MERAUKE,ARAFURA,-PT.Freeport Indonesia kembali menggelar presentasi tentang Tailing di Kabupaten Merauke yang dalam hal ini berlangsung di Swiss-belHotel Merauke, belum lama ini. Hadir dalam kesempatan itu sejumlah pihak terkait seperti dari kalangan investor, kontraktor serta di lingkup Pemda Merauke, khususnya di Bappeda. Usai presentasi diadakan sesi tanya jawab seputar Tailing yang mampu memperoleh antusiasme dari tamu undangan yang hadir malam itu. Dalam sambutannya Kepala Bappeda Kabupaten Merauke Ir.Daswil, M.MT mengemukakan bahwa presentasi Tailing yang diadakan pihak Freeport sudah kedua kalinya terkait dengan limbah pasir dari Freeport . Setelah dilakukan presentasi awal atau MoU dari provinsi maka sekarang presentasi kembali dilakukan. Oleh sebab itu terkait dengan kondisi Tailing yang sudah digunakan sebelumnya di lokasi yang sudah ada maka diharapkan pada presentasi kali ini dapat kembali dijelaskan tentang bahan-bahan yang telah digunakan selama ini.
Khususnya yang terkait dengan kualitasnya karena jika dilihat, di Timika material ini sudah 80% digunakan namun belum diketahui efek atau dampak lingkungan yang bisa ditimbulkan. Oleh sebab itu hasil dari lab kesehatan maupun lab teknis sehubungan dengan hal ini harus mendapatkan perhatian. Selain itu dipandang penting untuk dapat dijelaskan pula mengenai kelemahan dari bahan ini dan selaku pihak Pemda tentunya akan bersama-sama melihat kondisi tersebut.
Apalagi dari pihak investor dan kontraktor juga diundang untuk mengikuti jalannya presentasi sehingga perlu dijelaskan secara detil. Misalnya saja kualitas yang ada dijamin bertahan untuk berapa tahun karena memang harus ada jaminan ketika bahan tersebut akan digunakan. Sementara itu General Supt.PT.Freeport Indonesia Ermon Hasiholan dalam presentasinya menjelaskan bahwa pihaknya dalam presentasi kali ini memberikan gambaran umum mengenai Freeport dan bahan Tailing, lalu mengenai material-material yang digunakan untuk Tailing. Dijelaskan, Freeport merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia, terutama untuk penghasil tembaga meskipun emas dan perak juga turut dihasilkan.
Freeport menghasilkan 200.000 hingga 250.000 ton/perhari dimana bahan diambil dari dua lokasi yang berbeda. Setelah diambil bebatuannya lalu dilanjutkan dengan proses penghancuran biji. Mesin penggiling yang digunakan tergolong sangat besar dan setelah itu dilakukan proses pengapungan dengan menggunakan reaksi fisika. “Mungkin banyak yang salah mengartikan karena menganggap Freeport menggunakan reaksi kimia karena sebenarnya reaksi fisika yang selama ini digunakan,”tukasnya. Lebih lanjut ia mengungkapkan, setelah proses pengapungan maka sekitar 3% akan berupa konsentrat dan 97% yang disebut dengan Tailing atau pasir sisa endapan(iis)
Khususnya yang terkait dengan kualitasnya karena jika dilihat, di Timika material ini sudah 80% digunakan namun belum diketahui efek atau dampak lingkungan yang bisa ditimbulkan. Oleh sebab itu hasil dari lab kesehatan maupun lab teknis sehubungan dengan hal ini harus mendapatkan perhatian. Selain itu dipandang penting untuk dapat dijelaskan pula mengenai kelemahan dari bahan ini dan selaku pihak Pemda tentunya akan bersama-sama melihat kondisi tersebut.
Apalagi dari pihak investor dan kontraktor juga diundang untuk mengikuti jalannya presentasi sehingga perlu dijelaskan secara detil. Misalnya saja kualitas yang ada dijamin bertahan untuk berapa tahun karena memang harus ada jaminan ketika bahan tersebut akan digunakan. Sementara itu General Supt.PT.Freeport Indonesia Ermon Hasiholan dalam presentasinya menjelaskan bahwa pihaknya dalam presentasi kali ini memberikan gambaran umum mengenai Freeport dan bahan Tailing, lalu mengenai material-material yang digunakan untuk Tailing. Dijelaskan, Freeport merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia, terutama untuk penghasil tembaga meskipun emas dan perak juga turut dihasilkan.
Freeport menghasilkan 200.000 hingga 250.000 ton/perhari dimana bahan diambil dari dua lokasi yang berbeda. Setelah diambil bebatuannya lalu dilanjutkan dengan proses penghancuran biji. Mesin penggiling yang digunakan tergolong sangat besar dan setelah itu dilakukan proses pengapungan dengan menggunakan reaksi fisika. “Mungkin banyak yang salah mengartikan karena menganggap Freeport menggunakan reaksi kimia karena sebenarnya reaksi fisika yang selama ini digunakan,”tukasnya. Lebih lanjut ia mengungkapkan, setelah proses pengapungan maka sekitar 3% akan berupa konsentrat dan 97% yang disebut dengan Tailing atau pasir sisa endapan(iis)

Artikel 