Merauke – Sejumlah pedagang di Kabupaten Merauke meminta pasar rakyat di wilayah Mopah Baru diperhatikan. Kondisi pasar yang sering terendam jika hujan, membuat pedagang tidak nyaman berjualan.
“Ya kalau bisa jalan masuk ditimbun, kalau hujan, becek dan berlumpur,” kata Maman, pedagang kemarin.
Menurut dia, pasar satu satunya di Kota Merauke itu menjadi pusat belanja dari warga kota. Dengan kondisi tak terurus, pembeli bisa saja tak mau berbelanja dalam pasar. “Mau masuk saja lumpur, pembeli akan lari dan belanja di swalayan, kalau sudah begitu, ya kita yang rugi,” kata dia.
Ia menambahkan, sejak dibangun sekitar lima tahun lalu, pasar Merauke tidak ditata rapi. Jalan masuk bergelombang, berlumpur dan penuh sampah. Sementara pada bagian dalam, ada pedagang yang duduk berjualan beralas karung di tanah serta mereka yang punya los atau kios. “Jalan di dalam juga sempit, pembeli berdesak desakan,” katanya.
Pasar Merauke berdiri di lahan seluas kurang lebih Lima hektar. Menampung lebih dari dua ribu pedagang. Pasar Mopah awalnya merupakan pasar dadakan setelah pemerintah memindahkan pedagang dari pasar Ampera Merauke. Pasar ini pernah terbakar beberapa tahun lalu yang menimbulkan kerugian hingga miliaran rupiah.
Untuk menampung pedagang, pemerintah Merauke juga membangun pasar modern di dalam kota dengan arsitektur mewah. Pasar dua tingkat itu menampung lebih dari dua ribu orang. “Kita hanya minta pasar sederhana di Mopah Baru di perhatikan. Kalau tidak, ada yang sangat untung dan ada yang rugi terus,” kata Imran, pedagang lainnya.
Baginya, program pemerintah membangun kampung sangat efektif dan bagus. Sayang, konsentrasi lebih banyak di kampung hingga melupakan persoalan dalam kota. “Misalnya menata pasar lebih bagus, kalau bisa bupati Merauke juga turun ke pasar lihat kita,” pungkasnya. (JO/Jayapura)

Artikel 