Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya.
UPDATE!! Berita di Radar Merauke dapat dibaca langsung lewat Smartphone Android! Baca fiturnya DISINI atau Download aplikasinya disini : LINK Download Android RadarMeraukeCom.APK !!! Baca berita Via Opera Mini Atau Browser Handphone (Blackberry/Iphone/Symbian) : http://www.radarmerauke.com/?m=1 .

Monday, 26 January 2009

Kabupaten Merauke Berpotensi Menjadi Sentra Produksi Beras Nasional

Potensi alam yang dimiliki Kabupaten Merauke sangat mendukung bagi pengembangan tanaman padi sehingga berpotensi menjadi salah satu sentra produksi beras nasional. Menurut data Kabupaten Merauke Tahun 2006 yang dirilis oleh Pemkab Merauke, kabupaten ini mempunyai lahan seluas 1,7 juta ha yang secara biofisik sesuai bagi pertanaman padi sawah. Lahan yang telah dibuka baru sekitar 21.300 ha dengan luas panen sekitar 15.700 ha.

Hasil penelitian yang dilakukan Dr. Abdul Karim Makarim dan kawan-kawan dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) menyebutkan, hasil gabah kering giling (GKG) rata-rata saat ini di Merauke sekitar 4 ton/ha. Bila hasil tersebut bisa ditingkatkan menjadi 6 ton/ha dan luas panennya ditingkatkan mejadi 0,5 juta ton, maka produksi GKG Merauke per tahun dapat mencapai 3 juta ton. Angka tersebut sudah melebihi kebutuhan Papua (termasuk Irjabar) dan Maluku di tahun 2010 yang diprediksi menjadi 686.000 ton GKG. Belum termasuk produksi dari kabupaten-kabupaten lain di Papua. Sedangkan saat ini, Papua baru dapat memenuhi 30-40% kebutuhanya akan beras.

Bila pengembangan tanaman padi di Merauke digalakkan, peluang pemenuhan permintaan beras oleh daerah-daerah di luar Papua, Maluku serta Papua Nugini dan sekitarnya sangatlah besar. Hal ini merupakan peluang pasar yang menjanjikan bagi pengembangan padi di Merauke. Peluang itu dapat semakin terbuka lebar bila disertai pengembangan industri pascapanen padi.

Dilihat dari potensi alam, produksi dan pemasaran, Merauke berkesempatan menjadi lumbung padi di Indonesia bagian timur. Namun hambatan yang muncul adalah dari aspek budaya yang masih kental di sana, apalagi padi bukanlah makanan pokok masyarakat asli Papua.

Dr. Adi Widjono dari Puslitbangtan telah melakukan kajian tentang analisis sosial budaya pengembangan padi di Merauke. Ia menyebutkan saat ini masyarakat asli Papua tertarik untuk ikut membudidayakan padi. Ini mungkin disebabkan padi tidak terikat adat dan secara ekonomis lebih menguntungkan dibanding komoditas tradisional. "Masyarakat Papua hingga saat ini masih mensakralkan sagu, mereka benar-benar menghormati sagu, disinilah terdapat faktor hambatan budaya atau adat," katanya kepada Majalah Agrotek, dalam acara seminar rutin di Puslitbangtan Bogor beberapa waktu yang lalu.

Adi mencontohkan bila ada seseorang yang membawa sejumlah sagu di atas sepeda, kemudian sagu tersebut berceceran ke tanah dan ada orang lain yang melihat, maka orang yang membawa sagu tadi dalam kondisi terancam keselamatannya karena dianggap sudah tidak menghormati sagu. Ditambahkan pula, hasil pengamatannya menunjukkan upaya mendatangkan tenaga terampil dari luar Merauke sebaiknya dihindarkan dalam suatu masa tertentu.

Untuk dapat mengembangkan padi secara optimal di Merauke, faktor budaya asli perlu menjadi perhatian. Berbagai komoditas tradisional dan komoditas berpotensi lainnya perlu ikut dikembangkan secara seimbang. Sistem penyuluhan dengan pendekatan partisipatif, sistematis, dan terencana diperlukan terutama untuk kulturasi masyarakat asli pada budidaya padi. Penyuluh harus berfungsi sebagai jembatan informasi dua arah, sebagai katalisator untuk menumbuhkan adanya rasa saling pengertian antara masyarakat tani dan, khususnya, pemerintah.

Penyuluh berkualifikasi tinggi pun diperlukan dalam jumlah besar. Disamping untuk meningkatkan produktivitas petani padi yang telah ada, penyuluhan harus mampu menyadarkan dan memberdayakan masyarakat asli. Di pihak lain, sosialisasi aspek budaya lokal perlu disampaikan kepada masyarakat pendatang untuk lebih memahami dan menghargai budaya asli. Tak ketinggalan pengembangan secara simultan berbagai sektor dan subsektor lain, seperti sarana transportasi, sistem tata niaga, maupun industri pasca panen, mutlak diperlukan.

Sumber : Departemen Pertanian RI


Share on :
Silahkan berikan komentar melalui Facebook. Jangan lupa login dulu melalui akun facebook anda. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan radarmerauke.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Ditulis Oleh : ~ Portal Berita Merauke

Artikel Kabupaten Merauke Berpotensi Menjadi Sentra Produksi Beras Nasional ini diposting oleh Portal Berita Merauke pada hari Monday, 26 January 2009. Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Copyright berita dalam site ini milik pemilik berita: Kompas, Cenderawasihpos, Tabloid Jubi, Jaringan Pasificpost, Infopublik, Jaringan JPNN dll. Radar Merauke adalah web personal yang merangkum berita dari berbagai media.
 
© Copyright RadarMerauke.com | Portal Berita Merauke @Since 2008 - 2013 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Owner Template | Published by Owner Template and Owner
WWW.RADARMERAUKE.COM - PORTAL BERITA MERAUKE
( www.radarmerauke.me | www.radarmerauke.asia | Email : radarmerauke@gmail.com | radarmerauke@yahoo.com )

Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya. Copyright berita dalam site ini milik pemilik berita: Kompas, Bintang Papua, Cenderawasihpos, Tabloid Jubi, Jaringan Pasificpost, Infopublik, suluhpapua, Jaringan JPNN dll. Radar Merauke adalah web personal yang merangkum berita dari berbagai media.