SATU pesawat tempur Sukhoi tambahan tiba di Pangkalan TNI AU (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, hari ini (17/1). Mesin dan sejumlah komponen pendukung di darat (ground support) pesawat buatan Rusia itu telah mendarat sehari sebelumnya. Komandan Skadron 11 Letkol Widyargo Ikoputro mengatakan, perakitan pesawat diperkirakan memakan waktu lima hari. "Akhir pekan depan sudah dapat uji terbang oleh pilot Rusia," katanya saat dihubungi Jurnal Nasional, Jumat (16/1).
Sebelumnya, 26 Desember lalu, dua Sukhoi telah tiba di Indonesia. Pesawat telah menjalani uji terbang dan dinyatakan layak. Iko menjelaskan, jika pesawat ketiga juga dinyatakan bagus, Rusia akan menyerahkan secara resmi pada Departemen Pertahanan (Dephan) sebagai wakil pemerintah Indonesia, pekan pertama Februari. Dephan selanjutnya menyerahkan ke Mabes TNI, kemudian pada TNI AU sebagai pengguna.
Indonesia memesan enam elang tempur dari Rosoboronexport itu saat pembukaan Pameran Kedirgantaraan Moskwa, 21 Agustus 2007. Dalam nota kesepahaman disebutkan nilai pembelian mencapai sekitar Rp3,6 triliun. Setelah hadir tiga pesawat, pesawat sisanya menyusul secara bertahap hingga 2010. "Dua pesawat akhir tahun ini, satu terakhir menyusul awal 2010," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Chaeruddin Ray.
Tiga pesawat yang pertama datang bertipe Sukhoi SU-30MK2 (kursi ganda). Tiga pesawat terakhir jenis SU-27SKM (berkursi tunggal). Enam pesawat tambahan ini melengkapi empat pesawat Sukhoi yang telah dimiliki TNI AU sejak September 2003. Seiring penambahan pesawat, matra udara akan menambah pilot pesawat berjuluk Flanker itu. "Idealnya, jumlah penerbang satu setengah kali jumlah pesawat," katanya. Artinya, pada 2010 setidaknya dibutuhkan 15 penerbang pesawat berjuluk Flanker itu. Mulai tahun depan pihaknya akan melakukan penjajakan terhadap beberapa penerbang tempur TNI AU seperti F-5E Tiger dan F-16 Fighting Falcon. Syaratnya, minimal telah mengantongi 200 jam terbang.
TNI AU tampaknya tak ingin main-main mencari pengawak pesawat canggih tersebut. Dari tujuh pilot yang ada, yakni Letkol Iko, Mayor Dedy Ilham, Mayor David Yohan Tamboto, Mayor Yosta Riza, Mayor Tonny Haryono, Mayor Untung Suropati, dan Letkol Andi Kustoro, semuanya sudah mengantongi lebih dari 2.000 jam terbang. Bahkan, Oktober lalu, empat penerbang Sukhoi juga telah menjalani simulasi Sukhoi di China guna memantapkan kemampuan pilot Sukhoi yang sudah ada.
Sumber : Jurnas Nasional
Satu Sukhoi Kembali Tiba di Indonesia
Sumber : Kompas
Satu pesawat jet tempur Sukhoi TNI Angkatan Udara (AU) tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Satu pesawat diterbangkan dari Rusia menggunakan pesawat angkut Antonov AH-124-100 dan tiba di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Sabtu, sekitar pukul 11.10 WIB. Demikian dikatakan Komandan Wing 5 Lanud Kolonel Pnb Arif Mustofa di Jakarta, Sabtu (17/1).
Kedatangan satu Sukhoi jenis SU-30MK2 itu disaksikan oleh Kepala Proyek Sukhoi TNI AU Kolonel Mahandono, Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama I Putu Dunia, Komandan Skuadron Udara 11 Letkol Pnb Iko Putra, dan Komandan Wing 5 Lanud Kolonel Pnb Arif Mustofa. Perusahaan Rusia penghasil pesawat tempur Sukhoi pada 21 Agustus 2007 mengumumkan penjualan enam pesawat tempur tersebut kepada Indonesia senilai sekitar 300 juta dollar AS (Rp 2,85 triliun).
Enam pesawat Sukhoi itu terdiri atas tiga Sukhoi SU-30MK2 dan tiga SU-27SKM, yang akan melengkapi empat pesawat Sukhoi yang telah dimiliki TNI AU sejak September 2003.
Dengan kedatangan satu pesawat Sukhoi SU-30MK2 tersebut, maka TNI AU kini telah memiliki tiga SU-30MK2 (dua unit telah tiba pada 26 Desember 2008) yang akan melengkapi empat Sukhoi yang sudah dimiliki TNI AU sejak September 2003. Penandatanganan nota kesepahaman pengadaan enam pesawat Sukhoi itu dilaksanakan pada 21 Agustus 2007. Pesawat tempur Sukhoi tersebut menggantikan peran pesawat A-4 Skyhawk dan berbasis di Skuadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hassanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Rencananya tiga unit Sukhoi SU-30MK2 akan diserahkan Pemerintah Rusia kepada Indonesia pada akhir Januari 2009, setelah ketiga pesawat menjalani serangkaian uji terbang dan dinyatakan siap untuk digunakan.


Artikel 