Tiga bangunan utama, menurut Donny Lumingas, masih cukup megah dipandang dari luar. Tetapi di dalamnya terkesan kosong, tidak menunjukkan sama sekali identitas khas sebagai gedung bersejarah, karena banyak peralatan maupun ornamen asli telah hilang dari tempatnya, atau dimusnahkan, maupun entah dibawa ke mana.Hal senada dikatakan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kenly Poluan yang menilai, penanganan Situs Boven Digoel ini amat jauh berbeda dengan yang dialami situs lainnya, seperti bekas penjara Bung Karno di Bengkulu maupun rumah tahanan Sukamiskin, Bandung.
"Mestinya, sebagai bangsa yang tahu diri dan tidak lupa daratan, perlu perlakuan yang proporsional terhadap berbagai identitas masa lalu yang menentukan eksistensi negara, kini dan ke depan," tambah Kenly Poluan.Sementara itu, Wens Katukdoan (38), penduduk asli Boven Digoel yang ditugaskan pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, mengatakan, pihaknya hanya berharap biaya perawatan dari belas kasihan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boven Digoel."Ini kabupaten baru yang baru berdiri sendiri secara otonom sejak 2002. Jadi maklum saja, keadaannya masih perlu dibenahi. Memang ada bantuan dari pusat, tetapi jauh dari memadai," kata Wens Katukdoan, seorang pelukis otodidak yang baru sekitar dua bulan ini ditugaskan menjaga situs tersebut.
Wens Katukdoan yang pernah memamerkan hasil-hasil karya lukis khas Papuanya di Jepang itu kemudian mengharapkan pihak-pihak berwenang di Jakarta dapat mengembalikan sejumlah ornamen dan gambar-gambar serta foto tentang Situs Boven Digoel ke tempat asalnya."Saya punya bukti, banyak gambar dan ornamen dari sini di suatu tempat di Jakarta. Mohonlah itu dikembalikan ke sini, agar bisa dirawat dengan benar, karena di sinilah tempatnya," kata Wens Katukdoan. (*/rit)
Sumber : Kapan Lagi

Artikel 