
Direktur RSUD Kabupaten Mappi, dr Pratono.
MERAUKE mengatakan, angka kematian bayi khususnya yang baru lahir yang ditangani RSUD Mappi, masih cukup tinggi. Meski tak menyebutkan jumlah pastinya, namun Pratono menegaskan angka kematian tersebut cukup memprihatinkan.
“Saya kurang tahu persis jumlah kasus kematian bayi baru lahir berapa, tetapi cukup tinggi. Sedangkan angka kematian ibu hamil dan melahirkan juga tinggi,” katanya kepada Bintang Papua di Bandara Mopah Merauke, Sabtu (13/10) lalu.
Dari tahun ke tahun angka kematian baik bayi baru lahir dan ibu melahirkan terus bertambah di wilayah Mappi. Dia menambahkan, kematian bayi memiliki banyak penyebab. Diantanya sesak nafas, tingkat ketahanan tubuh bayi yang baru dilahirkan sangat rendah, dan minimnya asupan gizi saat sang ibu tengah hamil. Faktor lainnya adanya kelainan pada sang ibu saat hamil.
“Kami menduga selain karena faktor asupan gizi ibu ketika hamil, juga ada faktor lain yang ikut berperan penting. Selain itu juga soal penanganan karena biasanya kasus yang kami alami kondisi ibu dalam posisi hamil sudah parah baru kemudian dibawa ke kami,” katanya.
Setiap kematian bayi lahir, lanjutnya, selalu diawali dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau kurang dari 2,5 kilogram, sehingga penanganan yang dilakukan tim medis sering kali didak membuahkan hasil karena bayi tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi.
Selain karena mengalami BBLR, bayi rata-rata juga disertai dengan penyakit penyerta (kelainan) seperti sesak nafas dam jantung. Untuk meminimalkan angka kematian bayi di daerah, Dinkes Mappi berupaya meningkatkan pelayanan medis di setiap puskesmas serta mengefektifkan posyandu dalam memantau perkembangan ibu hamil, termasuk asupan gizinya. (lea/achi/LO1)
“Saya kurang tahu persis jumlah kasus kematian bayi baru lahir berapa, tetapi cukup tinggi. Sedangkan angka kematian ibu hamil dan melahirkan juga tinggi,” katanya kepada Bintang Papua di Bandara Mopah Merauke, Sabtu (13/10) lalu.
Dari tahun ke tahun angka kematian baik bayi baru lahir dan ibu melahirkan terus bertambah di wilayah Mappi. Dia menambahkan, kematian bayi memiliki banyak penyebab. Diantanya sesak nafas, tingkat ketahanan tubuh bayi yang baru dilahirkan sangat rendah, dan minimnya asupan gizi saat sang ibu tengah hamil. Faktor lainnya adanya kelainan pada sang ibu saat hamil.
“Kami menduga selain karena faktor asupan gizi ibu ketika hamil, juga ada faktor lain yang ikut berperan penting. Selain itu juga soal penanganan karena biasanya kasus yang kami alami kondisi ibu dalam posisi hamil sudah parah baru kemudian dibawa ke kami,” katanya.
Setiap kematian bayi lahir, lanjutnya, selalu diawali dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau kurang dari 2,5 kilogram, sehingga penanganan yang dilakukan tim medis sering kali didak membuahkan hasil karena bayi tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi.
Selain karena mengalami BBLR, bayi rata-rata juga disertai dengan penyakit penyerta (kelainan) seperti sesak nafas dam jantung. Untuk meminimalkan angka kematian bayi di daerah, Dinkes Mappi berupaya meningkatkan pelayanan medis di setiap puskesmas serta mengefektifkan posyandu dalam memantau perkembangan ibu hamil, termasuk asupan gizinya. (lea/achi/LO1)

Artikel 