Mowoka masih dilanjutkan dengan melibatkan tim yang terdiri dari SAR, Polisi, Dinas Perhubungan dan masyarakat.Kapolres mengatakan batas waktu pencarian belum diketahui. Yang pasti menurutnya, upaya pencarian sangat tergantung pada cuaca dan gelombang laut.
"Kalau ombak tinggi, jarak pandang terbatas. Apalagi ombak saat ini bisa mencapai 5-7 meter tingginya, jadi kita lihat juga kondisi," kata AKBP Korwa yang dikonfirmasi melalui telepon, Selasa (20/1).Lokasi pencarian sendiri dilakukan di sekitar wilayah ditemukannya korban dr Wendyansah Sitompul dan dr Hendy Prakoso pekan lalu, kemudian di setiap muara sekitar tempat kejadian. Pencarian kemarin dimulai Pukul 08.00 WIT dimana tim dibagi tiga. (eng/qq)
Sumber : Radar Timika

Artikel 