Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya.
UPDATE!! Berita di Radar Merauke dapat dibaca langsung lewat Smartphone Android! Baca fiturnya DISINI atau Download aplikasinya disini : LINK Download Android RadarMeraukeCom.APK !!! Baca berita Via Opera Mini Atau Browser Handphone (Blackberry/Iphone/Symbian) : http://www.radarmerauke.com/?m=1 .

Thursday, 11 October 2012

Merengkuh asa atau menyabung nyawa? Nasib Infrastruktur dan Akses di Boven Digoel

Nurul, pemuda berumur tiga puluh tahunan, sedang sibuk mengisi oli kendaraannya. Orang tuanya berasal dari Lampung, hanya sejak tahun 70-an mereka sudah pindah ke Merauke sebagai transmigran pada saat itu. Sekarang Nurul bekerja di salah satu perusahaan besar yang bergerak di bidang transportasi. Setiap 3 sampai 4 kali dalam seminggu Nurul bolak-balik Merauke-Boven Digoel dengan kendaraannya. Kendaraan yang digunakan Nurul bukan mobil biasa. Mobilnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Dari mobil Daihatsu Taft Hiline diubah menjadi mobil four wheel drive yang garang. Dengan ban besar dan bergerigi, kaki-kaki mobil yang sudah diganti, memperlihatkan mobil Nurul siap untuk melakukan off road. Jalan Merauke ke Boven Digoel adalah jalan yang diliputi oleh tanah yang berwarna merah, berlumpur dengan lobang-lobang besar disana-sini. Jenis tanah tersebut akan semakin dalam dan berlobang bila dilewati kendaraan. Apalagi kendaraan yang lewat bukan kendaraan ringan tetapi truk truk berat. Kondisi diperparah dengan seringnya turun hujan. Air akan membasahi tanah yang membuat tanah berlumpur sehingga banyak mobil atau truk besar yang terjebak. “Perjalanan ke Boven Digoel biasanya bisa sampai 10-12 jam bila keadaan normal,” kata Nurul sambil mengisi oli kendaraannya.

Perjalanan bisa tersendat apabila ada kendaraan di depan yang terjebak sehingga mengakibatkan kemacetan panjang. Bila sudah terjadi, maka perjalanan bisa menghabiskan waktu 1 minggu! “Tunggu mobil di depan bisa lewat atau bisa saja menggunakan tali yang diikatkan ke pohon agar kita bisa naik ke atasnya, ya resiko kalau mobil terbalik,” ujarnya sambil tersenyum kecut. Wangsit Panglipur, seorang pekerja sosial di sana mengaku pernah harus menginap di tengah jalan karena medan yang semakin berat sehingga mobil jeep pun sudah tidak bisa lewat. “Mau tidak mau kami harus tidur di jalan, menunggu antrian kendaraan yang lewat dan hal ini biasa terjadi disini,” sahutnya.

Ada uang ada kenyamanan istilah tersebut sering dipakai oleh orang bila ingin menikmati perjalanan dengan nyaman dan mewah. Jangan harap hal itu berlaku di sana. “Untuk charter jeep Merauke-Boven Digoel pulang pergi itu 10 juta, kalau ke dari Boven Digoel ke distrik distrik terdekat itu sekitar 5 juta. Bisa lebih murah kalau ikut jeep penumpang artinya tinggal bayar 750 ribu saja,” terang Nurul. Jeep penumpang yang dimaksud Nurul adalah jeep yang melayani penumpang umum dengan jurusan yang sama. Satu kendaraan jeep berpenumpang 7 orang, artinya harga tersebut sama dengan harga satu kali charter jeep.


Kenyamanan? Jangan harap ada karena dengan jalan yang rusak parah maka penumpang seperti di kocok dalam mobil. Lupakan kenyamanan karena harus konsentrasi untuk menjaga nyawa sendiri. Saking beratnya medan, sudah beberapa kali jeep terbalik dan memakan korban. “Terakhir saya naik ke Langguan ibukota Distrik Ogenetan, karena medan licin dan jalan yang curam, kendaraan kami terbalik dan hampir masuk jurang,” ujar Riswanto, seorang fasilitator masyarakat yang sudah sejak tahun 1990 ada di Boven Digoel. Hanya masyarakat di Papua Selatan seperti di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi dan Asmat tidak memiliki pilihan. Transportasi menggunakan pesawat pun terbatas. Merpati adalah satu satunya maskapai penerbangan yang melayani penerbangan perintis ke daerah-daerah di Papua Selatan. Pilihan ini pun memiliki resiko yang besar, karena pesawat harus terbang diantara dua gunung yang diselimuti awan tebal. Hanya seringkali karena alasan operasional, mendadak penerbangan dibatalkan sehingga pilihan kembali jatuh ke transportasi darat. Harga tiket pesawat pun masih mahal sekitar 1,5 sampai 2 juta. Padahal penerbangan hanya dilakukan dalam 30 menit.

