Satu Mayat Korban Ditemukan Tertindih Drum Aspal

Tim Sar saat melakukan Evakuasi Korban Banjir Bandang di Kali Teku.
Korban ditemukan sudah meninggal dunia dengan posisi telungkup di dalam air kali Teku, tersangkut di semak-semak dan tertindih drum aspal, Rabu (26/12) kemarin.
Sebelum diserahkan ke pihak keluarga di rumah duka di Kampung Kuper, korban sempat dievakuasi oleh tim SAR Merauke ke Puskesmas Ulilin guna dibersihkan dari kotoran lumpur.
Berdasarkan informasi yang diterima media ini, korban diketahui adalah seorang pekerja proyek jembatan Maranatha yang ditangani oleh salah satu perusahaan di kota Merauke yang bergerak di infrastruktrutur.
Kepala Seksi Humas Kantor SAR Merauke, Darmawan W.B saat dionfirmasi, mengatakan, upaya pencarian dilakukan setelah pihaknya mendapat laporan orang hilang akibat air bah dari salah seorang pekerja urusan logistik di perusahaan bersangkutan bernama Candra. Kemudian, SAR mengerahkan 13 personil yang dipimpin Kepala Sub Seksi Operasi SAR Merauke, Suparman, untuk turun ke lokasi melakukan operasi pencarian korban.
“Kemarin pagi sekitar jam 7, kami mendapat laporan dari pekerja proyek yang menyatakan rekannya hilang saat air bah yang terjadi di sungai Teku, distrik muting. Kejadiaannya pada Selasa pukul 02.00 dini hari. Air bah menyapu bascamp tempat mereka tidur, dan pada paginya setelah semua berkumpul, baru disadari kehilangan 1 pekerja dan mereka berupaya mencari tetapi tidak berhasil, kemudian mereka meminta bantuan ke kami,” kata Darmawan.
Masih dikatakan Darmawan, pihaknya mendapat informasi dari para pekerja bahwa peristiwa air bah itu terjadi pada hari Selasa sekitar pukul 02.00 dini hari, dimana ketinggian air diperkirakan mencapai 1 meter di atas jalan, bahkan melewati atas jembatan.
Banjir secara tiba-tiba itu begitu mengejutkan 8 orang pekerja yang sedang tidur di base camp , sehingga mereka sempat berusaha menyelamatkan diri dari terjangan air bah tersebut. Korban sendiri diketahui hilang setelah rekan-rekannya berkumpul pada pagi harinya.
Lanjutnya, Tim SAR tiba di lokasi pada pukul 14.30 Wit dan melakukan observasi lokasi serta penyisiran hingga pukul 18.00 Wit. Pencarian dilanjutkan keesokan harinya (Rabu,26/12) sekitar pukul 07.00 Wit dengan membendung sungai Teku agar air sungai surut dan memudahkan proses pencarian. Pada pukul 08.15 Wit, korban ditemukan dalam kondisi telah meninggal dunia.
“Kami minta kepada mereka agar alat berat yang ada di sana, digunakan mengeruk tanah untuk membendung sungai yang dilalui air bah itu. Setelah dibendung, airnya surut dan kami lakukan pencarian lagi. Alhasil setelah pencarian selanjutnya, akhirnya korban ditemukan. Korban terjepit dibawah drum berisi aspal, diduga kena benturan drum pada saat air bah dan tersangkut di akar pohon,” terangnya.
Musibah ini diduga akibat curah hujan yang cukup tinggi di sekitar daerah Asiki dan PNG sehingga menyebabkan banjir bandang di wilayah Disrik Muting, tepatnya di kali Teku. Sebelumnya, pencarian sulit dilakukan karena kondisi hutan yang cukup rapat dan air kali yang masih tinggi.
“Di sana hutannya rapat, jadi andaikata dia (korban.red) tersapu air pasang besar, dia tidak akan hanyut jauh karena kerapatan pohon. Benar dugaan kami, dia tersangkut di semak-semak dan tertindih drum aspal. Korban saat ditemukan kondisinya tidak hancur karena baru beberapa hari, terus air tawar jadi tidak merusak kulit. Korban terjepit persis ada di bawah drum,” tandasnya.
Sementara itu salah satu rekan kerja korban, Kasmun (32) mengaku syok atas kejadian itu, bahkan ia dan kawan-kawannya tidak pernah menyangka air bah bias sehebat itu.
“Sudah kayak tsunami kecil saja. Karena tiba-tiba dan dahsyat sekali. Dan ini pertama kali banjir bandang sebesar ini,” ucapnya.
Bagi Kasmun dan teman lainnya, kepergian korban menyisakan kesedihan karena mereka tidak menyangka korban akan pergi secepat itu.
“Nggak nyangka, tapi ya namanya ajal mau gimana lagi. Bagi kami dia (almarhum) sosok yang baik, orangnya juga pendiam dan giat bekerja,” kisahnya. (lea/achi/LO1)

Artikel 