
Dari alokasi dana pembelian Pesawat Pilatus Porter dari Perusahaan Phylatus Swiss oleh Pemda Mimika dengan harga kontrak Rp 21 miliar, dan dari dana yang diplotkan senilai Rp 25 miliar, dinyatakan masih tersisa sekitar 3 miliar lebih dana.
Dari sisa dana selain harga kontrak pesawat, telah dilakukan pembelian berbagai sparpart atau suku cadang selama setahun operasi. Termasuk peralatan pendukung atau mobilisasi kegiatan operasional perusahaan PT. MImika Air. Sisa dana operasional ini diharapkan mampu membiayai perangkat atau bagian operasional guna melayani penerbangan komersial.
Kadishubpar melalui Kasubdin Perhubungan Udara Jhon Rettob menerangkan bahwa masih ada dua fase yang harus dulalui guna mendapatkan ijin operasional dari penerbangan udara, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Jakarta Pusat. Dua fase sebagai syarat operasional peswat yang dinamai “Amor” itu mash meliputi training lanjutan pilot termasuk teknisinya. Termasuk, masih adanya diinspeksi semua sistim operasi pesawat dan instrumen yang ada dalam pesawat, termasuk kantor atau perusahaan pengelola, bandara serta rute-rute yang di lalui. Bahkan personal kunci meliputi manager operasi atau mantan pilot, Chief Air Safety Officer (CASO) serta chief pilot dan chief engineernya sudah,” terang Jhon lagi.
Untuk itu, dengan semua persiapan sembari menunggu pemeriksaan dan pengujian dari Dirjen Perhubungan Udara Pusat pekan ini, dalam jangka waktu seminggu pengujian dan pemeriksaan, harap Jhon pada Bulan November 2008 lalu pesawat dengan kapasitas muat 8 orang itu sudah dapat dioperasikan.
Sementara itu, mengenai rute ke tiga wilayah yakni penerbangan ke Kokonao, Agimuga dan Jita, kata Jhon,ijin operasional Air Operate Certificate (AOC) 135 sudah dikantongi untuk proses operasionalnya. AOC 135, maksud Jhon untuk pesawat yang dioperasikan dengan kapasitas muat di bawah 50 penumpang. Satu hal yang menjadi kebanggaan pihaknya bahwa, Pemda MImika merupakan satu-satunya Pemda di seluruh Indonesia yang membeli pesawat pribadi dan dioperasikan oleh perusahaan daerah sendiri. “Ini beda dengan Pemda Merauke yang pesawatnya diinvestasikan saja dan di kelola oleh Merpati Nusantara Air Lines.
Termasuk Riau Air Lines, operasi penerbanganya oleh pihak Swasta dan pesawat yang di beli pun merupakan join antara beberapa Pemda,” tukas Jhon. (John Pakage/Timika)
Sumber : Tabloid Jubi


Artikel 