“Ada untung, itu kita bisa pakai untuk kebutuhan rumah tangga,” kata Mama Blandina, pencari Kepiting.
Blandina saban hari menempuh jalan setapak mencari Karaka (Kepiting menurut sebutan orang Asmat) di hutan Bakau dekat sungai –sungai besar di Merauke. Cara menangkapnya perlu kesabaran. Ia menggunakan umpan khusus dan kail. Kail terhubung dengan perangkap. “Ada yang saya jual, puluhan ribu, kalau lagi musim, ya harga bisa turun. Ada juga untuk dimakan, tapi sekarang cari kepiting agak susah,” ujarnya.
Dina mencari Kepiting di perairan rawa yang tenang. Bila capit kepiting terlihat, bisa langsung diambil menggunakan tangan. Tapi tentu dengan cara khusus. Salah menangkap, resikonya jari terluka. “Pakai kayu, tidak langsung memegang karena takut dicapit. Terus tahan kepiting menggunakan alat bantu,” katanya menjelaskan.
Kepiting perolehannya dijual di pertigaan jalan Ermasu Merauke. Disana, beberapa penjual kepiting menempati pondok-pondok kecil di pinggir jalan. Kepiting dibungkus dengan daun atau pelepah batang pisang. “Tapi kalau susah dapat, kita tidak jual. Ini untuk tambah-tambah bumbu dapur,” ujarny lagi.
Kepiting bakau merupakan salah satu makanan yang digemari oleh penikmat seafood. Rasanya gurih. Seni memakan kepiting yakni dengan memakai sendok atau tang untuk memecahkan cangkang. “Ini makanan sehat. Anak-anak bisa pintar,” kata Dina.
Urbanus Ndiken, tokoh masyarakat mengatakan, usaha lokal mencari kepiting dilakukan warga asli semenjak dulu. “Pemerintah sulit memberi bantuan modal kepada mereka, coba kalau ada penangkaran kepiting, pasti usaha mereka maju,” katanya.
Ia berharap pemerintah membantu usaha kecil di Merauke dengan alat tangkap atau memberi akses pasar. “Kalau hanya jual kecil-kecil, ya nanti begitu begitu saja, coba ada pendampingan, Mama mama itu bisa hidup lebih baik,” tukasnya. (JO/Jayapura)

Artikel 