Tidak tercatat adanya ekspor golongan lainnya bahkan yang ada perlambatan nilai ekspor yang memberikan sinyal telah masuknya dampak krisis global ke Papua,” ujar Kepala BPS Papua, Ir. JA. Djarot Soetanto, MM melalui keterangan pers kepada wartawan di Aula BPS Papua baru-baru ini.Dikatakannya, turunnya volume ekspor HS26 memberikan sinyal kepada Pemda Papua pada khususnya dan masyarakat Papua pada umumnya untuk mencari alternatif komoditas ekspor utama yang baru. Sebab HS03 yang nilai ekspornya terus mengalami peningkatan dapat dijadikan komoditas ekspor andalan Papua jika dikelola dan dikembangkan dengan serius.
Ia juga menggambarkan, untuk ekspor ke 5 negara pada Oktober 2008 lalu, turun signifikan sebesar 56,99 persen dibandingkan nilainya pada September 2008, yaitu dari 206,39 juta US$ menjadi hanya 88,77 juta US$.Penurunan ini disebabkan ekspor Papua pada Oktober 2008 hanya ditujukan ke 1 negara utama, yaitu Jepang sebesar 88,77 juta US$. Sementara ekspor ke negara lainnya, yang pada Oktober 2008 hanya terdiri atas negara India, juga turun 33,04 persen, dari 56,13 juta US$ menjadi 37,59 juta US$.
Sementara untuk nilai impor, lanjut Djarot, pada bulan Oktober 2008 nilainya ikut turun sebesar 38,85 persen dibandingkan nilainya pada Oktober 2008, yaitu dari 108,66 juta US$ menjadi 66,45 juta US$.Penurunan impor tersebut disebabkan oleh turun signifikannya impor migas sebesar 94,97 persen dibandingkan nilainya pada bulan sebelumnya, yaitu dari 50,90 juta US$ menjadi 2,56 juta US$.
Sumber : Papua Pos

Artikel 