MERAUKE–Kurangnya alat transportasi udara maupun laut ke wilayah Kabupaten Asmat, secara langsung menyebabkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan bahan pokok (bapok) di kabupaten tersebut melonjak tinggi.Kondisi ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Asmat Nurdin Manurung.
Kondisi ini juga akibat, belum masuknya kapal kontainer pengangkut barang maupun BBM ke Kabupaten Asmat dan ini menjadi penyebab harga kedua bahan penting itu mahal.“Misalnya saja harga BBM jenis Premium di sejumlah distrik bisa mencapai 20 ribu perliter,” tuturnya kepada Bintang Papua belum lama ini di Merauke.
Menurut Nurdin, selama ini kapal pengangkut BBM milik Pemda Asmat, yaitu Kapaal LCT Sanpai yang hingga kini masih ditahan Lantamal XI Merauke. Padahal, sambungnya, kapal tersebut adalah satu-satunya kapal angkut yang masuk wilayah Asmat.“Menyangkut kargo ini memang lagi kita pikirkan bagaimana nanti supaya dari Surabaya ke Agats itu ada satu kapal kargo kusus untuk membawa barang-barang kebutuhan di Asmat. Karena dengan belum ada cargo yang menetap mengakibatkan harga 9 bahan pokok tidak stabil, sehingga kita masih mengupayakan bagaimana supaya bisa mendatangkan 1 kapal cargo,” akunya selama ini Kabupaten Asmat menjadi salah satu pintu masuk baik ke Kabupaten Ndunga, Yahukimo dan bisa juga ke Mappi.
Selanjutnya upaya yang dilakukan Pemda guna menekan tingginya harga bahan pokok dan BBM ini, dimana Pemerintah tengah melakukan pembangunan infrastruktur di sejumlah jalur pintu masuk, baik udara laut maupun sungai.
“Ini salah satu langkah kami untuk membuka akses agar transportasi bisa intens masuk dan mendorong roda perekonomian di Asmat,” tandasnya. (lea/achi/LO1)
Kondisi ini juga akibat, belum masuknya kapal kontainer pengangkut barang maupun BBM ke Kabupaten Asmat dan ini menjadi penyebab harga kedua bahan penting itu mahal.“Misalnya saja harga BBM jenis Premium di sejumlah distrik bisa mencapai 20 ribu perliter,” tuturnya kepada Bintang Papua belum lama ini di Merauke.
Menurut Nurdin, selama ini kapal pengangkut BBM milik Pemda Asmat, yaitu Kapaal LCT Sanpai yang hingga kini masih ditahan Lantamal XI Merauke. Padahal, sambungnya, kapal tersebut adalah satu-satunya kapal angkut yang masuk wilayah Asmat.“Menyangkut kargo ini memang lagi kita pikirkan bagaimana nanti supaya dari Surabaya ke Agats itu ada satu kapal kargo kusus untuk membawa barang-barang kebutuhan di Asmat. Karena dengan belum ada cargo yang menetap mengakibatkan harga 9 bahan pokok tidak stabil, sehingga kita masih mengupayakan bagaimana supaya bisa mendatangkan 1 kapal cargo,” akunya selama ini Kabupaten Asmat menjadi salah satu pintu masuk baik ke Kabupaten Ndunga, Yahukimo dan bisa juga ke Mappi.
Selanjutnya upaya yang dilakukan Pemda guna menekan tingginya harga bahan pokok dan BBM ini, dimana Pemerintah tengah melakukan pembangunan infrastruktur di sejumlah jalur pintu masuk, baik udara laut maupun sungai.
“Ini salah satu langkah kami untuk membuka akses agar transportasi bisa intens masuk dan mendorong roda perekonomian di Asmat,” tandasnya. (lea/achi/LO1)

Artikel 