Gundukan-gundukan tanah mirip stalakmit menyembul di antara pepohonan. Suku Marind yang mendiami wilayah Indonesia paling timur menyebut gundukan-gundukan ini, musamus.
Wisatawan yang datang ke Merauke sering menyebut musamus itu rumah semut. Padahal bukan. Musamus itu rumah rayap.
Bagi wisatawan, musamus ini sangat luar biasa. Pemandangan rumah semut raksasa ini bisa kita saksikan di sepanjang jalan raya trans Papua yang melintasi Taman Nasional Wasur. Juga beberapa wilayah di sekitar Merauke.
Kenapa di Taman Nasional Wasur terdapat banyak musamus? Bisa jadi karena tanah di taman nasional ini basah, sehingga koloni rayap membangun sarangnya di permukaan tanah.
Musamus atau rumah rayap ini menjadi pemandangan luar biasa karena ukurannya raksasa. Rata-rata tingginya 2 meter, tetapi ada juga yang mencapai 4 meter.
Padahal, rumah rayap ini dibuat dari butiran tanah kecil-kecil, remahan kayu, liur rayap, dan kotoran rayap.
Dilihat dari luar, gundukan tanah ini mirip seperti stalakmit di dalam gua kapur. Bentuknya mengerucut dengan lekukan-lekukan yang sangat unik. Jika diamati, pada dinding musamus terdapat lubang-lubang kecil. Bisa jadi lubang pori-pori tersebut berfungsi sebagai ventilasi udara.
Meskipun terbuat dari butiran tanah, musamus sangat keras. Karena di daerah ini jarang sekali ditemukan batu, pada zaman dulu suku Marind sering memanfatkan bongkahan masamus untuk memasak.
Caranya, pecahan musamus yang kering itu dibakar sampai panas, lalu dipergunakan untuk memeram ubi atau daging pada rangkaian upacara bakar batu.
Rumah rayap musamus adalah keunikan alam daerah Merauke. Tak heran, nama musamus pun diabadikan menjadi nama universitas (Universitas Musamus Merauke, disingkat Unimmer), nama pesawat, juga dijadikan lambang pemerintahan daerah Kabupaten Merauke.
Penulis: Sigit Wahyu, Sumber foto: detik.com, blogspot.com

Artikel 