
Siapa bilang mengasah pisau atau pahat harus dengan batu kali? Kita bisa nyontek budaya pemahat Papua. Menurut Deki Asiam, seorang warga Papua dari suku Asmat yang sudah memahat sejak kecil. Deki mengatakan pasir pun bisa digunakan untuk menajamkan pisau atau pahatnya. Pasir yang bisa digunakan untuk mengasah harus melewati proses yang cukup panjang. Di daerahnya, pasir berwarna kuning harus dikeringkan terlebih dahulu. Dikeringkannya pun di dalam sebuah batangan bambu.
"Proses pengeringannya makan waktu berbulan-bulan," ujar Deki sambil terus asyik memahat kayu akasia menjadi sebuah patung di stand British Petroleum dalam acara Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention di Jakarta, Rabu (28/5). Sesudah kering, pasir itu kemudian ditebar di atas kulit atau tulang sagu, dan barulah pasir bisa digunakan untuk mengasah pisau atau pahat. Cara memahatnya pun berbeda, menurut Deki, yaitu dengan menggosok-gosok pisau atau pahat pada pasir secara vertikal.
"Harus begini. Kalau pasirnya sudah halus, siram lagi (dengan sisa pasir yang lain). Hasilnya akan lebih tajam daripada pahat dengan batu kali," ujarnya dengan logat khas Papua sambil mencontohkan gerakannya. Deki menambahkan pasir ini bisa digunakan berulang kali hingga berbulan-bulan. Deki terus memahat dengan teliti. Tangan kirinya begitu lihai menempatkan pahat dan memukulnya dengan batu di tangan kanan. Deki sekarang aktif memahat di Anjungan Papua di Taman ini Indonesia Indah (TMII).
"Saya sedih lihat budaya seni Papua sudah mulai hilang. Di sini (TMII Jakarta), benda-benda seninya sama sekali tak lengkap," ujar pria berusia 56 tahun ini. Deki sebelumnya juga memahat di Bandung. Kurang lebih 15 tahun yang lalu, dia dipanggil ke Jakarta untuk membantu pengembangan pariwisata Indonesia khusus daerah Papua. "Tapi tak jalan lagi, sekarang cari makan sendiri dengan memahat," tandas pria yang mengaku sedang flu berat karena baru saja pulang dari rangkaian acara tradisional yang diadakan oleh salah satu akademi di Solo.
Menonjolkan budaya Papua di stand-nya saat ini, menurut Executive Vice President HR and Relations BP Indonesia Nico Kanter, merupakan bentuk perhatian BP terhadap Papua. "Kalau orang cuma menampilkan secara teknik, atau gambar-gambar saja, kita menghadirkan langsung," ujar Nico. Di stand ini, kita tidak hanya melihat pemahat Asmat, tetapi juga dapat menikmati berbagai makanan khas Papua, seperti Papeda dan kue sagu.(LIN)
Sumber : Kompas

Artikel 