Mahasiswa Politeknik Yayasan Santo Antonius (Yasanto) Merauke Jurusan Akutansi mengeluhkan biaya Praktek Kuliah Lapangan (PKL) sebesar Rp. 9.250.000. PKL itu sendiri dilaksanakan di Akademik Akutansi Trinitas (Aktris) Sorong, Papua Barat.
Hal ini diungkapkan Diana Panjaitan (24) salah satu mahasiswa politeknik Yasanto Merauke, Papua kepada JUBI Minggu, (19/4). Menurutnya, biaya PKL sebesar Rp. 9.250.000 di Aktris Sorong sangat berat bagi mereka. "Tong sudah ikut PKL di Merauke tong su bayar, masa disini tong harus bayar lagi, kerja sama bagaimana ne," ujar Panjaitan dengan nada kecewa sembari menambahkan mereka harus mengontrak rumah untuk tinggal di Sorong, jelas biaya pengeluaran akan membengkak. "Belum tambah uang taksi, uang makan, dan lain-lain," tukasnya.
Dikatakannya, mereka telah melakukan protes kepada Kepada Rektor Atris Sorong Decky Kambu perihal biaya pembayaran PKL tersebut. Namun rektor mengatakan biaya ini sesuai dengan prosedur kerja sama pihaknya dengan Yasanto Merauke. Ditambahkannya, sebanyak 20 Mahasiswa Politeknik Yayasan Santo Antonius (Yasanto) Merauke melakukan PKL di Sorong, Papua Barat selama satu bulan yakni dari April sampai Mei. "Jika PKL berakhir pada Mei maka di perkirakan kitong akan wisuda pada bulan Agustus 2009 mendatang," katanya.
Sementara itu, Rektor Politeknik Yasanto Merauke, Domi menjelaskan menyangkut biaya pembayaran PKL itu sesuai dengan peraturan akademik pada Aktris Sorong. "Kita tak dapat mendikte karena mereka bukan hanya PKL namun kuliah satu semester, sehingga mau tak mau biaya PKL, biaya kuliah, dan wisuda merupakan tanggung jawab mahasiswa," ungkapnya.
Lanjut dia, untuk masalah wisuda pihaknya tak dapat menentukan semua itu tergantung dari kalender akademik Aktris Sorong. "Untuk itu, mahasiswanya diharapkan agar dapat mengikuti seluruh peraturan akademik tersebut dan jangan mencoreng nama baik kampusnya. Sehingga kerja kerja sama ini dapat berjalan lancar," imbuhnya. (Carol Ayomi/Musa Abubar)
Sumber : Tabloid Jubi
Hal ini diungkapkan Diana Panjaitan (24) salah satu mahasiswa politeknik Yasanto Merauke, Papua kepada JUBI Minggu, (19/4). Menurutnya, biaya PKL sebesar Rp. 9.250.000 di Aktris Sorong sangat berat bagi mereka. "Tong sudah ikut PKL di Merauke tong su bayar, masa disini tong harus bayar lagi, kerja sama bagaimana ne," ujar Panjaitan dengan nada kecewa sembari menambahkan mereka harus mengontrak rumah untuk tinggal di Sorong, jelas biaya pengeluaran akan membengkak. "Belum tambah uang taksi, uang makan, dan lain-lain," tukasnya.
Dikatakannya, mereka telah melakukan protes kepada Kepada Rektor Atris Sorong Decky Kambu perihal biaya pembayaran PKL tersebut. Namun rektor mengatakan biaya ini sesuai dengan prosedur kerja sama pihaknya dengan Yasanto Merauke. Ditambahkannya, sebanyak 20 Mahasiswa Politeknik Yayasan Santo Antonius (Yasanto) Merauke melakukan PKL di Sorong, Papua Barat selama satu bulan yakni dari April sampai Mei. "Jika PKL berakhir pada Mei maka di perkirakan kitong akan wisuda pada bulan Agustus 2009 mendatang," katanya.
Sementara itu, Rektor Politeknik Yasanto Merauke, Domi menjelaskan menyangkut biaya pembayaran PKL itu sesuai dengan peraturan akademik pada Aktris Sorong. "Kita tak dapat mendikte karena mereka bukan hanya PKL namun kuliah satu semester, sehingga mau tak mau biaya PKL, biaya kuliah, dan wisuda merupakan tanggung jawab mahasiswa," ungkapnya.
Lanjut dia, untuk masalah wisuda pihaknya tak dapat menentukan semua itu tergantung dari kalender akademik Aktris Sorong. "Untuk itu, mahasiswanya diharapkan agar dapat mengikuti seluruh peraturan akademik tersebut dan jangan mencoreng nama baik kampusnya. Sehingga kerja kerja sama ini dapat berjalan lancar," imbuhnya. (Carol Ayomi/Musa Abubar)
Sumber : Tabloid Jubi

Artikel 