Kita mungkin mengenal rumah pohon dalam cerita Tarzan. Padahal di daerah Papua , Indonesia, rumah di atas pohon itu benar-benar ada.
Hutan di Pulau Papua masih sangaaat luas. Di tengah hutan, biasanya tinggal sekelompok kecil masyarakat dari suku tertentu.
Salah satu suku yang tinggal di belantara Papua adalah sukuKorowai. Suku ini tinggal di suatu tempat di tengah hutan di wilayah Kabupaten Mappi, Papua bagian selatan.
Sebagian besar hutan di wilayah ini merupakan hutan dataran rendah yang memiliki banyak sungai. Hutan dan sungai ini membuat suku-suku yang tinggal di hutan terisolasi dengan orang luar.
Tahun 2010, pemerintah untuk pertama kalinya menyensus suku Korowai ini dalam data kependudukan Indonesia. Kenapa suku ini baru bisa disensus tahun 2010? Sebab, selain tempat tinggal mereka terpencar-pencar, untuk datang ke tempat mereka juga sangat sulit.
Berdasar data sensus, jumlah suku Korowai mencapai 2.868 jiwa. Mereka tidak hidup dalam satu kampung, melainkan hidup dalam rumah-rumah pohon. Jarak rumah pohon satu dengan rumah pohon lain terpencar jauh.
Rumah-rumah pohon mereka dibangun pada ketinggian 20 sampai 50 meter. Untuk memasuki rumah pohon ini, mereka harus naik menggunakan tangga.
Suku Korowai membuat rumah di atas pohon supaya aman dari bahaya binatang buas, gangguan suku lain, dan bahaya banjir.
Suku Korowai termasuk suku yang suka berpindah tempat tinggal atau nomaden. Tempat tinggal yang dipilih, biasanya hutan yang dekat dengan sungai, dekat dengan hutan sagu, tanahnya subur, dan tidak dalam wilayah kekuasaan suku lain.
Untuk membuat rumah pohon, mereka akan memilih pohon yang besar dan kuat sebagai tiang utama. Setelah menemukan pohon, mereka mengumpulkan bahan-bahan dan mulai membuat rumah secara bergotong-royong dengan melibatkan keluarga dekat.
Pekerjaan paling awal dalam membangun rumah pohon adalah membuat tangga untuk menaikkan gelondongan kayu kecil untuk kerangka rumah. Tahap berikutnya membuat lantai atau panggung di atas pohon untuk menumpuk bahan-bahan membuat rumah.
Di atas panggung, baru dibangun lantai rumah, untuk meletakkan tiang-tiang dan kerangka rumah dari batang-batang kayu yang diikat dengan serat kulit kayu.
Rumah pohon suku Korowai sangat alamiah. Semua bahannya dari alam. Semua kerangka dari batang kayu kecil-kecil dan lantainya dilapisi kulit kayu. Dinding dan atapnya menggunakan kulit kayu atau anyaman daun sagu. Untuk mengikat, semua menggunakan tali.
Barang logam, satu-satunya adalah parang atau kapak. Namun, bila tidak memiliki kapak logam, kapak batu pun biasa mereka gunakan.
Meskipun rumah mereka di atas pohon, hidup mereka lebih banyak dihabiskan di bawah. Rumah hanya digunakan untuk berlindung dan tempat untuk tidur di kala malam.
Pada pagi hari, anak-anak dibopong untuk dibawa turun dan diajarkan cara mengolah sagu dan berburu. Anjing peliharaan mereka juga dibopong turun untuk menemani mereka berburu.
Suku Korowai hidup dengan menggantungkan pada alam. Untuk mendapatkan karbohidrat untuk nasi, mereka mengolah sagu, menanam umbi-umbian, juga menanam pisang. Untuk memenuhi kebutuhan gizi, mereka menangkap ikan di sungai dengan bubu dan tombak, juga berburu hewan dengan panah.
Menjelang senja, keluarga suku Korowai satu-satu naik ke rumah pohon untuk istirahat dan merencanakan perburuan di hari esok.
Penulis: Sigit Wahyu, Sumber foto: flickr.com

Artikel 