MERAUKE - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Merauke sejak beberapa bulan terakhir ini, praktis telah menyebabkan debit air di penampungan air Rawa Biru jadi berkurang. Akibatnya, tekanan air ke rumah-rumah warga juga semakin kecil.
Kepala Balai Taman Nasional Wasur (BTNW) Dadang Suganda membenarkan, bahwa sudah menjadi hal lumrah jika musim kemarau tiba debit air di Rawa Biru pasti berkurang. “Jadi ketika suplai air berkurang maka airpun di dalamnya akan berkurang,” tutur Dadang kepada wartawan saat bincang-bincang soal debit air di Rawa Biru yang berkurang akibat musim kemarau, Rabu (24/10) kemarin.
Lebih jelas akibat musim kemarau, pengurangan air di penampungan Rawa Biru berkurang karena penguapan air yang begitu tinggi akibat musim tersebut. Namun demikian, debit yang ada saat ini masih dirasa cukup untuk mengcover kebutuhan masyarakat.
“Kalau mengocover saya rasa masih bisa. Hanya saja begini, kedepannya memang pada akhirnya Pemerintah daerah harus mencari sumber air lain. Ini efek dari jumlah penduduk yang terus bertambah. Dan walaupun Rawa Biru akan tetap menjadi sumber air utama tetapi harus ada sumber air alternative,” sarannya tanpa menyebutkan jumlah debit air yang pasti saat ini.
Dalam kesempatan kemarin Dadang juga ingin meluruskan persepsi masyarakat tentang Rawa Biru yang selama ini dianggap sebagai sumber air. Memang Rawa Biru adalah sumber air utama bagi masyarakat di Merauke, akan tetapi sumber air tersebut bukan seperti sumber air yang berasal dari gunung seperti yang ada di daerah Sentani, Kabupaten Jayapura dan lainnya.
“Ini dikatakan sumber air karena memang menghidupi masyarakat di Merauke, tetapi di Rawa Biru itu adalah tempat penampungan air yang ditadah dari hujan oleh PDAM dan dialirkan lagi ke masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu menyinggung ihwal pola hidup masyarakat Rawa Biru, apakah pola mereka yang membuang limbah rumah tangga sembarang bisa memengaruhi kondisi air yang digunakan untuk kebutuhan utama masyarakat di Merauke ini. Jawab Dadang, berdasarkan laporan yang diterima BTNW dari UGM yang melakukan penelitian terhadap kondisi air rawa Biru pada Maret-Agustus 2012 lalu, dimana air tersebut masih bagus dan layik konsumsi.
“Artinya air disana belum tercemar sehingga layik dikonsumsi. Memang ada limbah pipa dari PDAM disana bisa membuat pencemaran, tetapi tidak terlalu signifikan,” tutupnya. (lea/achi/LO1)
Kepala Balai Taman Nasional Wasur (BTNW) Dadang Suganda membenarkan, bahwa sudah menjadi hal lumrah jika musim kemarau tiba debit air di Rawa Biru pasti berkurang. “Jadi ketika suplai air berkurang maka airpun di dalamnya akan berkurang,” tutur Dadang kepada wartawan saat bincang-bincang soal debit air di Rawa Biru yang berkurang akibat musim kemarau, Rabu (24/10) kemarin.
Lebih jelas akibat musim kemarau, pengurangan air di penampungan Rawa Biru berkurang karena penguapan air yang begitu tinggi akibat musim tersebut. Namun demikian, debit yang ada saat ini masih dirasa cukup untuk mengcover kebutuhan masyarakat.
“Kalau mengocover saya rasa masih bisa. Hanya saja begini, kedepannya memang pada akhirnya Pemerintah daerah harus mencari sumber air lain. Ini efek dari jumlah penduduk yang terus bertambah. Dan walaupun Rawa Biru akan tetap menjadi sumber air utama tetapi harus ada sumber air alternative,” sarannya tanpa menyebutkan jumlah debit air yang pasti saat ini.
Dalam kesempatan kemarin Dadang juga ingin meluruskan persepsi masyarakat tentang Rawa Biru yang selama ini dianggap sebagai sumber air. Memang Rawa Biru adalah sumber air utama bagi masyarakat di Merauke, akan tetapi sumber air tersebut bukan seperti sumber air yang berasal dari gunung seperti yang ada di daerah Sentani, Kabupaten Jayapura dan lainnya.
“Ini dikatakan sumber air karena memang menghidupi masyarakat di Merauke, tetapi di Rawa Biru itu adalah tempat penampungan air yang ditadah dari hujan oleh PDAM dan dialirkan lagi ke masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu menyinggung ihwal pola hidup masyarakat Rawa Biru, apakah pola mereka yang membuang limbah rumah tangga sembarang bisa memengaruhi kondisi air yang digunakan untuk kebutuhan utama masyarakat di Merauke ini. Jawab Dadang, berdasarkan laporan yang diterima BTNW dari UGM yang melakukan penelitian terhadap kondisi air rawa Biru pada Maret-Agustus 2012 lalu, dimana air tersebut masih bagus dan layik konsumsi.
“Artinya air disana belum tercemar sehingga layik dikonsumsi. Memang ada limbah pipa dari PDAM disana bisa membuat pencemaran, tetapi tidak terlalu signifikan,” tutupnya. (lea/achi/LO1)

Artikel 