Di setiap perbatasan lazimnya dijaga oleh prajurit perbatasan. Para prajurit TNI ini bekerja keras menjaga setiap jengkal tanah Indonesia agar tetap utuh dalam bingkai NKRI. Tak ayal, mereka harus rela meninggalkan keluarga tercinta anak maupun istri hanya demi menjaga keutuhan negara tercinta ini.
Oleh : Lidya Salmah Ahnazsyiah-Merauke
Sudah menjadi rahasia umum, masyarakat mengenal tentara sebagai figur prajurit yang tangguh, yang senantiasa siap bertempur membela negara. Berbusana loreng hijau dan identik membawa senjata. Namun, bagi 650 prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) di perbatasan RI-PNG di Kabupaten Merauke. Mereka tidak hanya bertugas menjaga tapal batas di beranda ujung Timur NKRI ini, tetapi mereka juga harus turun langsung mengajar di sekolah yang minim guru. Dengan kata lain, pengabdian mereka bukan hanya demi keutuhan negara ini, melainkan juga membawa anak-anak di ujung negeri ini untuk menjemput impian.
Contohnya saja Serka Jamaluddin yang tengah bertugas di Pos Pamtas Kampung Yanggandur, Kabupaten Merauke. Dimana, bersama tiga rekan anggota lainnya, yakni Praka Markus Dedi, Pratu Dian Wahyudi dan Prada Ahmad Budianto, mereka terlibat langsung sebagai guru bantu di sekolah setempat. Sejak bertugas bulan Juli 2012 hingga menjelang masa purna tugas di awal Februari nanti, mereka tetap bersemangat membagikan ilmu mereka kepada anak-anak Yanggandur.
Contohnya saja Serka Jamaluddin yang tengah bertugas di Pos Pamtas Kampung Yanggandur, Kabupaten Merauke. Dimana, bersama tiga rekan anggota lainnya, yakni Praka Markus Dedi, Pratu Dian Wahyudi dan Prada Ahmad Budianto, mereka terlibat langsung sebagai guru bantu di sekolah setempat. Sejak bertugas bulan Juli 2012 hingga menjelang masa purna tugas di awal Februari nanti, mereka tetap bersemangat membagikan ilmu mereka kepada anak-anak Yanggandur.
“Yak arena kondisi guru di Yanggandur terbatas bahkan kekurangan, makanya kami harus turun langsung membantu,” ucap Jamaluddin kepada Bintang Papua saat bincang-bincang di Pos Kout Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 721/Makasau, Senin (21/1).
Bagi Serka Jamaluddin cs, mengajar memberikan makna tersendiri bagi mereka. Pasalnya, ketika kelak mereka meninggalkan tanah Anim Ha tercinta ini, ada sesuatu yang tidak akan terlupakan.
Selain memberikan sumbangsi tenaga menjadi guru, para prajurit asal Kabupaten Pinrang ini mengisi kehidupan mereka di tapal batas dengan bercocok tanam. Lahan-lahan tidur yang tidak tersentuh oleh warga selama ini disulap mereka bak kebun yang menawan, dimana ditanami berbagai jenis sayuran.
“Ini untuk kebun percontohan bagi warga. Dan hasilnya juga dinikmati warga bukan prajurit,” kata Dansatgas Yonif 721/MKS Letkol INF Eron FS.
Lebih jelas soal keterlibatan sejumlah prajurit sebagai tenaga guru bantu ini, menurut Eron sama sekali tidak menggangu tugas pokok yang tengah dilaksanakan prajurit. Selain guru sekolah, sambungnya, ada juga beberapa prajuritnya yang menjadi guru mengaji dan ceramah, seperti yang ada di Pos Sota.
“Kalau guru ngaji di Sota ada dua yaitu Praka Agung dan Praka Basuki Rahmat. Mereka tidak mengajar karena di Sota gurunya lengkap,” terangnya belajar mengaji juga perlu dilakukan sejak dini bagi anak-anak muslim di perbatasan untuk membentuk iman dan ketaqwaan mereka.
Disinggung soal kompetensi dan kapabilitas sejumlah guru tentara itu, bagi Eron memang tidak sebanding dengan mereka yang berlatar belakang pendidikan guru. Namun kemampuan prajuritnya tidak diragukan, karena semasa pra tugas mereka sudah dibekali penataran guru di home base.
“ Mereka sudah dilatih saat masih di home base, jadi sedikit banyak tau lah soal bagaimana cara mengajar dan mereka juga dibekali ilmu,”katanya saat ke Merauke membawa buku-buku sekolah untuk digunakan saat mengajar.
Eron berharap, dengan mengajar kemanunggalan TNI dan masyarakat di perbatasan berlangsung baik dan dinamis. Karena TNI tidak hanya memberikan kontribusi sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga peduli dengan segala aspek yang berujung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di titik nol ini. (***)
Bagi Serka Jamaluddin cs, mengajar memberikan makna tersendiri bagi mereka. Pasalnya, ketika kelak mereka meninggalkan tanah Anim Ha tercinta ini, ada sesuatu yang tidak akan terlupakan.
Selain memberikan sumbangsi tenaga menjadi guru, para prajurit asal Kabupaten Pinrang ini mengisi kehidupan mereka di tapal batas dengan bercocok tanam. Lahan-lahan tidur yang tidak tersentuh oleh warga selama ini disulap mereka bak kebun yang menawan, dimana ditanami berbagai jenis sayuran.
“Ini untuk kebun percontohan bagi warga. Dan hasilnya juga dinikmati warga bukan prajurit,” kata Dansatgas Yonif 721/MKS Letkol INF Eron FS.
Lebih jelas soal keterlibatan sejumlah prajurit sebagai tenaga guru bantu ini, menurut Eron sama sekali tidak menggangu tugas pokok yang tengah dilaksanakan prajurit. Selain guru sekolah, sambungnya, ada juga beberapa prajuritnya yang menjadi guru mengaji dan ceramah, seperti yang ada di Pos Sota.
“Kalau guru ngaji di Sota ada dua yaitu Praka Agung dan Praka Basuki Rahmat. Mereka tidak mengajar karena di Sota gurunya lengkap,” terangnya belajar mengaji juga perlu dilakukan sejak dini bagi anak-anak muslim di perbatasan untuk membentuk iman dan ketaqwaan mereka.
Disinggung soal kompetensi dan kapabilitas sejumlah guru tentara itu, bagi Eron memang tidak sebanding dengan mereka yang berlatar belakang pendidikan guru. Namun kemampuan prajuritnya tidak diragukan, karena semasa pra tugas mereka sudah dibekali penataran guru di home base.
“ Mereka sudah dilatih saat masih di home base, jadi sedikit banyak tau lah soal bagaimana cara mengajar dan mereka juga dibekali ilmu,”katanya saat ke Merauke membawa buku-buku sekolah untuk digunakan saat mengajar.
Eron berharap, dengan mengajar kemanunggalan TNI dan masyarakat di perbatasan berlangsung baik dan dinamis. Karena TNI tidak hanya memberikan kontribusi sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga peduli dengan segala aspek yang berujung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di titik nol ini. (***)

Artikel 