Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (LEMASA) yang didirikan pada tahun 1994 di Timika. Pendirian lembaga ini berdasarkan Surat Kuasa (SK) Bupati Fak-Fak ( Timika saat itu berada dalam wilayah Fak-fak) JP Matondang.
Timika sebagai daerah operasi perusahaan emas, tembaga serta tambang ikutan lainnya dibawah Freeport McMoran tentu militer menjaga asset Negara tersebut dengan sangat resesip apalagi Saat itu di wilayah Papua masih berlaku Daerah Operasi Militer (DOM).Pebruari 2007 diselenggarakan Musyawarah Adat LEMASA dengan biaya yang rencananya Rp 1 milyar dan membengkak Rp 1,5 milyar. Pada Forum ini Amungme Naisorei (Dewan Adat Amungme) memilih direktur baru LEMASA Yan Onawame.
Namun kini Lemasa dibawah pimpinan Yan Onawame dibekukan dan kemudian LEMASA kini diambilalih kembali oleh Thom Beanal sebagai pemilik Lembaga. “Kondisi LEMASA saat ini sulit dipertahankan dan atas permintaan Amungme nei sorei berdasarkan keadaan yang terjadi maka sebagai torei negel, saya mengambilalih kuasa sebagai pimpinan LEMASA,” jelas Tom Beanal.
Pada pertemuan itu, Tom secara tegas mengatakan, kekuasaan tertinggi LEMASA berada ditangan rakyat yang tersebar pada 11 wilayah adat. Bukan pada Direktur Eksekutif LEMASA. “Yang terjadi saat ini, pemutarbalikan fakta seakan-akan pihak eksekutif adalah segala-galanya sehingga rakyat tidak lagi mendapatkan pelayanan,” kata Tom.
Mengenai pengambilalihan jabatan Direktur Eksekutif LEMASA, menurut Tom Beanal, itu terjadi karena tugas-tugas pokok sebagai direktur tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Hal tergolong fatal yang dilakukan Direktur LEMASA adalah mengabaikan saran dan masukan dari para dewan adat untuk perbaikan lembaga adat kedepan. “Kami tidak perlu dengan organisasi yang terlalu besar tapi tidak tahu harus berbuat apa. Cukup dengan enam orang saja, lembaga adat mestinya sudah berjalan karena pelayanan kepada masyarakat itu ada di kampung-kampung,” ujarnya.
Merasa disingkarkan oleh Tom, Yan menuntut balik sebesar Rp 1 triliun. “Saya telah menyurati semua pihak termasuk ke pengadilan dan saya sudah memberi batas waktu hingga bulan maret 2009. Saya akan mejah hijaukan Thom Beanal di pengadilan karena terjadi pencemaran nama baik saya,” tegas Onawame kepada JUBI, Senin (19/1).
Lebih lanjut masih menurutnya pihaknya juga tidak menerima gaji sejak bulan april 2008 lalu. Untuk itu kami telah menyiapkan seluruh berkas gugatan kami” tegasnya. (John Pakage/ Timika)
Sumber : Tabloid Jubi
Timika sebagai daerah operasi perusahaan emas, tembaga serta tambang ikutan lainnya dibawah Freeport McMoran tentu militer menjaga asset Negara tersebut dengan sangat resesip apalagi Saat itu di wilayah Papua masih berlaku Daerah Operasi Militer (DOM).Pebruari 2007 diselenggarakan Musyawarah Adat LEMASA dengan biaya yang rencananya Rp 1 milyar dan membengkak Rp 1,5 milyar. Pada Forum ini Amungme Naisorei (Dewan Adat Amungme) memilih direktur baru LEMASA Yan Onawame.
Namun kini Lemasa dibawah pimpinan Yan Onawame dibekukan dan kemudian LEMASA kini diambilalih kembali oleh Thom Beanal sebagai pemilik Lembaga. “Kondisi LEMASA saat ini sulit dipertahankan dan atas permintaan Amungme nei sorei berdasarkan keadaan yang terjadi maka sebagai torei negel, saya mengambilalih kuasa sebagai pimpinan LEMASA,” jelas Tom Beanal.
Pada pertemuan itu, Tom secara tegas mengatakan, kekuasaan tertinggi LEMASA berada ditangan rakyat yang tersebar pada 11 wilayah adat. Bukan pada Direktur Eksekutif LEMASA. “Yang terjadi saat ini, pemutarbalikan fakta seakan-akan pihak eksekutif adalah segala-galanya sehingga rakyat tidak lagi mendapatkan pelayanan,” kata Tom.
Mengenai pengambilalihan jabatan Direktur Eksekutif LEMASA, menurut Tom Beanal, itu terjadi karena tugas-tugas pokok sebagai direktur tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Hal tergolong fatal yang dilakukan Direktur LEMASA adalah mengabaikan saran dan masukan dari para dewan adat untuk perbaikan lembaga adat kedepan. “Kami tidak perlu dengan organisasi yang terlalu besar tapi tidak tahu harus berbuat apa. Cukup dengan enam orang saja, lembaga adat mestinya sudah berjalan karena pelayanan kepada masyarakat itu ada di kampung-kampung,” ujarnya.
Merasa disingkarkan oleh Tom, Yan menuntut balik sebesar Rp 1 triliun. “Saya telah menyurati semua pihak termasuk ke pengadilan dan saya sudah memberi batas waktu hingga bulan maret 2009. Saya akan mejah hijaukan Thom Beanal di pengadilan karena terjadi pencemaran nama baik saya,” tegas Onawame kepada JUBI, Senin (19/1).
Lebih lanjut masih menurutnya pihaknya juga tidak menerima gaji sejak bulan april 2008 lalu. Untuk itu kami telah menyiapkan seluruh berkas gugatan kami” tegasnya. (John Pakage/ Timika)
Sumber : Tabloid Jubi

Artikel 