Merauke, Perbatasan paling timur Indonesia terdapat daerah yang saat ini perekonomiannya sedang melaju pesat, yaitu kabupaten Merauke. Seperti halnya wilayah Indonesia yang berkembang, terdapat pertumbuhan di berbagai sektornya. Tentunya perkembangan sektor wilayah kabupaten ini didukung oleh kondisi geografis lahan dan kualitas sumber daya manusianya.
Secara makroekonomi kabupaten Merauke memliki pertumbuhan ekonomi yang lebih besar daripada propinsi Papua sendiri. Jika tahun 2005 Propinsi Papua mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5 %, maka kabupaten Merauke menghadapi pertumbuhan ekonomi sebesar 6 %. Pola peningkatan yang mirip ketika melihat tingkat kesejahtaraan penduduk kabupaten Merauke yang semakin lama semakin meningkat. Jika dihitung rata-rata pertumbuhan PDRB per kapita kabupaten Merauke dalam kurun 2000-2005 ternyata nilainya sangat besar yaitu 15.91 %. Kesejahteraan penduduk Merauke ini juga dapat terlihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2004 cukup besar dengan angka harapan hidup 60.9 tahun.
Tentunya dibalik performance pertumbuhan yang besar terdapat motor yang menstimulus jalannya investasi. Sesuai dengan kondisi fisik wilayah kabupaten Merauke yang sebagian besar dataran rendah dan dikelilingi hutan luas, tentunya pertumbuhan di sektor ini sangat mempengaruhi perekonomian Merauke.
Kawasan Perhutanan kabupaten Merauke ini terbagi menjadi beberapa fungsi (multifungsi), antara lain, hutan kawasan suaka alam, hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi konversi, dan areal penggunaan lain. Sebagian besar kawasan hutan di kabupaten Merauke ini dimanfaatkan menjadi hutan tanaman industri untuk memenuhi industri utama yaitu pulp/kertas.
Area penggunaan lain dari kawasan hutan kabupaten Merauke ini digunakan sebagai lahan pemukiman masyarakat setempat. Terlihat pula di tabel bahwa hutan produksi menjadi penyokong utama industri yang memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian Merauke selain pertanian. Penggunaan lahan hutan suaka alam dapat menjadi salah satu daya tarik para wisatawan berkunjung karena banyak hewan-hewan yang dilindungi.
Kemudian, sisa lahan yang nonhutan dari kabupaten merauke ini dimanfaatkan untuk fasilitas pertanian, perkebunan, pemukiman dalam proses penutupan lahan Merauke sendiri.
Pertanian yang merupakan kawasan non hutan memanfaatkan luas hutan sekitar 1.2 % secara efektf menghasilkan komoditas-kooditas andalan seperti padi, jagung, ubi jalar dan sebagainya. Pertaniannya ternyata menyumbang sekitar lebih dari 2 persen terhadap perekonomian kabupaten Merauke ini.
Lahan investasi masih sangat terbuka pada kabupaten Merauke ini. Bahkan saat ini tengah dibangun jalan yang menghubungi Merauke dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia agar terjangkau oleh para pengunjung baik domestik maupun mancanegara.
Merupakan tugas besar pemerintah daerah Merauke untuk menarik investasi dari asing untuk memanfaatkan lahan seoptimal mungkin. Saat ini terdapat 3 perusahaan yang memanfaatkan hutan sebagai lahan prduksinya yaitu PT Tunggal Yudhi, PT Kebun Sari Putra, dan PT Papua Rimba. Tak lupa pula yang paling penting adalah bagaimana dapat menanam kembali hutan yang telah ditebang dan memperkirakan usia hutan sebelumnya agar pembangunan yang berjalan dapat tumbuh secara berkelanjutan.
(sumber: beritadaerah.com)
Secara makroekonomi kabupaten Merauke memliki pertumbuhan ekonomi yang lebih besar daripada propinsi Papua sendiri. Jika tahun 2005 Propinsi Papua mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5 %, maka kabupaten Merauke menghadapi pertumbuhan ekonomi sebesar 6 %. Pola peningkatan yang mirip ketika melihat tingkat kesejahtaraan penduduk kabupaten Merauke yang semakin lama semakin meningkat. Jika dihitung rata-rata pertumbuhan PDRB per kapita kabupaten Merauke dalam kurun 2000-2005 ternyata nilainya sangat besar yaitu 15.91 %. Kesejahteraan penduduk Merauke ini juga dapat terlihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2004 cukup besar dengan angka harapan hidup 60.9 tahun.
Tentunya dibalik performance pertumbuhan yang besar terdapat motor yang menstimulus jalannya investasi. Sesuai dengan kondisi fisik wilayah kabupaten Merauke yang sebagian besar dataran rendah dan dikelilingi hutan luas, tentunya pertumbuhan di sektor ini sangat mempengaruhi perekonomian Merauke.
Kawasan Perhutanan kabupaten Merauke ini terbagi menjadi beberapa fungsi (multifungsi), antara lain, hutan kawasan suaka alam, hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi konversi, dan areal penggunaan lain. Sebagian besar kawasan hutan di kabupaten Merauke ini dimanfaatkan menjadi hutan tanaman industri untuk memenuhi industri utama yaitu pulp/kertas.
Area penggunaan lain dari kawasan hutan kabupaten Merauke ini digunakan sebagai lahan pemukiman masyarakat setempat. Terlihat pula di tabel bahwa hutan produksi menjadi penyokong utama industri yang memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian Merauke selain pertanian. Penggunaan lahan hutan suaka alam dapat menjadi salah satu daya tarik para wisatawan berkunjung karena banyak hewan-hewan yang dilindungi.
Kemudian, sisa lahan yang nonhutan dari kabupaten merauke ini dimanfaatkan untuk fasilitas pertanian, perkebunan, pemukiman dalam proses penutupan lahan Merauke sendiri.
Pertanian yang merupakan kawasan non hutan memanfaatkan luas hutan sekitar 1.2 % secara efektf menghasilkan komoditas-kooditas andalan seperti padi, jagung, ubi jalar dan sebagainya. Pertaniannya ternyata menyumbang sekitar lebih dari 2 persen terhadap perekonomian kabupaten Merauke ini.
Lahan investasi masih sangat terbuka pada kabupaten Merauke ini. Bahkan saat ini tengah dibangun jalan yang menghubungi Merauke dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia agar terjangkau oleh para pengunjung baik domestik maupun mancanegara.
Merupakan tugas besar pemerintah daerah Merauke untuk menarik investasi dari asing untuk memanfaatkan lahan seoptimal mungkin. Saat ini terdapat 3 perusahaan yang memanfaatkan hutan sebagai lahan prduksinya yaitu PT Tunggal Yudhi, PT Kebun Sari Putra, dan PT Papua Rimba. Tak lupa pula yang paling penting adalah bagaimana dapat menanam kembali hutan yang telah ditebang dan memperkirakan usia hutan sebelumnya agar pembangunan yang berjalan dapat tumbuh secara berkelanjutan.
(sumber: beritadaerah.com)

Artikel 