Sebanyak 56 warga negara Indonesia atau 9 Kepala Keluarga yang selama ini tinggal di PNG dengan status Pelintas Batas, kini berada di Kampung Nasem, Distrik Merauke, sejak 26 Desember 2008 sampai sekarang ini. Berdasarkan informasi yang diterima Cenderawasih Pos, 56 Pelintas Batas tersebut datang dari Olmawata, Province Daruh, PNG dengan menggunakan 6 unit speed boad. Di Kampung Nasem tersebut, para pelintas batas itu tinggal dengan keluarga mereka eks pelintas batas yang dikembalikan oleh Pemerintah Kabupaten Merauke beberapa waktu lalu.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perbatasan Kabupaten Merauke R. Gatot Marsigit, S.Sos, MM, ketika ditemui membenarkan kedatangan 56 warga Pelintas Batas di Kampung Nasem tersebut. ''Mereka 9 keluarga. Kedatangan mereka ke Merauke itu untuk melakukan Natal bersama keluarga mereka yang ada di Merauke,'' kata Gatot. Disebutkan, 56 orang yang datang tersebut merupakan anak dan cucu dari orang tua mereka yang pergi dan tinggal di PNG sekitar 40 tahun lalu. ''Orang tua mereka sudah meninggal di sana, jadi yang datang ini anak-anak dan cucu mereka,'' jelasnya.
Selama berada di Merauke itu, lanjut, mantan Kepala Satpol PP ini, mereka dalam pengawasan pihaknya, pihak distrik dan instansi terkait. ''Khususnya dari Satuan Pengamanan Perbatasan Yonif 752/PYS,'' tandasnya.
Menurut dia, kedatangan 56 pelintas batas tersebut selain untuk Natal bersama keluarganya di Merauke juga sekaligus untuk melihat kampung halaman mereka dengan informasi yang mereka terima di PNG jika di Papua khususnya Merauke semakin kondusif dan lebih berkembang. ''Mereka mengaku bahwa di negeri orang mereka mengaku tidak punya status jelas, ekonomi sangat susah dan kriminilitas cukup tinggi di daerah yang mereka tempati,'' terangnya.
Ditanya apakah ada keinginan untuk menetap di Merauke dan tidak balik ke PNG, menurut Gatot, keinginan dan niat tersebut ada dari mereka untuk kembali menetap di Merauke. ''Tapi, saat ini mereka masih menjajaki kemungkinan untuk menetap dan tidak balik ke sana,'' tandasnya.
Soal biaya hidup selama tinggal di Merauke itu, menurut Gatot, selain dari keluarga mereka juga masyarakat yang ada di sekitar kampung tersebut. Gatot juga berharap agar masyarakat tetap membantu mereka dalam melakukan interaksi di sekitar kampung tersebut, sebab para pelintas batas itu tidak mengerti Bahasa Indonesia. (ulo)
Sumber : Cenderawasih Pos
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perbatasan Kabupaten Merauke R. Gatot Marsigit, S.Sos, MM, ketika ditemui membenarkan kedatangan 56 warga Pelintas Batas di Kampung Nasem tersebut. ''Mereka 9 keluarga. Kedatangan mereka ke Merauke itu untuk melakukan Natal bersama keluarga mereka yang ada di Merauke,'' kata Gatot. Disebutkan, 56 orang yang datang tersebut merupakan anak dan cucu dari orang tua mereka yang pergi dan tinggal di PNG sekitar 40 tahun lalu. ''Orang tua mereka sudah meninggal di sana, jadi yang datang ini anak-anak dan cucu mereka,'' jelasnya.
Selama berada di Merauke itu, lanjut, mantan Kepala Satpol PP ini, mereka dalam pengawasan pihaknya, pihak distrik dan instansi terkait. ''Khususnya dari Satuan Pengamanan Perbatasan Yonif 752/PYS,'' tandasnya.
Menurut dia, kedatangan 56 pelintas batas tersebut selain untuk Natal bersama keluarganya di Merauke juga sekaligus untuk melihat kampung halaman mereka dengan informasi yang mereka terima di PNG jika di Papua khususnya Merauke semakin kondusif dan lebih berkembang. ''Mereka mengaku bahwa di negeri orang mereka mengaku tidak punya status jelas, ekonomi sangat susah dan kriminilitas cukup tinggi di daerah yang mereka tempati,'' terangnya.
Ditanya apakah ada keinginan untuk menetap di Merauke dan tidak balik ke PNG, menurut Gatot, keinginan dan niat tersebut ada dari mereka untuk kembali menetap di Merauke. ''Tapi, saat ini mereka masih menjajaki kemungkinan untuk menetap dan tidak balik ke sana,'' tandasnya.
Soal biaya hidup selama tinggal di Merauke itu, menurut Gatot, selain dari keluarga mereka juga masyarakat yang ada di sekitar kampung tersebut. Gatot juga berharap agar masyarakat tetap membantu mereka dalam melakukan interaksi di sekitar kampung tersebut, sebab para pelintas batas itu tidak mengerti Bahasa Indonesia. (ulo)
Sumber : Cenderawasih Pos

Artikel 