Merauke (5/10)— Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke mengecam sikap pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Merauke yang melakukan ancaman untuk aksi mogok, setelah adanya kebijakan dari pemerintah setempat melakukan pembayaran gaji para guru secara manual. Seandai ada aksi mogok, maka sikap itu sangatlah disayangkan.
“Baru satu atau dua hari kebijakan untuk pembayaran gaji secara manual dan tidak melalui rekening lagi, langsung disikapi oleh para guru yang tergabung dalam PGRI. Sementara, apakah para guru mempunyai hati nurani dengan anak-anak di pedalaman yang bertahun-tahun tidak pernah mendapatkan kesempatan dididik secara baik,” tegas Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Merauke, Dominikus Ulukyanan yang ditemui tabloidjubi.com diruang kerjanya, Jumat (5/10).
Dijelaskan, gebrakan besar yang dilakukan Bupati Merauke, Drs. Romanus Mbaraka, MT itu, semata-mata untuk menata kembali semua guru agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik. “Sebagai dewan, saya meminta para guru untuk kembali ke tempat tugas masing-masing sambil dilakukan penataan sekaligus mengetahui dimana letak kebuntuannya,” pinta dia.
Dia juga akan membangun komunikasi dengan wadah PGRI agar para guru bisa datang sekaligus dilakukan audiens. Karena dengan begitu, akan banyak hal yang dibeberkan terkait masalah pendidikan. “Saya juga dari latar belakang seorang guru dan mengetahui secara pasti dan jelas akan potret pendidikan di negeri ini terutama di kampung-kampung,” tandasnya. (Jubi/Ans)
“Baru satu atau dua hari kebijakan untuk pembayaran gaji secara manual dan tidak melalui rekening lagi, langsung disikapi oleh para guru yang tergabung dalam PGRI. Sementara, apakah para guru mempunyai hati nurani dengan anak-anak di pedalaman yang bertahun-tahun tidak pernah mendapatkan kesempatan dididik secara baik,” tegas Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Merauke, Dominikus Ulukyanan yang ditemui tabloidjubi.com diruang kerjanya, Jumat (5/10).
Dijelaskan, gebrakan besar yang dilakukan Bupati Merauke, Drs. Romanus Mbaraka, MT itu, semata-mata untuk menata kembali semua guru agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik. “Sebagai dewan, saya meminta para guru untuk kembali ke tempat tugas masing-masing sambil dilakukan penataan sekaligus mengetahui dimana letak kebuntuannya,” pinta dia.
Dia juga akan membangun komunikasi dengan wadah PGRI agar para guru bisa datang sekaligus dilakukan audiens. Karena dengan begitu, akan banyak hal yang dibeberkan terkait masalah pendidikan. “Saya juga dari latar belakang seorang guru dan mengetahui secara pasti dan jelas akan potret pendidikan di negeri ini terutama di kampung-kampung,” tandasnya. (Jubi/Ans)

Artikel 