MAPPI,-Banyak sekolah di kampung-kapung di Mappi tidak berjalan. Meski kekuarangan guru tetapi ada guru, namun, guru yang tidak mau mengajar dan suka tinggalkan tempat tugas alias mangkir.
Kondisi ini menjadi ‘momok’ masyarakat dan membandingkan dulu guru dengan berbagai ketertinggal tetap betah di kampung, tetapi sekarang zaman semakin maju tapi guru enggan untuk lama-lama bahkan tidak mau di kampung.
Menurut Kepala Dinas P & P Kabupaten Mappi, Drs Paulus Nong, M.Pd, mentalitas gur mangkir itu sebuah realitas terjadinya pergeseran nilai saat ini. Karena dulu, dengan berbagai keterbatasan guru-guru betah di kampung, sekarang zaman semakin banyak kemudahan justru guru tidak betah di kampung? Jadi, ada pergeseran nilai.
Guru dulu mengabdi tampa pamri, gaji kecil, rumah tidak ada, transportasi sulit, mereka masih tetap mengabdi. Tapi, sekarang dengan gaji yang sedikit lumayan bahkan ada tunjangan-tunjangan tapi justru tidak betah mengajar di kampung.
“Ya, ada pergeseran nilai. Sebab, guru-guru dulu mengabdi tanpa pamri sekarang dengan banyak kemudahan justru sebaliknya tidak mengajar,”ujarnya.
Soal guru mangkir di Mappi, kata Nong, penyebabnya ada yang mangkir karena akibat faktor eksternal yakni fasilitas perumahan guru belum tersedia, sarana prasarana terbatas dan transportasi juga terbatas. Tetapi faktor internalnya adalah bersumber dari pribadi guru sendiri menyangkut punya hati tidak untuk mengabdi diri kepada anak-anak didik mereka.
“Jadi, ini soal mentalitas. Seorang guru adalah panggilan, maka mentalitas guru yang baik adalah guru yang sesuai panggilan, profesionalisme, memiliki dedikasi, loyalitas, pengabdian terutama bekerja dengan hati. Hati yang tulus iklas mengabdi untuk anak-anak Mappi,”ujarnya.
Sebaliknya, mentalitas guru yang tidak baik adalah guru yang tidak profesional, tidak mempunyai dedikasi, loyalitas, tidak punya hati untuk mengabdi, menjadi guru karena termotivasi untuk menjadi pegawai negeri sehingga tidak berkerja dengan hati yang tulus iklas untuk mengabdi kepada anak-anak didiknya.
“Jadi, menjadi guru itu muliah karena bisa memanusiakan manusia, karena itu banggalah seorang guru. kalau guru bekerja dengan tulus iklas, kelak berkat pun akan diperoleh,”imbuh Nong.(Jin)
Kondisi ini menjadi ‘momok’ masyarakat dan membandingkan dulu guru dengan berbagai ketertinggal tetap betah di kampung, tetapi sekarang zaman semakin maju tapi guru enggan untuk lama-lama bahkan tidak mau di kampung.
Menurut Kepala Dinas P & P Kabupaten Mappi, Drs Paulus Nong, M.Pd, mentalitas gur mangkir itu sebuah realitas terjadinya pergeseran nilai saat ini. Karena dulu, dengan berbagai keterbatasan guru-guru betah di kampung, sekarang zaman semakin banyak kemudahan justru guru tidak betah di kampung? Jadi, ada pergeseran nilai.
Guru dulu mengabdi tampa pamri, gaji kecil, rumah tidak ada, transportasi sulit, mereka masih tetap mengabdi. Tapi, sekarang dengan gaji yang sedikit lumayan bahkan ada tunjangan-tunjangan tapi justru tidak betah mengajar di kampung.
“Ya, ada pergeseran nilai. Sebab, guru-guru dulu mengabdi tanpa pamri sekarang dengan banyak kemudahan justru sebaliknya tidak mengajar,”ujarnya.
Soal guru mangkir di Mappi, kata Nong, penyebabnya ada yang mangkir karena akibat faktor eksternal yakni fasilitas perumahan guru belum tersedia, sarana prasarana terbatas dan transportasi juga terbatas. Tetapi faktor internalnya adalah bersumber dari pribadi guru sendiri menyangkut punya hati tidak untuk mengabdi diri kepada anak-anak didik mereka.
“Jadi, ini soal mentalitas. Seorang guru adalah panggilan, maka mentalitas guru yang baik adalah guru yang sesuai panggilan, profesionalisme, memiliki dedikasi, loyalitas, pengabdian terutama bekerja dengan hati. Hati yang tulus iklas mengabdi untuk anak-anak Mappi,”ujarnya.
Sebaliknya, mentalitas guru yang tidak baik adalah guru yang tidak profesional, tidak mempunyai dedikasi, loyalitas, tidak punya hati untuk mengabdi, menjadi guru karena termotivasi untuk menjadi pegawai negeri sehingga tidak berkerja dengan hati yang tulus iklas untuk mengabdi kepada anak-anak didiknya.
“Jadi, menjadi guru itu muliah karena bisa memanusiakan manusia, karena itu banggalah seorang guru. kalau guru bekerja dengan tulus iklas, kelak berkat pun akan diperoleh,”imbuh Nong.(Jin)

Artikel 