‘’Penyuluhan intensif bisa mencegah balita mengalami gizi buruk,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg Josef Rinta kepada wartawan usai mengahdiri kegiatan Bhakti Sosial yang diselenggarakan atas keraja sama TNI AD, PT Indosiar Visual Mandiri dan SIKB di Makodim 1707/Merauke, kemarin.
Kendati tidak menyebutkan jumlah balita gizi buruk, namun mantan Sekda Kabupaten Merauke mengakui angka gizi buruk di wilayah Provinsi Papua cuku tinggi setiap tahunnya. Karena itu, sambung dia, Dinkes mengintensifkan program pembelajaran bagi para kader posyandu. Terutama, pemberian penyuluhan kepada masyarakat.
‘’Dengan model pendampingan, masyarakat lebih mudah disadarkan. Program pun berjalan lebih efektif,’’ katanya.
Program pendampingan membuat anak-anak yang kurang gizi bisa diterapi sejak dini. Dengan demikian, kondisi mereka tidak semakin parah.
‘’Dalam pendampingan tersebut, kami memberikan makanan tambahan sehingga kondisi gizi mereka bisa stabil dan lambat laun meningkat,’’ jelas Josef.
Tak hanya balita penderita gizi kurang dan buruk yang terus dipantau. Balita yang berat badannya tidak naik selama tiga kali penimbangan di posyandu juga harus dipantau. Sebab, mereka bisa jadi ‘’calon’’ penderita gizi buruk. (lea/achi/LO1)
‘’Dalam pendampingan tersebut, kami memberikan makanan tambahan sehingga kondisi gizi mereka bisa stabil dan lambat laun meningkat,’’ jelas Josef.
Tak hanya balita penderita gizi kurang dan buruk yang terus dipantau. Balita yang berat badannya tidak naik selama tiga kali penimbangan di posyandu juga harus dipantau. Sebab, mereka bisa jadi ‘’calon’’ penderita gizi buruk. (lea/achi/LO1)

Artikel 