Tim Korea saat melakukan pertemuan dengan DPRD Merauke untuk minta kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Merauke dalam bidang pengelolaan air bersi di Kabupaten Merauke.
Dijelaskan Muhammad, perusahaan asal negeri ginseng ini begitu empati dengan kondisi Kabupaten Merauke yang acapkali mengalami krisis air bersih. Padahal, kata dia, air bersih merupakan sumber utama kebutuhan manusia yang harus tersedia setiap saat.
“Jika air bersih itu tidak dikonsumsi manusia, maka bisa menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti malaria dan lainnya. Air bersih juga memiliki fungsi sangat penting untuk konsumsi manusia bukan hanya untuk minum, tetapi juga untuk masak, mandi dan sebagainya,” paparnya.
Solusi yang diberikan dalam kerja sama nanti, menurut dia, dimana perusahaannya akan menyediakan satu alat berteknologi tinggi untuk menciptakan air bersih.
“Jadi dalam hal ini (kerja sama) kami sifatnya menyediakan teknologi,” bebernya.
Sementara itu, wakil rakyat di DPRD Merauke mengaku setuju dengan rencana tersebut. Seperti yang dilontarkan t Ketua DPRD Merauke, Leo Mahuze, dimana ia merespon baik rencana kerja sama ini karena tujuannya sangat positif, berhubungan langsung dengan unsur penting yaitu air merupakan napas bagi manusia.
“Pemerintah Korea menawarkan jasa air bersih kami rasa itu sesuatu yang bagus. Hanya saja mereka (Korea) masih baru ketemu kami belum dengan Pak Bupati,” ungkapnya.
Kerja sama air bersih yang digalang secara regional ini, ditambahkan Leo, sangat menguntungkan kedua belah pihak. Dan berdasarkan penjelasan utusan perusahaan itu, dalam kerja sama perusahaan meyediakan alat khusus untuk menyedot air tanah sedalam 500 meter, dan dari situ akan dicari sumber air bersih yang debitnya besar agar bisa digunakan oleh masyarakat.
“Ini mereka tawarkan dan teknologi asal Korea itu sudah pernah (ditawari) ke sejumlah negara. Bukan mereka saja yang berharap bisa membuat MoU secepatnya, tetapi kami juga demikian dimana tujuannya agar air bersih yang menjadi kebutuhan utama manusia ini bisa melayani sekian ratus ribu orang di daerah ini,” tandasnya.
Masih dikatakan Leo, teknologi penggalian air tanah yang dilakukan ini tidak memberikan dampak negative bagi lingkungan seperti yang terjadi di Lapindo, Kabupaten Sidoarjo.
“Prinsipnya teknologi ini tidak menimbulkan gejala lain seperti yang terjadi di Lapindo. Mereka punya teknologi yang mutakhir untuk menggali sumber air bersih yang ada di dalam tanah sehingga seperti belerang pun tidak mempengaruhi,” pungkasnya. (lea/achi/lo1)

Artikel 