Merauke – Masyarakat Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke mengeluh dengan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) didaerah itu. Karena ketika sampai di pelabuhan dan dibongkar, dalam sekejap habis diborong oknum pejabat dari Kota Merauke.
Tokoh Pemuda Kimaam, Hilarius Ayeri yang ditemui di Kimaam menuturkan, dalam tiga bulan sekali, BBM baik bensin, solar maupun minyak tanah yang masuk ke Distrik Kimaam mencapai 15-20 ton. Hanya saja, ketika warga datang ke agen untuk membeli satu atau dua liter, selalu diperoleh jawaban jika sudah habis.
Dengan kelangkaan tersebut, demikian Hilarius, masyarakat mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas. Terkadang di beberapa kios dititip juga terutama bensin dengan harga bisa mencapai Rp20.000. “Nah, BBM dimaksud kan subsidi dan mestinya harus dibeli oleh masyarakat yang tidak mampu,” katanya.
Dia berharap pemerintah Merauke mendengarkan keluhan warga. Sehingga kedepan, kuota yang ada, bisa didapatkan oleh masyarakat. “Jangan hanya oknum-oknum tertentu saja yang membeli dalam jumlah banyak,” pungkasnya. (FR/Merauke)
Tokoh Pemuda Kimaam, Hilarius Ayeri yang ditemui di Kimaam menuturkan, dalam tiga bulan sekali, BBM baik bensin, solar maupun minyak tanah yang masuk ke Distrik Kimaam mencapai 15-20 ton. Hanya saja, ketika warga datang ke agen untuk membeli satu atau dua liter, selalu diperoleh jawaban jika sudah habis.
Dengan kelangkaan tersebut, demikian Hilarius, masyarakat mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas. Terkadang di beberapa kios dititip juga terutama bensin dengan harga bisa mencapai Rp20.000. “Nah, BBM dimaksud kan subsidi dan mestinya harus dibeli oleh masyarakat yang tidak mampu,” katanya.
Dia berharap pemerintah Merauke mendengarkan keluhan warga. Sehingga kedepan, kuota yang ada, bisa didapatkan oleh masyarakat. “Jangan hanya oknum-oknum tertentu saja yang membeli dalam jumlah banyak,” pungkasnya. (FR/Merauke)

Artikel 