Hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pertanian dari Loka penelitian penyakit tungro Sidrep Sulawesi Selatan terhadap sejumlah areal pertanian di Distrik Tanah Miring, Kurik dan Semangga ditemui bahwa tiga daerah tersebut berpotensi sebagai penghasil beras.
Namun sayangnya, lahan yang ada sangat riskan terhadap penyakit tungro. Untuk mengantisipasi tungro, maka antisipasi yang dapat dilakukan adalah memberikan pengetahuan yang tepat kepada petani tentang apa sebenarnya tungro dan bagaimana mengatasinya.
Demikian disampaikan Ir Adolf Bastian peneliti penyakit tungro dari loka penelitian Sidrep Sulawesi Selatan ketika menyampaikan hasil temuannya kepada petugas PPL Pertanian dan segenap staf Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, bertempat di ruang rapat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, Sabtu (17/1). “Dari konsultasi dan bicara langsung dengan petani di lapangan memang sama sekali mereka belum mengetahui tungro itu apa dan penyebabnya apa.
Petugas PPL yang berada dilapangan perlu mengetahui apa sebenarnya itu tungro. Jadi sebelum kita memberikan perhatian pada petani, kita harus terlebih dahulu mengetahui tungro itu apa. Ini yang tidak sampai ke petani,karena umumnya petani di lapangan tidak punya pengetahuan tentang tungro, dan petani sama sekali tidak bergairah untuk menyelesaikan masalah penyakit tungro ini,” terang Bastian panjang lebar.
Menurut penelitian yang dilakukan, tungro sebenarnya disebabkan oleh virus yang kemudian dibawa oleh hama wereng hijau sebagai fektor utama penyebaran virus tungro yang menyebabkan banyaknya lahan di Kabupaten Merauke yang mengalami puso di tahun 2008. Untuk metode penanggulangannya hanya dapat dilakukan dengan fluktuasi populasi. “Untuk mengontrol, kalau bisa dibuat petakan yang luasnya 20 x 10 : 6 petakan dengan catatan setiap bulan kita harus menanam. Dan kita pilih harus yang peka varietasnya, setelah itu setiap minggu kita melakukan feednet untuk mengontrol populasi wereng hijau. Jadi setiap bulan akan dikontrol.
Sesudah itu dalam grafik permusim, setiap bulan akan diketahui grafik fluktuasi populasi wereng hijau pada bulan tertentu misalnya april atau maret. Apa saja yang diketahui melalui hasil kontrol itulah gambaran untuk menentukan waktu tanam. Jadi kita membuat semacam demplot kontrol untuk membaca populasi sekaligus membaca intensitas serangan dilapangan.
Dengan cara ini, kita dapat menginformasikan ke petani kapan kita bisa menanam. Jadi pola penanggulangan tungro sangat tergantung dari pola fluktuasi”, tuturnya sembari menyarankan agar PPL Pertanian lebih giat dilapangan melakukan pengontrolan pertanian. (drie/Merauke)
Sumber : Tabloid Jubi
Namun sayangnya, lahan yang ada sangat riskan terhadap penyakit tungro. Untuk mengantisipasi tungro, maka antisipasi yang dapat dilakukan adalah memberikan pengetahuan yang tepat kepada petani tentang apa sebenarnya tungro dan bagaimana mengatasinya.
Demikian disampaikan Ir Adolf Bastian peneliti penyakit tungro dari loka penelitian Sidrep Sulawesi Selatan ketika menyampaikan hasil temuannya kepada petugas PPL Pertanian dan segenap staf Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, bertempat di ruang rapat Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Merauke, Sabtu (17/1). “Dari konsultasi dan bicara langsung dengan petani di lapangan memang sama sekali mereka belum mengetahui tungro itu apa dan penyebabnya apa.
Petugas PPL yang berada dilapangan perlu mengetahui apa sebenarnya itu tungro. Jadi sebelum kita memberikan perhatian pada petani, kita harus terlebih dahulu mengetahui tungro itu apa. Ini yang tidak sampai ke petani,karena umumnya petani di lapangan tidak punya pengetahuan tentang tungro, dan petani sama sekali tidak bergairah untuk menyelesaikan masalah penyakit tungro ini,” terang Bastian panjang lebar.
Menurut penelitian yang dilakukan, tungro sebenarnya disebabkan oleh virus yang kemudian dibawa oleh hama wereng hijau sebagai fektor utama penyebaran virus tungro yang menyebabkan banyaknya lahan di Kabupaten Merauke yang mengalami puso di tahun 2008. Untuk metode penanggulangannya hanya dapat dilakukan dengan fluktuasi populasi. “Untuk mengontrol, kalau bisa dibuat petakan yang luasnya 20 x 10 : 6 petakan dengan catatan setiap bulan kita harus menanam. Dan kita pilih harus yang peka varietasnya, setelah itu setiap minggu kita melakukan feednet untuk mengontrol populasi wereng hijau. Jadi setiap bulan akan dikontrol.
Sesudah itu dalam grafik permusim, setiap bulan akan diketahui grafik fluktuasi populasi wereng hijau pada bulan tertentu misalnya april atau maret. Apa saja yang diketahui melalui hasil kontrol itulah gambaran untuk menentukan waktu tanam. Jadi kita membuat semacam demplot kontrol untuk membaca populasi sekaligus membaca intensitas serangan dilapangan.
Dengan cara ini, kita dapat menginformasikan ke petani kapan kita bisa menanam. Jadi pola penanggulangan tungro sangat tergantung dari pola fluktuasi”, tuturnya sembari menyarankan agar PPL Pertanian lebih giat dilapangan melakukan pengontrolan pertanian. (drie/Merauke)
Sumber : Tabloid Jubi

Artikel 