Demi menafkahi keluarga, Heri Akanmor (51), memilih bekerja sebagai tukang parkir di lokalisasi Yobar, Merauke. Selain sebagai tukang parkir, rupanya jasa Heri juga kerap dimanfaatkan untuk mengintai setiap pengunjung yang datang. Berikut kisahnya dicurahkan kepada Bintang Papua.
Laporan : Lidya Salmah Ahnazsyiah - Merauke
Heri Akanmor, tukang parkir di lokalisasi Yobar, Merauke.
Mengenakan kaos oblong putih bergaris besar, pria berperawakan tegap itu tengah duduk serius di pos masuk lokalisasi Yobar, Minggu (23/9) sekitar pukul 16.00 WIT. Pria asal Tanjung Kasuari, Kabupaten Asmat itu, bernama lengkap Heri Akanmor, biasa dipanggil Bapak Heri.
Kepada Bintang Papua, Heri mengatakan, ia sudah bekerja selama kurang lebih 9 tahun sebagai tukang parkir sekaligus sekuriti di lokalisasi Yobar. Berkarir sebagai tukang parkir merangkap sekuriti, sangat dinikmati ayah tiga orang ini. Alasannya, hanya pekerjaan seperti ini yang bisa ia lakukan, maklum, latar pendidikan sekolahnya tidak setinggi sekolah menengah atas (SMA).
‘Bagi bapak kerja begini pun sudah bersyukur dari pada tidak kerja sama sekali. Apalagi ini untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan bapak sebagai kepala keluarga punya tanggung jawab yang besar,’ ucapnya mengawali obrolan kemarin.
Sejak jam 8 pagi hingga jam 7 malam, begitulah kesibukan Heri sebagai tukang parkir. Lantas lepas dari jam 7 malam hingga jam 12 malam, Heri berpindah di pos keamanan sebagai sekuriti. Heri mengaku upah yang diperoleh dari tukang parkir dan sekuritiy lumayan cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga, dimana setiap bulannya Heri mendapatkan upah dari pengelola lokalisasi sebesar Rp 900 ribu untuk honor tukang parkir dan Rp 500 ribu ia peroleh dari menjadi sekuriti. Tidak hanya itu, sang istri, Marta yang sudah mendapinginya mengarungi kehidupan sekitar 30 tahun pun turut membantunya bekerja sebagai tukang cuci pakaian dan sapu-sapu di kompleks lokalisasi tersebut.
‘Intinya bapak itu bersyukur dengan apa yang ada. Dapat gaji sedikit maupun banyak itu semua tergantung dari seberapa besar kita bersyukur. Kalau tidak bersyukur ujung-ujungnya merasa kekurangan terus, jadi dinikmati saja,’ katanya seraya tersenyum.
Bekerja sebagai tukang parkir di lokalisasi, bagi Heri punya pengalaman yang juga mendatangkan rejeki tersendiri, karena ia biasa dipakai ibu-ibu yang ingin mengintai suaminya yang sering berkunjung ke lokalisasi tersebut. Dan hasil pengintaian yang ia laporkan, mendapat imbalan, yakni diberi rokok atau uang pulsa.
‘Biasanya ada istrinya orang datang suruh bapak lihat-lihat suaminya yang suka ke sini. Mereka sebelumnya kasih lihat foto ke bapak, kalau sudah lihat dan tahu, bapak kasih tahu, oh betul dia ada datang tadi. Kalau sudah begitu langsung dapat kasih uang rokok sama pulsa,’ bebernya.
Jika sebuah pekerjaan pastinya tidak lepas dari suka dan duka, lain hal dengan yang dirasakan Heri, dimana ia lebih banyak merasakan suka. Alasannya, pekerjaan yang digelutinya ini sangat enteng dan tidak menguras tenaga seperti pekerjaan buruh kebanyakan. Dan sebelum menutupi perbincangan kemarin, Heri hanya berpesan bahwa jangan pernah menilai seseorang dari pekerjaan yang digelutinya.
‘Seperti bapak kerja di lokalisasi ini, ini kan bukan pekerjaan yang haram, sama dengan mbak-mbak yang kerja di dalam sebagai WTS. Karena kami bekerja ini demi mencari nafkah untuk keluarga kami,’tandasnya. **

Artikel 