Demi usaha hidup, demi mencari penghidupan yang layak, semua hal akan ditempuh masyarakat yang tinggal di sana. Masyarakat Kampung Ogenetan perlu berjalan 3-5 jam untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka ke distrik tetangga. Hal ini memperlambat mobilitas masyarakat. Sulitnya akses transportasi menjadi momok yang menakutkan untuk mereka. Karena hal itulah bahan pokok mahal, kesejahteraan ekonomi masyarakat tersendat dan pembangunan tertinggal. Dengan mempertimbangkan akumulasi jumlah pelaku perjalanan seperti yang dialami oleh masyarakat di Maluku Tenggara Barat dan Papua Selatan, bisa dibayangkan berapa kerugian dan produktivitas ]yang hilang dari kondisi yang ditimbulkan oleh sulitnya akses transportasi.

Ketika sang ayah, Ibu, anak-anak berangkat, pasti selalu rasa cemas yang melingkupi hati. Melihat apa pun jenis transportasi yang mereka pilih, berarti mempertaruhkan nyawa mereka demi harapan-harapan dan kebutuhan yang harus dipenuhi.


Masalah sulitnya akses transportasi sebenarnya sudah menjadi masalah klasik untuk negara ini. Di Indonesia, khususnya di Kawasan Timur Indonesia, masalah ini sepertinya selalu menjadi perhatian setiap orang, baik praktisi, pelaku pembangunan bahkan pemerintah pusat dan daerah, namun tidak ada solusi yang baik dan menjawab kebutuhan masyarakat. Pembiayaan infrastruktur khususnya untuk jalan raya adalah salah satu masalah klasik yang sampai sekarang tidak terpecahkan. Contohnya jalan trans Papua di Papua Selatan. Mahalnya batu sebagai lapisan jalan raya membuat jalan disana dibuat dengan lapisan pasir dan aspal saja, sehingga ruas jalan yang sudah selesai cepat rusak sedangkan jalan yang baru dibuka belum selesai dikerjakan. Hal ini terjadi bertahun tahun terjadi sampai sekarang sehingga jalan trans Papua tidak pernah selesai pengerjaannya. Rencana pengembangan transportasi seperti di Papua pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bila hanya melihat aspek finansial yang tidak menguntungkan, maka aspek pengembangan ekonomi yang padahal memberikan manfaat sangat besar untuk masyarakat akan terus terabaikan.

Otonomi dan keadaan politik di daerah seringkali juga menyumbang masalah yang cukup pelik. Keadaan politik yang tidak menentu bisa mempengaruhi perkembangan pembangunan. Otonomi daerah telah memberikan kewenangan yang besar kepada pemerintah daerah untuk melakukan pembangunan. Dalam proses pelaksanaanya, peraturan dan kebijakan serta rencana pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten tidak selaras. Hal ini perlu dirubah sehingga ada tata ulang tugas dan kewenangan pemerintah pusat dan daerah agar perencanaan menjadi lebih baik. Keadaan politik membuat pembangunan ikut tersendat.

Solusi permasalahan transportasi di daerah khususnya Kawasan Timur Indonesia sebenarnya sudah ada dan sudah banyak yang ditawarkan serta dipresentasikan dimana-mana. Bahkan studi dan kajian mengenai hal ini pun sudah cukup banyak. Diperlukan keberanian dari setiap pelaku pembangunan baik itu individu, kelompok dan pemerintah untuk melakukan terobosan yang nyata bukan hanya perencanaan belaka. Ketika dalam tengah perjalanan antara Merauke dan Boven Digoel, ada guyonan dari salah satu penumpang jeep yang menyatakan bahwa ia perlu ‘super hero’ pada saat melakukan perjalanan ini. ‘Super hero’ ini mampu membawanya ke tempat tujuan lebih cepat , dalam sekejap mata, tanpa ada siksaan dan ketidaknyamanan. “Semua cepat, nyaman dan aman tanpa takut jiwa melayang,” ujarnya sambil sumringah. Sebenarnya ‘super hero’ yang dibutuhkan bisa muncul dari keberanian semua pemangku kepentingan dalam pembangunan untuk melakukan terobosan yang nyata dan berani untuk membuat perubahan yang berarti. (*stv)
Share on :
Silahkan berikan komentar melalui Facebook. Jangan lupa login dulu melalui akun facebook anda. Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan radarmerauke.com dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Ditulis Oleh : ~ Portal Berita Merauke

Artikel Merengkuh asa atau menyabung nyawa? Nasib Infrastruktur dan Akses di Boven Digoel ini diposting oleh Portal Berita Merauke pada hari Thursday, 11 October 2012. Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Copyright berita dalam site ini milik pemilik berita: Kompas, Cenderawasihpos, Tabloid Jubi, Jaringan Pasificpost, Infopublik, Jaringan JPNN dll. Radar Merauke adalah web personal yang merangkum berita dari berbagai media.
 
© Copyright RadarMerauke.com | Portal Berita Merauke @Since 2008 - 2013 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Owner Template | Published by Owner Template and Owner
WWW.RADARMERAUKE.COM - PORTAL BERITA MERAUKE
( www.radarmerauke.me | www.radarmerauke.asia | Email : radarmerauke@gmail.com | radarmerauke@yahoo.com )

Radar Merauke menyajikan informasi terkini tentang berbagai peristiwa yang terjadi di kota Merauke dan wilayah Papua Selatan umumnya. Copyright berita dalam site ini milik pemilik berita: Kompas, Bintang Papua, Cenderawasihpos, Tabloid Jubi, Jaringan Pasificpost, Infopublik, suluhpapua, Jaringan JPNN dll. Radar Merauke adalah web personal yang merangkum berita dari berbagai media.